Jakarta, IDN Times - Pasar saham di kawasan Asia-Pasifik mengalami guncangan hebat pada Senin (2/3/2026), yang ditandai dengan jatuhnya nilai saham maskapai penerbangan secara signifikan. Kondisi ini dipicu oleh serangan militer skala besar yang diluncurkan oleh Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap berbagai sasaran strategis di Iran.
Situasi tersebut memicu kepanikan investor di pusat-pusat keuangan utama, mulai dari Hong Kong, Sydney, hingga China, karena kekhawatiran mendalam terhadap stabilitas jalur transportasi udara dan keberlanjutan pasokan energi dunia. Disrupsi militer ini memaksa otoritas terkait untuk segera menutup pusat-pusat transit udara tersibuk di wilayah Timur Tengah, yang berdampak pada lumpuhnya konektivitas global. Akibat kebijakan tersebut, ribuan jadwal penerbangan terpaksa dibatalkan sehingga menelantarkan puluhan ribu penumpang di berbagai negara.
