Purbaya Jamin Kenaikan Harga BBM Nonsubsidi Tak Dongkrak Inflasi

- Purbaya Yudhi Sadewa memastikan kenaikan harga BBM nonsubsidi tidak akan memicu inflasi karena pemerintah tetap menahan harga BBM bersubsidi demi menjaga daya beli masyarakat.
- Pemerintah menilai kelompok masyarakat berpenghasilan tinggi seharusnya membeli BBM nonsubsidi, sebab selama ini mereka turut menikmati porsi besar dari subsidi yang mestinya ditujukan bagi masyarakat kecil.
- Pertamina resmi menaikkan harga Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex mulai 18 April 2026 sesuai regulasi Kementerian ESDM, dengan penyesuaian berdasarkan harga minyak global dan nilai tukar rupiah.
Jakarta, IDN Times - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menjamin kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi tidak akan memicu lonjakan inflasi.
Pemerintah tetap mempertahankan harga BBM bersubsidi agar inflasi tetap terkendali. Strategi tersebut, lanjutnya, dilakukan demi menjaga daya beli masyarakat sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi melalui manajemen kas yang lebih baik.
"Waktu minyak dunia naik cuma kita nih yang nggak naikin. Sekarang naik tapi yang nonsubsidi, yang subsidi kan nggak naik kan tetap. Jadi inflasinya bisa dikendalikan," kata Purbaya di Kantor Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Jakarta, Selasa (21/4/2026).
1. Anggap wajar kelompok mampu bayar harga lebih tinggi

Purbaya menegaskan selama ini masyarakat kelas atas, yakni kelompok desil 8, 9, dan 10, tercatat menikmati hampir 30 persen dari total subsidi BBM yang digelontorkan pemerintah.
Oleh sebab itu, menurutnya, sudah semestinya kelompok masyarakat yang mampu membayar harga yang lebih tinggi, yakni dengan tidak membeli BBM subsidi. Mereka selayaknya membeli BBM nonsubsidi yang harganya memang lebih mahal.
"Kan itu orang mampu ya biar aja. Kalau kita hitung dari subsidi lain mereka udah harusnya kan subsidi untuk masyarakat kecil kan. Dari subsidi macam-macam itu mereka udah menikmati terlalu banyak," ungkapnya.
2. Respons soal potensi kebocoran BBM bersubsidi

Menyinggung potensi perpindahan konsumen ke BBM bersubsidi, Purbaya menyatakan penanganan teknis hal tersebut menjadi kewenangan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) khususnya terkait pembatasan kendaraan berdasarkan kapasitas mesin atau CC.
Meski mengakui adanya kemungkinan kebocoran di lapangan, Purbaya optimistis kondisi tersebut masih bisa dikendalikan selama tidak terjadi secara masif.
"Saya enggak tahu itu detailnya. Tapi saya asumsikan pasti ada kebocoran sedikit tapi selama bisa dikendalikan ya enggak apa-apa. Selama enggak gede-gede amat saya rasa sih bisa dikendalikan," paparnya.
3. Pertamina menaikkan harga Pertamax Turbo

PT Pertamina (Persero) menaikkan harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex mulai Sabtu (18/4/2026). Kenaikannya pun berbeda di masing-masing daerah.
Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron menjelaskan alasan kenaikan hanya pada ketiga jenis BBM nonsubsidi tersebut. Menurutnya, penyesuaian harga telah sesuai dengan ketentuan pemerintah yang tertuang dalam Keputusan Menteri ESDM No. 245.K/MG.01/MEM.M/2022.
Kenaikan harga BBM nonsubsidi telah mempertimbangkan kondisi global, mulai dari pergerakan harga minyak minyak Internasional, hingga kurs rupiah terhadap dolar AS.
"Penyesuaian harga BBM nonsubsidi mengacu pada Kepmen ESDM, dan keputusan penyesuaian harga hanya berlaku pada Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex," ujarnya, Sabtu (18/4/2026).

















