Ilustrasi dolar AS (freepik.com/jcomp)
Lebih lanjut, dalam bahan paparan tersebut juga dijelaskan secara struktur utang luar negeri swasta yang kini lebih sehat. Pada 1997/1998, utang luar negeri swasta mencapai sekitar 68 miliar dolar AS atau setara 32 persen produk domestik bruto (PDB), mayoritas tidak dilindungi nilai (unhedged) dan berjangka pendek.
Sementara itu, pada 2026 utang luar negeri swasta mencapai sekitar 191 miliar dolar AS atau 44 persen dari total utang luar negeri. Namun, porsinya terhadap PDB hanya sekitar 13 persen dan sekitar 85 persen merupakan utang jangka panjang yang telah dilengkapi instrumen lindung nilai (hedging).
Namun ada beberapa tantangan yang perlu dicermati. Salah satunya adalah kondisi fiskal pemerintah yang berbeda dibandingkan periode krisis 1998. Rasio utang pemerintah terhadap PDB saat ini mencapai sekitar 41 persen dengan debt service ratio (DSR) sekitar 49 persen.
Selain itu, porsi utang luar negeri dalam total utang pemerintah saat ini sekitar 25 persen. Berbeda dengan 1998 ketika sebagian besar utang luar negeri merupakan pinjaman program yang dapat direstrukturisasi, saat ini sekitar 87 persen utang pemerintah berbentuk surat berharga negara (SBN), sehingga ruang restrukturisasi lebih terbatas.
Menurut Wijayanto, tekanan yang dihadapi Indonesia saat ini juga berasal dari kondisi global yang berbeda. Jika krisis 1998 lebih banyak dipicu persoalan regional di Asia, tekanan saat ini terjadi hampir di seluruh dunia akibat ketidakpastian ekonomi global, tingginya suku bunga internasional, dan tensi geopolitik. Meski demikian, ia menegaskan bahwa pelemahan rupiah saat ini belum mencerminkan kondisi krisis seperti 1997/1998.