Ibrahim menyebut sentimen positif juga dipicu meredanya kekhawatiran inflasi energi yang membuat para pelaku pasar mengurangi taruhan terkait kenaikan suku bunga bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed).
"Apalagi, bersama dengan angka ketenagakerjaan yang lemah, hal ini semakin mengurangi ekspektasi bahwa Fed akan menaikkan suku bunga dalam beberapa bulan mendatang," ujar dia.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang kenaikan suku bunga The Fed pada September kini merosot ke angka 42 persen, turun dari posisi 67 persen pada pekan lalu.
Lebih lanjut, dia menyebutkan pasar pekan ini menantikan rilis data Indeks Harga Konsumen (CPI) atau tingkat inflasi AS bulan Juli pada Rabu.
"Para ekonom memperkirakan inflasi akan sedikit menurun dari 3,5 persen menjadi 3,4 persen secara tahunan, dengan CPI Inti juga turun dari 2,6 persen menjadi 2,5 persen secara tahunan," tuturnya.