Harga Minyak Melonjak, Trump Buka Opsi Cabut Sanksi Rusia

- Harga minyak dunia melonjak hingga 119 dolar AS per barel akibat konflik di Timur Tengah, memicu kekhawatiran global dan tekanan ekonomi di Amerika Serikat.
- Pemerintahan Trump mempertimbangkan mencabut sebagian sanksi terhadap Rusia agar pasokan minyak meningkat dan harga energi bisa lebih stabil menjelang pemilu paruh waktu.
- Gedung Putih juga meninjau opsi lain seperti intervensi pasar, penghapusan pajak federal, serta koordinasi dengan negara G7 untuk melepas cadangan minyak strategis.
Jakarta, IDN Times - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dilaporkan tengah mempertimbangkan untuk mencabut sebagian sanksi minyak terhadap Rusia. Langkah ini muncul di tengah lonjakan harga minyak dunia dipicu konflik yang semakin memanas di Timur Tengah.
Harga minyak global tercatat melonjak hingga mencapai 119 dolar AS per barel pada Senin (9/3/2026). Angka tersebut merupakan level tertinggi sejak Juli 2022, menyusul eskalasi perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran.
Dikutip dari CNN, Selasa (10/3/2026), Gedung Putih sedang menimbang sejumlah opsi untuk meredam lonjakan harga energi tersebut. Salah satu opsi yang dipertimbangkan adalah memberi kelonggaran bagi sejumlah negara untuk membeli minyak Rusia tanpa menghadapi sanksi dari Amerika Serikat.
Langkah tersebut mencerminkan kekhawatiran pemerintah AS bahwa lonjakan harga minyak dapat berdampak buruk bagi konsumen dan dunia usaha di dalam negeri, terutama menjelang pemilihan umum paruh waktu pada November.
1. Opsi izinkan AS beli minyak dari Rusia

Salah satu skenario yang tengah dipertimbangkan pemerintahan Trump adalah mengizinkan negara-negara tertentu tetap membeli minyak Rusia tanpa khawatir akan hukuman dari Washington. Langkah ini dinilai dapat menambah pasokan minyak global yang saat ini terganggu akibat konflik di Timur Tengah.
Namun, kebijakan tersebut juga berpotensi menimbulkan dilema bagi pemerintah AS. Pelonggaran sanksi terhadap Rusia dapat memperbesar pendapatan Moskow, yang selama ini berusaha ditekan oleh Washington terkait perang di Ukraina.
Trump sempat menyampaikan kemungkinan pencabutan sanksi terhadap sejumlah negara sebagai bagian dari upaya menstabilkan pasar energi global.
“Kami memberlakukan sanksi terhadap beberapa negara. Kami akan mencabut sanksi tersebut sampai Selat Hormuz dibuka,” kata Trump kepada wartawan di Florida.
Dalam kesempatan yang sama, Trump juga mengatakan telah melakukan “percakapan yang sangat baik” dengan Presiden Rusia Vladimir Putin terkait perang di Ukraina.
2. Selat Hormuz jadi faktor utama

Lonjakan harga minyak dunia saat ini berkaitan erat dengan situasi di Selat Hormuz, jalur strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan laut lepas. Selat yang terletak di antara Iran dan Oman tersebut menjadi jalur penting bagi sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
Ketegangan di kawasan meningkat setelah Iran menutup Selat Hormuz menyusul serangan yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari.
Gedung Putih sebelumnya sempat merencanakan pengawalan kapal tanker di jalur tersebut untuk memulihkan arus distribusi minyak. Namun, upaya tersebut dinilai belum berhasil meningkatkan lalu lintas kapal secara signifikan.
Salah satu sumber yang terlibat dalam pembahasan kebijakan di Gedung Putih mengatakan pilihan yang tersedia untuk menekan harga minyak cukup terbatas.
“Masalahnya adalah pilihan yang tersedia berkisar dari yang marginal, simbolis, hingga sangat tidak bijaksana,” kata sumber tersebut.
3. Harus bisa redam harga energi

Selain mempertimbangkan pelonggaran sanksi terhadap Rusia, pemerintah AS meninjau sejumlah opsi lain untuk meredam lonjakan harga minyak. Beberapa langkah yang sedang dibahas antara lain intervensi pada pasar berjangka minyak, penghapusan sebagian pajak federal, serta pencabutan ketentuan dalam Undang-Undang Jones.
Aturan dalam Undang-Undang Jones selama ini mewajibkan pengangkutan bahan bakar domestik menggunakan kapal berbendera Amerika Serikat. Di sisi lain, Washington juga mempertimbangkan kemungkinan pelepasan cadangan minyak mentah milik negara-negara G7 ke pasar global.
Menteri Energi AS Chris Wright mengonfirmasi pemerintah sedang mengkaji koordinasi dengan negara-negara G7 terkait penjualan minyak dari cadangan strategis.
Sementara itu, Gedung Putih telah meminta sejumlah lembaga federal untuk menyiapkan proposal kebijakan yang dapat membantu mengurangi tekanan terhadap harga minyak mentah dan bensin di pasar domestik. Pembahasan tersebut disebut melibatkan Kepala Staf Gedung Putih Susie Wiles serta penasihat utama Stephen Miller.


















