Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Rupiah Ditutup Menguat ke Rp18.022 per Dolar AS
Petugas menunjukkan mata uang rupiah dan dolar AS di Ayu Masagung Money Changer, Jakarta, Senin (26/8/2024). ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto
  • Rupiah ditutup menguat 89 poin atau 0,49 persen ke Rp18.022 per dolar AS pada perdagangan Jumat, 28 Juli 2026.
  • Penguatan rupiah terjadi saat mayoritas mata uang Asia naik dan dolar AS tertekan data pertumbuhan ekonomi AS kuartal II-2026 sebesar 1,5 persen.
  • Analis Lukman Leong menilai penguatan rupiah berpotensi terbatas akibat eskalasi konflik Timur Tengah, kenaikan harga minyak mentah, dan sentimen domestik yang masih lemah.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Pergerakan nilai tukar atau kurs rupiah ditutup menguat hingga akhir perdagangan jelang akhir pekan, Jumat (28/7/2026). Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup ke level Rp18.022 per dolar AS.

Bila dirinci, rupiah menguat hingga 89 poin atau 0,49 persen dibandingkan penutupan rupiah kemarin.

1. Rincian mata uang di Asia yang menguat

Berdasarkan Bloomberg, mayoritas mata uang di Asia menguat, rinciannya:

  • Bath Thailand menguat 0,06 persen

  • Rupee india menguat 0,25 persen

  • Pesso Filipina menguat 0,31 persen

  • Dolar Taiwan menguat 0,16 persen

2. Faktor penguatan rupiah

Menurut analis pasar keuangan, Lukman Leong, rupiah menguat dikarenakan dolar AS dibayangi sentimen negatif dengan rilisnya data pertumbuhan ekonomi AS kuartal II-2026, hanya tumbuh 1,5 persen. Angka tersebut di bawah prediksi sejumlah ekonom, yakni memproyeksi di kisaran 1,8-2,1 persen.

“Rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS yg melemah tajam setelah data inflasi PCE dan PDB AS yg jauh lebih lemah dari perkiraan,” kata Lukman kepada IDN Times.

3. Rupiah hanya menguat terbatas

Meski begitu, Lukman memprediksi penguatan rupiah terhadap dolar AS hari ini akan terbatas, mengingat konflik di Timur Tengah masih mengerek harga minyak dunia.

"Penguatan mungkin tebatas oleh eskalasi di Timur Tengah dan kenaikan harga minyak mentah dunia, serta sentimen domestik yang masih lemah," jelasnya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article