Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Rupiah Tambah Loyo Pagi Ini, Investor Menanti Sikap The Fed

2 min read
Rupiah Tambah Loyo Pagi Ini, Investor Menanti Sikap The Fed
ilustrasi rupiah melemah (IDN TImes/Aditya Pratama)
  • Rupiah melemah ke level Rp18.179 per dolar AS pada awal perdagangan, tertekan penguatan indeks dolar AS.

  • Investor menanti sikap The Fed dalam pertemuan FOMC, sementara harga minyak tinggi dan net sell asing turut membebani rupiah.

  • Rupiah diperkirakan bergerak pada rentang Rp18.100 hingga Rp18.200 per dolar AS sepanjang perdagangan Rabu.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Nilai tukar atau kurs rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada awal perdagangan Rabu (28/10/2026). Rupiah dibuka di level Rp18.161 per dolar AS pagi ini.

Berdasarkan data Bloomberg hingga pukul 09.06 WIB, rupiah sudah berada di level Rp18.179 per dolar AS, melemah 23 poin atau 0,13 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp18.156 per dolar AS.

  1. 1. Indeks dolar AS menguat jelang pertemuan The Fed

    Pengamat pasar uang Lukman Leong memperkirakan rupiah masih berpotensi melemah di tengah kenaikan indeks dolar AS menjelang pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) pada Rabu (28/10/2026).

    Indeks dolar AS merupakan ukuran kekuatan dolar terhadap sejumlah mata uang utama dunia. Ketika indeks tersebut menguat, mata uang negara lain, termasuk rupiah, dapat menghadapi tekanan.

    Pasar mengantisipasi kemungkinan sikap hawkish dari bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed), yakni kecenderungan bank sentral mempertahankan kebijakan moneter ketat untuk mengendalikan inflasi, misalnya dengan menjaga suku bunga tetap tinggi.

    "Rupiah diperkirakan masih berpotensi melemah di tengah kenaikan indeks dolar AS oleh antisipasi sikap hawkish dari The Fed dala pertemuan FOMC malam ini," kata Lukman.

    Sikap The Fed menjadi perhatian investor karena perubahan suku bunga AS dapat memengaruhi daya tarik aset berbasis dolar. Jika suku bunga diperkirakan bertahan tinggi, permintaan terhadap dolar AS berpotensi meningkat.

  2. 2. Harga minyak dan aksi jual saham asing membebani rupiah

    Selain sentimen dari AS, harga minyak dunia yang masih tinggi turut menjadi perhatian pasar. Kenaikan harga minyak dapat menambah beban biaya impor energi Indonesia yang sebagian transaksinya menggunakan dolar AS.

    Di dalam negeri, tekanan terhadap rupiah juga berasal dari penjualan bersih saham oleh investor asing atau net sell di pasar saham domestik.

    Net sell terjadi ketika nilai saham yang dijual investor lebih besar daripada nilai saham yang dibeli. Kondisi itu menunjukkan adanya arus keluar dana dari pasar saham apabila investor menarik dananya dari pasar domestik.

    "Harga minyak yang masih tinggi dan net sell investor asing di pasar ekuitas domestik juga masih membebani," ujar dia.

  3. 3. Proyeksi pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini

    Lukman memperkirakan mata uang Garuda akan bergerak dalam rentang Rp18.100 hingga Rp18.200 per dolar AS pada perdagangan Rabu.

    Data Bloomberg juga menunjukkan rentang pergerakan harian rupiah tercatat Rp18.161 hingga Rp18.183 per dolar AS, sedangkan rentang pergerakan dalam 52 minggu terakhir berada di level Rp16.566 hingga Rp18.209 per dolar AS.

Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More