- Bath Thailand melemah 0,25 persen
- Ringgit Malaysia melemah 0,32 persen
- Yuan China melemah 0,25 persen
- Pesso Filipina melemah 0,58 persen
- Won Korea melemah 0,26 persen
- Dolar Taiwan melemah 0,08 persen
- Dolar Singapura melemah 0,30 persen
- Yen Jepang melemah 0,50 persen
Rupiah Tersungkur ke Rp17.002 per Dolar AS

- Rupiah ditutup melemah ke level Rp17.002 per dolar AS, turun 19 poin atau 0,11 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.
- Seluruh mata uang Asia ikut melemah terhadap dolar AS, termasuk baht Thailand, ringgit Malaysia, yuan China, dan yen Jepang.
- Pelemahan rupiah dipicu perubahan sentimen pasar global setelah pernyataan Trump soal rencana serangan ke Iran memunculkan kekhawatiran baru di Timur Tengah.
Jakarta, IDN Times - Pergerakan nilai tukar atau kurs rupiah ditutup melemah pada akhir perdagangan, Kamis (19/8/2024). Berdasarkan data Bloomberg, rupiah makin melemah dan tembus ke level Rp17.002 per dolar AS.
Rupiah tercatat melemah hingga 19 poin atau 0,11 persen dibandingkan dengan penutupan perdagangan sebelumnya.
1. Semua mata uang kompak melemah seharian
Lebih rinci, semua mata uang di Asia melemah, ini daftarnya:
2. Rupiah batal menguat
Pengamat Pasar Uang, Lukman Leong, mengatakan pelemahan nilai tukar rupiah, yang sempat diperkirakan menguat, terhadap dolar AS pada perdagangan hari ini didorong oleh sentimen risk-on di pasar global. Optimisme tersebut muncul harapan meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
"Hal ini merespons pernyataan Trump apabila perang akan berakhir dalam dua hingga tiga minggu," kata Lukman.
3. Muncul kekhawatiran di pasar global terkait selesainya eskalasi konflik Timur Tengah
Menurut Lukman, harapan penguatan sentimen di pasar pun berubah cepat seiring perkembangan terbaru dari pidato Trump yang berlangsung sejak pagi hari. Dalam pernyataan terbarunya, Trump justru menegaskan Amerika Serikat akan menyerang Iran dengan sangat keras dalam dua hingga tiga minggu ke depan.
Pernyataan tersebut memicu kekhawatiran baru di pasar global, terutama terkait eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah. Akibatnya, sentimen risk-off kembali mendominasi, yang berpotensi menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.


















