Jakarta, IDN Times - Kalangan dunia usaha mengakui tekanan terhadap aktivitas produksi kian berat seiring pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Dalam beberapa waktu terakhir, rupiah terus terdepresiasi dan mencatat level terlemah baru.
Pada pembukaan perdagangan hari ini, rupiah berada di level Rp17.897 per dolar AS. Pelemahan berlanjut hingga siang hari, ketika mata uang Garuda menyentuh Rp17.938 per dolar AS, menandakan tekanan terhadap rupiah masih belum mereda.
"Pelemahan rupiah yang sudah mendekati Rp18 ribuper dolar AS tentu menjadi tekanan serius bagi dunia usaha. Kondisi saat ini tidak bisa dianggap biasa," kata Sekretaris Jenderal BPP Hipmi Anggawira saat dihubungi, Rabu (3/6/2026).
