- Ringgit Malaysia menguat 0,06 persen
- Bath Thailand menguat 0,26 persen
- Yuan China menguat 0,01 persen
- Rupee India menguat 0,11 persen
- Pesso Filipina menuat 0,18 persen
- Won Korea menguat 0,05 persen
- Dolar Taiwan menguat 0,28 persen
- Yen Jepang menguat 0,05 persen
Rupiah Berhasil Menguat Seharian, Ditutup ke Rp17.138 per Dolar AS

- Rupiah ditutup menguat ke Rp15.138 per dolar AS, naik 0,55 persen dibanding penutupan sebelumnya menurut data Bloomberg.
- Seluruh mata uang Asia turut menguat terhadap dolar AS, menunjukkan tren positif di kawasan meski penguatan rupiah masih terbatas.
- Investor tetap berhati-hati karena situasi geopolitik Timur Tengah, namun pasar menanti penyelesaian konflik yang bisa menstabilkan nilai tukar regional.
Jakarta, IDN Times - Nilai tukar atau kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bertahan menguat hingga akhir perdagangan Kamis (16/4/2026) soore. Rupiah tercatat menguat ke level Rp17.138 per dolar AS per dolar AS.
Berdasarkan data Bloomberg, mata uang Garuda menguat tipis 4,50 poin atau 0,55 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya. Rupiah pada perdagangan Rabu (15/4) parkir di level Rp17.143 per dolar AS.
1. Mata uang di Asia kompak menguat
Lebih rinci, rupiah tidak menguat sendirian karena semua mata uang di kawasan Asia ikut menguat terhadap dolar AS, beberapa di antaranya:
2. Investor berhati-hati akibat gejolak Timur Tengah
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong mengatakan penguatan rupiah terhadap dolar AS masih bergerak terbatas.
Meski sentimen global cenderung positif seiring harapan perdamaian di Timur Tengah, sentimen domestik masih relatif lemah. Hal ini membuat investor berhati-hati dan cenderung menghindari rupiah, terutama karena situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah yang masih dinamis.
3. Sentimen dari penyelesaian konflik Timur Tengah ditunggu pasar
Sementara itu, sentimen eksternal tetap mendukung mata uang regional. Apalagi, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa konflik dengan Iran hampir mencapai titik akhir dan membuka kemungkinan pembicaraan ulang di Pakistan, yang turut menenangkan pasar global.
Hal ini diharapkan dapat memberikan dorongan bagi stabilitas pasar valuta asing di kawasan Asia.


















