OJK Ungkap Dolar AS Masih Jadi Safe Haven Bikin Rupiah Tertekan

- OJK menegaskan dolar AS masih jadi aset safe haven global karena dominasi penggunaannya dalam transaksi internasional, sehingga menekan nilai tukar rupiah.
- Pelemahan rupiah dipicu meningkatnya permintaan terhadap aset berbasis dolar yang dianggap lebih aman di tengah ketidakpastian ekonomi dunia.
- OJK belum melihat lonjakan deposito valas di perbankan dan mengingatkan bahwa perpindahan dana ke instrumen dolar bisa memperburuk likuiditas serta kondisi ekonomi.
Jakarta, IDN Times - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkap dolar Amerika Serikat (AS) masih menjadi aset safe haven di tengah kondisi global saat ini. Dolar masih dominan digunakan dalam transaksi dan pembayaran internasional.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, mengatakan kondisi tersebut dinilai menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pelemahan nilai tukar rupiah.
"Nah, sementara kan jadi ya kita lihat juga dalam situasi yang seperti ini kan safe haven-nya masih tetap dolar Amerika karena dipakai pembayaran di mana-mana kan masih kebanyakan dolar Amerika," katanya di Perbanas Institute, Jakarta, Selasa (2/6/2026).
1. Rupiah melemah dipengaruhi permintaan aset dolar

Menurut Dian, pelemahan rupiah juga dipengaruhi oleh meningkatnya minat terhadap aset-aset berbasis dolar AS. Dalam situasi ketidakpastian, aset dolar masih menjadi pilihan karena dianggap lebih aman, sehingga permintaannya cenderung meningkat.
"Mungkin juga harus dilihat, kemungkinan kenapa sih misalnya rupiah melemah? Salah satunya juga, tentu aset-aset dolar itu yang akan diborong lebih lanjut karena sekarang jadi safe haven," kata Dian.
2. OJK belum lihat gejala kenaikan deposito valas

Di sisi lain, OJK belum melihat adanya indikasi peningkatan signifikan pada deposito valuta asing (valas) di perbankan saat rupiah mengalami pelemahan. Menurut dia, peningkatan suku bunga valas maupun perpindahan dana dari rupiah ke instrumen berbasis dolar justru berpotensi menambah tekanan terhadap kondisi ekonomi dan likuiditas. Situasi tersebut dinilai tidak diharapkan baik oleh industri perbankan maupun pelaku ekonomi secara umum.
"Tentu tidak diharapkan oleh semua pihak, ya, termasuk juga oleh banknya sendiri, kalau nanti ekonomi malah jadi memburuk, yang akan terjadi kemudian kan masalah semua orang," kata dia.
3. Rupiah masih melemah terhadap dolar AS

Nilai tukar atau kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih loyo pada penutupan perdagangan setelah libur panjang, Selasa (2/6/2026).
Berdasarkan data Bloomberg, mata uang Garuda ditutup melemah 34 poin atau 0,19 persen ke level Rp17.839 per dolar AS, setelah sempat anjlok hingga 85 poin dari posisi penutupan sebelumnya di level Rp17.805.















