PT Pupuk Indonesia (Persero) terus memperkuat hilirisasi industri melalui pembangunan pabrik Soda Ash dan Amonium Klorida di Petrokimia Gresik, Jawa Timur. (Dok/Istimewa).
Tak hanya mengurangi impor, proyek Soda Ash dan Amonium Klorida Petrokimia Gresik juga dirancang untuk mendukung pengurangan emisi karbon melalui pemanfaatan sekitar 174.000 ton karbon dioksida (CO2) per tahun dari proses produksi pupuk.
Karbon dioksida tersebut akan dimanfaatkan sebagai bahan baku dalam proses produksi Soda Ash.
"Langkah ini sekaligus menjadi bagian dari transformasi hijau Pupuk Indonesia melalui upaya dekarbonisasi bertahap untuk mencapai target Net Zero Emission (NZE) pada 2060," kata dia.
Rahmad mengatakan, pemanfaatan teknologi rendah karbon diharapkan tidak hanya memberikan manfaat bagi lingkungan, tetapi juga menghasilkan nilai ekonomi bagi industri nasional.
Petrokimia Gresik sebelumnya telah menguji teknologi Carbon Capture and Utilization (CCU) melalui fasilitas pilot plant. Teknologi tersebut digunakan untuk menangkap dan mengolah CO2 dari proses industri menjadi Soda Ash.
Hasil pengujian mencatat tingkat efisiensi penangkapan CO2 mencapai 91,48 persen hingga 97,79 persen. Capaian ini menunjukkan potensi pemanfaatan teknologi CCU untuk mengolah emisi karbon menjadi bahan baku produk kimia bernilai tambah.
Selain di Gresik, Pupuk Indonesia juga tengah membangun pabrik Soda Ash melalui PT Pupuk Kalimantan Timur (Pupuk Kaltim) di Bontang, Kalimantan Timur.
Kedua proyek tersebut dirancang memiliki kapasitas produksi gabungan sebesar 600 ribu ton Soda Ash per tahun. Jumlah tersebut setara dengan sekitar 60 persen kebutuhan impor Soda Ash nasional.
Jika kedua pabrik beroperasi penuh, Pupuk Indonesia memperkirakan proyek tersebut dapat menekan ketergantungan impor dan menghemat devisa sekitar Rp2 triliun per tahun.