Tekanan terhadap mata uang emerging market, termasuk rupiah, juga diperparah oleh meningkatnya ekspektasi kebijakan suku bunga tinggi The Federal Reserve dalam jangka waktu lebih panjang atau higher for longer. Pasar kini menantikan rilis data inflasi inti Personal Consumption Expenditures (Core PCE) Amerika Serikat yang diperkirakan naik ke level 3,3 persen.
"Jika realisasi data lebih tinggi dari proyeksi, peluang penurunan suku bunga The Fed diperkirakan semakin tertunda, sehingga memperbesar tekanan terhadap mata uang Asia," tuturnya.
Sementara itu, dari dalam negeri, pelemahan rupiah diperburuk oleh faktor musiman Kuartal II. Permintaan valuta asing meningkat signifikan seiring kebutuhan repatriasi dividen korporasi, pembayaran utang luar negeri, serta meningkatnya kebutuhan impor sektor industri. Kondisi ini menyebabkan tekanan permintaan Dolar AS di pasar domestik menjadi semakin agresif.