- Bath Thailand melemah 0,37 persen
- Yuan China melemah 0,13 persen
- Pesso Filipina melemah 0,50 persen
- Won Korea melemah 0,51 persen
- Dolar Taiwan melemah 0,04 persen
- Dolar Singapura melemah 0,26 persen
Rupiah Dibuka Melemah ke Rp16,984 per Dolar AS

- Rupiah dibuka melemah tipis ke Rp16.984 per dolar AS pada awal perdagangan Kamis, turun 0,01 persen dibanding penutupan sebelumnya.
- Mayoritas mata uang Asia turut melemah, termasuk baht Thailand, yuan China, peso Filipina, won Korea, dan dolar Singapura.
- Pernyataan Trump soal rencana serangan ke Iran memicu kekhawatiran pasar global dan menekan rupiah di kisaran Rp16.900–Rp17.000 per dolar AS.
Jakarta, IDN Times - Pergerakan nilai tukar atau kurs rupiah dibuka melemah pada awal perdagangan, Kamis (2/4/2026) pagi. Rupiah melemah ke level Rp16.984 per dolar AS.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah tercatat melemah tipis 1 poin atau atau 0,01 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya. Pada perdagangan kemarin, rupiah ditutup menguat ke Rp16.983 per Dolar AS.
1. Mata uang di Asia kompak melemah pada pembukaan perdagangan
Mayoritas mata uang di Asia bergerak melemah
2. Optimisme meredanya ketegangan Timur Tengah batal
Pengamat Pasar Uang, Lukman Leong, mengatakan nilai tukar rupiah sempat diperkirakan menguat terhadap dolar AS pada perdagangan hari ini, didorong oleh sentimen risk on di pasar global. Optimisme tersebut muncul harapan meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
"Hal ini merespon pernyataan Trump apabila perang akan berakhir dalam 2-3 minggu," tegasnya.
3. Rupiah diproyeksi bergerak melemah hari ini
Menurut Lukman, harapan penguatan sentimen di pasar pun berubah cepat seiring perkembangan terbaru dari pidato Trump yang berlangsung sejak pagi hari. Dalam pernyataan terbarunya, Trump justru menegaskan bahwa Amerika Serikat akan menyerang Iran dengan sangat keras dalam dua hingga tiga minggu ke depan.
Pernyataan tersebut memicu kekhawatiran baru di pasar global, terutama terkait eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah. Akibatnya, sentimen risk off kembali mendominasi, yang berpotensi menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
"Rupiah berpotensi bergerak tidak sesuai harapan di kisaran Rp16.900-Rp17.000 per dolar AS," ungkapnya.








.jpg)









