RI Bakal Impor Minyak dari Rusia usai Trump Beri Sinyal Relaksasi?

- Donald Trump mempertimbangkan pelonggaran sanksi minyak terhadap Rusia demi menekan lonjakan harga energi global yang dipicu konflik AS-Israel dan Iran.
- Pemerintah Indonesia membuka peluang impor minyak dari Rusia jika relaksasi sanksi benar terjadi, namun keputusan akhir tetap berada di tangan Pertamina.
- Pelonggaran sanksi diperkirakan menambah pasokan minyak dunia, sementara AS juga memberi dispensasi bagi India untuk membeli minyak Rusia guna mencegah krisis energi lebih parah.
Jakarta, IDN Times - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dikabarkan tengah mengkaji opsi pelonggaran sanksi minyak terhadap Rusia. Langkah itu diambil sebagai upaya meredam lonjakan harga minyak mentah dunia akibat konflik bersenjata antara AS-Israel dengan Iran.
Gedung Putih khawatir kenaikan harga energi akan membebani konsumen AS dan memengaruhi perolehan suara Partai Republik pada pemilu paruh waktu November 2026.
Trump menyatakan, pemerintahannya mulai mencabut sanksi terhadap sejumlah negara untuk menstabilkan pasar. Meski tidak merinci detail teknisnya, dia menegaskan kebijakan itu merupakan langkah darurat hingga jalur perdagangan internasional kembali kondusif.
"Jadi, kami memberlakukan sanksi terhadap beberapa negara. Kami akan mencabut sanksi tersebut sampai Selat Hormuz dibuka," katanya, dilansir CNN, Jumat (13/3/2026).
1. Indonesia minat buka peluang impor minyak dari Rusia?

Menanggapi wacana pelonggaran sanksi global tersebut, Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung menyatakan pemerintah membuka peluang untuk mengalihkan sumber impor minyak dari Rusia.
Namun, keputusan tersebut sepenuhnya berada di tangan PT Pertamina (Persero) sebagai kepanjangan tangan pemerintah. Hal itu tentunya tetap mempertimbangkan faktor keuntungan bisnis.
"Itu kan keputusan bisnis itu nanti sama Pertamina. Jadi mana yang lebih menguntungkan, sepanjang ada relaksasi ya tentu ya kita akan memanfaatkan proses itu," tuturnya.
Meski demikian, Yuliot menegaskan hingga saat ini pemerintah belum melakukan kajian khusus maupun koordinasi teknis terkait peluang impor minyak dari Rusia.
2. Pelonggaran sanksi terhadap Rusia bakal dongkrak pasokan

Pelonggaran sanksi terhadap Rusia diprediksi bakal mendongkrak pasokan minyak mentah global di tengah kemacetan distribusi dari Timur Tengah. Namun, langkah tersebut menjadi buah simalakama bagi AS.
Di satu sisi, pasokan tambahan sangat dibutuhkan untuk menambal defisit akibat konflik Iran, namun di sisi lain hal tersebut bisa memperlonggar tekanan ekonomi terhadap Rusia atas perang di Ukraina.
Trump mengklaim telah menjalin komunikasi yang intens dengan Presiden Rusia Vladimir Putin. Dia menyebut percakapan tersebut berlangsung positif, terutama dalam membahas upaya penyelesaian konflik di Ukraina yang telah berlangsung selama empat tahun terakhir.
3. Upaya pemulihan jalur distribusi energi

Para analis menilai Gedung Putih memiliki opsi terbatas untuk menekan harga selain memulihkan arus kapal tanker di Selat Hormuz. Jalur krusial tersebut saat ini terhambat akibat meluasnya konflik Iran.
Sebagai langkah awal, AS telah menerbitkan dispensasi sementara bagi India untuk membeli kargo minyak Rusia. Ke depan, opsi relaksasi serupa kemungkinan akan diperluas ke negara lain guna mencegah krisis energi global yang lebih dalam.


















