Ekonom: Rupiah Melemah, Gejala Ekonomi Bermasalah

- Ekonom Wijayanto Samirin menilai pelemahan rupiah sebesar 7,29 persen dalam enam bulan terakhir menjadi tanda adanya masalah dalam perekonomian nasional.
- Rupiah tercatat melemah terhadap 86 persen mata uang dunia, termasuk seluruh mata uang utama ASEAN seperti dolar Singapura, baht Thailand, dan ringgit Malaysia.
- Dolar AS menguat hingga membuat rupiah ditutup di level Rp17.839 per dolar AS, dipengaruhi oleh perkembangan politik global terkait gencatan senjata di Selat Hormuz.
Jakarta, IDN Times - Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, menyatakan rupiah yang terus melemah sampai saat ini merupakan symptom atau gejala ekonomi bermasalah.
Selain itu, nilai tukar mata uang diibaratkan Wijayanto sebagai suhu badan. Suhu badan ini bisa jadi indikasi tingkat kesehatan seseorang. Suhu tidak normal merupakan symptom seseorang sedang memiliki permasalahan kesehatan.
"Rupiah melemah, symptom ekonomi bermasalah. Dalam enam bulan terakhir, rupiah mengalami depresiasi sebesar 7,29 persen terhadap dolar AS," ujar Wijayanto dalam paparannya, dikutip Selasa (2/6/2026).
1. Rupiah juga melemah terhadap mata uang negara lainnya

Dalam periode sama, rupiah melemah terhadap 86 persen mata uang di dunia. Rupiah juga melemah terhadap seluruh mata uang utama ASEAN yang meliputi dolar Singapura (SGD), baht Thailand (BHT), ringgit Malaysia (MYR), dong Vietnam (VND), dan peso Filipina (PHP).
"Bahkan SGD, MYR, dan VND menguat terhadap dolar AS pada periode tersebut," kata Wijayanto.
2. Symptom harus diobati

Sebagai sebuah symptom, rupiah yang melemah terhadap dolar AS perlu segera diobati. Symptom yang tidak diobati bisa membunuh pasien.
"Hal yang sama bisa terjadi pada ekonomi, dolar AS yang terlalu tinggi bisa membangkrutkan bisnis," kata Wijayanto.
3. Dolar AS kembali menguat hari ini

Sebelumnya diberitakan, nilai tukar atau kurs melemah terhadap mata uang dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Selasa, (2/6/2026).
Mengutip Bloomberg, kurs rupiah ditutup melemah 34 poin atau 0,19 persen ke Rp17.839 per dolar AS sore ini. Pagi tadi, rupiah dibuka melemah pada level Rp17.888 per dolar AS.
Menurut analis pasar keuangan, Ibrahim Assuaibi, penguatan dolar AS sore ini didorong oleh permintaan Presiden AS, Donald Trump agar gencatan senjata di Selat Hormuz diperpanjang. Trump menyatakan pembicaraan dengan Iran masih akan dilanjutkan.
“Ia mengeluarkan unggahan di media sosial yang mengatakan bahwa pembicaraan dengan Iran terus berlanjut dan mengatakan kepada ABC News bahwa ia mengharapkan kesepakatan untuk memperpanjang gencatan senjata dan membuka kembali Selat Hormuz dalam minggu depan,” kata Ibrahim dalam keterangannya.
















