Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Rupiah Ditutup Melemah ke Rp18.111 per Dolar AS
Ilustrasi Dolar AS dan Rupiah (Pexels.com)

Jakarta, IDN Times - Pergerakan nilai tukar rupiah atau kurs rupiah ditutup melemah pada akhir perdagangan Kamis (30/7/2026) sore. Mata uang Garuda parkir di level 18.111 per dolar Amerika Serikat (AS).

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup melemah 38 poin atau 0,21 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.

1. Mayoritas mata uang di Asia melemah sore ini

Mayoritas mata uang di Asia bergerak melemah sore ini, ini rinciannya:

  • Bath Thailand melemah 0,62 persen

  • Ringgit Malaysia melemah 0,07 persen

  • Rupee India melemah 0,06 persen

  • Pesso Filipina melemah 0,28 persen

  • Dolar Taiwan melemah 0,28 persen

  • Dolar Singapura melemah 0,15 persen

2. Ketegangan geopolitik Timur Tengah meningkat

Pengamat ekonomi, mata Uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menjelaskan pelemahan rupiah disebabkan meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan sikap bank sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve/The Fed) yang masih mempertahankan kebijakan moneter ketat. Kombinasi kedua faktor tersebut mendorong pelaku pasar mengalihkan dana ke aset-aset yang dianggap lebih aman, sehingga memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

"Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Rabu mengancam akan melancarkan serangan terhadap Iran dengan "sangat keras" menyusul serangan rudal Iran terhadap pangkalan militer AS di Yordania sehari sebelumnya," jelasnya.

Pada hari yang sama, Amerika Serikat bersama Arab Saudi melancarkan serangan terhadap kelompok paramiliter yang didukung Iran di Irak. Keterlibatan Arab Saudi secara terbuka dalam operasi militer tersebut menjadi perkembangan baru dalam konflik kawasan, sekaligus meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap meluasnya ketegangan geopolitik. Bahkan Komando Pusat AS juga melaporkan bahwa Washington melakukan serangan terhadap Iran selama sekitar dua jam pada Rabu. Operasi tersebut mengakhiri jeda serangan yang berlangsung sejak akhir pekan dan semakin meningkatkan ketidakpastian di kawasan Timur Tengah.

3. Pertumbuhan ekonomi kuartal II diproyeksi melambat

Sementara itu, sentimen dari sisi domestik berkaitan dengan sejumlah ekonom yang memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II/2026 akan melambat ke kisaran 4,8 persen hingga 4,9 persen. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan pertumbuhan ekonomi pada kuartal I/2026 yang mencapai 5,61 persen.

Perlambatan ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari meningkatnya biaya produksi akibat gejolak ekonomi global, pengetatan kebijakan moneter, hingga ketidakpastian tata kelola fiskal di dalam negeri. Kondisi tersebut dinilai menekan aktivitas dunia usaha dan berdampak pada laju pertumbuhan ekonomi nasional.

"Untuk sepanjang tahun 2026, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan berada di kisaran 4,9 persen hingga 5,1 persen. Proyeksi tersebut juga masih berada di bawah target pemerintah yang menetapkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4 persen," jelasnya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article