ilustrasi chip, industri teknologi, manufaktur, semikonduktor (unsplash.com/Brian Kostiuk)
Meski mengalami penurunan tajam, kondisi tersebut gak otomatis berarti seluruh industri AI China akan mengalami kemunduran, lho. Beberapa perusahaan di sektor semikonduktor justru masih memiliki peluang pertumbuhan karena kebutuhan chip terus meningkat. Brendan Ahern, kepala investasi di KraneShares, melihat bahwa perusahaan yang tergabung dalam STAR Board masih mendapatkan manfaat dari belanja semikonduktor oleh perusahaan teknologi China maupun Amerika Serikat. Hal ini memperlihatkan bahwa tekanan pasar gak dirasakan secara merata oleh semua perusahaan teknologi.
Peluang pemulihan juga masih terbuka apabila kondisi pasar saham Amerika Serikat membaik. Jason Hsu, ketua Rayliant Global Advisors, menilai bahwa pelemahan saham teknologi China turut dipengaruhi oleh penurunan pasar saham AS dan meningkatnya keraguan investor terhadap hasil investasi AI. Dengan demikian, pemulihan saham teknologi Amerika berpotensi memberikan sentimen positif bagi pasar China. Namun, faktor domestik seperti lemahnya konsumsi dan kondisi sektor properti tetap perlu diperhatikan.
Pemerintah China juga mulai mengambil langkah untuk menahan tekanan pasar. Menurut laporan Yahoo Finance pada 3 November 2026, otoritas China mengumumkan fasilitas pertukaran likuiditas dari bank sentral yang diajukan oleh 31 perusahaan sekuritas dan pengelola dana dengan nilai lebih dari 100 miliar yuan. Jumlah tersebut setara sekitar US$15 miliar atau Rp251,25 triliun dengan asumsi kurs Rp16.750 per dolar AS. Pemerintah juga berupaya menurunkan biaya pembelian kembali saham dan mendorong perusahaan teknologi besar melakukan buyback. Meski demikian, langkah tersebut belum cukup untuk mempertahankan kenaikan harga saham secara konsisten.
Tai Hui dari JPMorgan Asset Management menilai bahwa penurunan sektor properti masih menjadi hambatan mendasar bagi pasar China. Masyarakat yang semakin berhati-hati dalam membelanjakan uang cenderung memilih menyimpan tabungan dalam bentuk tunai daripada menginvestasikannya ke saham. Di sisi lain, valuasi saham yang sudah lebih rendah dapat membatasi potensi penurunan lebih lanjut, meskipun belum tentu langsung memicu kenaikan. Benjamin Cavender juga menilai bahwa pemulihan berkelanjutan membutuhkan pendapatan perusahaan yang lebih stabil, hasil investasi AI yang lebih jelas, serta peningkatan permintaan domestik.
Kondisi saham raksasa teknologi China anjlok memperlihatkan bahwa antusiasme terhadap AI gak selalu sejalan dengan kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan. Fenomena ini bisa menjadi tanda bahwa gelembung investasi AI di China mulai mengempis, terutama pada perusahaan dengan valuasi tinggi tapi prospek pendapatan yang belum jelas.
Meski begitu, bukan berarti industri AI China kehilangan masa depannya karena peluang pertumbuhan masih terbuka di sektor semikonduktor dan teknologi lainnya. Bagi investor, hal terpenting sekarang adalah melihat apakah perusahaan mampu mengubah inovasi AI menjadi keuntungan bisnis yang berkelanjutan.