Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup menguat 9 poin atau 0,05 persen dari hari kemarin. Adapun mata uang Garuda pada perdagangan Rabu (24/6) melemah 93 poin ke level Rp17.952 per dolar AS.
Rupiah Ditutup Rebound ke Rp17.934 per Dolar AS

- Rupiah ditutup menguat tipis 9 poin ke level Rp17.934 per dolar AS pada Kamis (25/6/2026), setelah sebelumnya melemah di perdagangan Rabu.
- Penguatan rupiah didorong oleh meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang menurunkan harga minyak dunia dan memperbaiki sentimen pasar global.
- Dari sisi domestik, optimisme pemerintah terhadap ketahanan ekonomi nasional serta berkurangnya ketergantungan impor minyak turut menopang stabilitas nilai tukar rupiah.
1. Daftar mata uang di Asia menguat
Mayoritas pergerakan mata uang di kawasan Asia menguat sore ini, ini daftarnya:
- Bath Thailand menguat 0,26 persen
- Ringgit Malaysia menguat 0,54 persen
- Yuan China menguat 0,13 persen
- Rupee India menguat 0,28 persen
- Pesso Filipina menguat 0,36 persen
- Won Korea menguat 0,16 persen
- Dolar Hongkong menguat 0,01 persen
- Dolar Singapura menguat 0,05 persen
2. Faktor penopang penguatan rupiah sore ini
Analis pasar uang, Ibrahim Assuaibi menjelaskan, pergerakan nilai tukar rupiah menguat pada perdagangan sore hari ini seiring membaiknya sentimen pasar global yang didorong oleh meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Pelaku pasar merespons positif kesepakatan yang dicapai pada awal pekan lalu untuk mengakhiri konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang telah memicu kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi global.
Meredanya konflik tersebut memungkinkan aktivitas pelayaran dan distribusi energi melalui Selat Hormuz kembali berjalan normal. Kondisi ini secara signifikan mengurangi kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan minyak dunia yang sebelumnya mendorong lonjakan harga energi.
"Kesepakatan awal pekan lalu untuk mengakhiri perang AS-Israel dengan Iran, yang dimulai pada 28 Februari, telah memungkinkan lalu lintas melalui selat untuk dimulai kembali sehingga meredakan kekhawatiran pasokan yang membuat harga minyak mentah dunia terus merosot tajam pekan ini," ujarnya.
Sejalan dengan membaiknya situasi, harga minyak mentah dunia tercatat terus mengalami penurunan tajam sepanjang pekan ini. Penurunan harga minyak tersebut turut mendukung penguatan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah karena mengurangi tekanan inflasi impor dan memperbaiki prospek stabilitas ekonomi.
3. Sentimen dari sisi domestik ikut topang penguatan rupiah
Sementara itu, sentimen dari dalam negeri berkaitan dengan optimisme pemerintah mengenai kondisi perekonomian Indonesia sepanjang 2026 akan tetap terjaga di tengah ketidakpastian global, termasuk dampak konflik geopolitik di Timur Tengah yang sempat memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi dunia.
Sejak pecahnya konflik di kawasan tersebut pada akhir Februari lalu, pemerintah telah menyiapkan berbagai skenario mitigasi untuk mengantisipasi dampak perang terhadap perekonomian nasional. Analisis dilakukan untuk berbagai rentang waktu, mulai dari lima bulan, enam bulan, hingga sepuluh bulan, dan seluruh skenario menunjukkan bahwa Indonesia memiliki ketahanan yang memadai untuk menghadapi gejolak tersebut.
"Salah satu faktor utama yang mendukung ketahanan ekonomi nasional adalah menurunnya ketergantungan impor minyak Indonesia terhadap kawasan Timur Tengah. Saat ini, porsi impor minyak dari kawasan tersebut hanya sekitar 20persen dari total kebutuhan impor energi nasional," ujar Ibrahim.




![[QUIZ] Apakah Kamu Punya Kecenderungan Doom Spending? Gen Z Biasa Begini](https://image.idntimes.com/post/20260621/upload_d06bbd48d0bf0039e7d214dda11f17d5_79e5d680-169e-4eff-826c-71b5dd0d6a9b.png)











