Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

AI Ubah Kebutuhan Tenaga Kerja, Ini 3 Tantangan Industri Keuangan

4 min read
AI Ubah Kebutuhan Tenaga Kerja, Ini 3 Tantangan Industri Keuangan
ilustrasi keuangan (Pexels.com/Kaboompics)
  • AI mengubah kebutuhan tenaga kerja sektor keuangan: tugas administratif dan repetitif dapat diotomatisasi, sementara karyawan perlu menguasai AI, data, keamanan informasi, serta tata kelola teknologi.
  • Perusahaan perlu menjalankan upskilling dan reskilling berkelanjutan, sekaligus mendesain ulang peran agar AI menangani proses otomatis dan karyawan fokus pada penilaian, komunikasi, pemecahan masalah, serta keputusan.
  • Industri keuangan harus menyiapkan talenta muda melalui magang, pelatihan, dan jalur karier yang menggabungkan kompetensi finansial, digital, analisis data, serta pemahaman risiko teknologi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Adopsi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mulai mengubah kebutuhan tenaga kerja di berbagai industri, termasuk sektor keuangan. Teknologi ini dapat mengambil alih sejumlah pekerjaan administratif dan repetitif. Namun, pada saat yang sama menuntut karyawan menguasai keterampilan baru.

Perubahan tersebut membuat perusahaan keuangan menghadapi tantangan dalam menyiapkan sumber daya manusia. Bukan hanya merekrut pekerja yang memiliki kemampuan digital, perusahaan juga perlu memastikan karyawan lama dapat mengikuti perubahan peran dan kebutuhan bisnis. Future of Jobs Report 2025 dari World Economic Forum (WEF) memperkirakan 170 juta pekerjaan baru akan tercipta hingga 2030. Namun, sekitar 92 juta pekerjaan diperkirakan terdampak atau tergantikan, sehingga menghasilkan peningkatan bersih sebanyak 78 juta pekerjaan.

WEF juga memperkirakan hampir 40 persen keterampilan yang dibutuhkan dalam pekerjaan akan berubah. Kondisi ini membuat peningkatan keterampilan (upskilling) dan pelatihan ulang (reskilling) menjadi semakin penting. Berikut tiga tantangan yang perlu diperhatikan perusahaan sektor keuangan dalam menghadapi perubahan dunia kerja akibat AI.

  1. 1. Mengatasi kesenjangan keterampilan karyawan

    ilustrasi karyawan perusahaan (Pexels.com/Vitaly Gariev)
    ilustrasi karyawan perusahaan (Pexels.com/Vitaly Gariev)

    Salah satu tantangan utama perusahaan adalah memastikan keterampilan karyawan tetap relevan dengan perkembangan teknologi. Kemampuan yang dibutuhkan beberapa tahun lalu belum tentu cukup untuk menjalankan pekerjaan di era AI. Di sektor keuangan, karyawan tidak hanya dituntut memahami proses bisnis dan layanan perbankan. Mereka juga perlu memiliki pemahaman tentang penggunaan AI, pengelolaan data, keamanan informasi, hingga tata kelola teknologi yang bertanggung jawab.

    Perubahan ini membuat perusahaan perlu mengembangkan program upskilling dan reskilling. Upskilling bertujuan meningkatkan kemampuan yang sudah dimiliki karyawan, sedangkan reskilling membantu mereka mempelajari keterampilan baru untuk menjalankan peran berbeda.

    Bank DBS Indonesia menjadi salah satu perusahaan yang mengembangkan pendekatan tersebut. Berdasarkan keterangan perusahaan pada 5 November 2026, hampir 80 persen karyawan DBS Indonesia telah bergabung dengan platform iGrow untuk mengeksplorasi pilihan karier, mengidentifikasi kesenjangan kompetensi, dan menemukan peluang pengembangan keterampilan. Langkah ini memperlihatkan bahwa pengembangan talenta tidak cukup hanya dilakukan ketika perusahaan membutuhkan kemampuan baru. Pemetaan keterampilan juga perlu dilakukan secara berkelanjutan agar perusahaan dapat mengantisipasi perubahan kebutuhan tenaga kerja.

  2. 2. Menyesuaikan peran karyawan dengan perubahan teknologi

    ilustrasi teknologi (Pexels.com/Tima Miroshnichenko)
    ilustrasi teknologi (Pexels.com/Tima Miroshnichenko)

    Tantangan berikutnya adalah menentukan bagaimana pembagian pekerjaan berubah ketika AI mulai mengambil alih tugas tertentu. Teknologi AI dapat membantu mengotomatisasi pekerjaan administratif, mengolah data dalam jumlah besar, dan mempercepat sejumlah proses operasional. Namun, pekerjaan yang membutuhkan penilaian manusia, pemecahan masalah, komunikasi, dan pengambilan keputusan tetap memerlukan keterlibatan karyawan.

    Artinya, perusahaan perlu mengevaluasi kembali pembagian tugas dan kompetensi yang dibutuhkan dalam setiap posisi. Penerapan AI tidak hanya berkaitan dengan penggunaan perangkat baru, tetapi juga penyesuaian desain pekerjaan (job redesign). Dalam siaran pers-nya, DBS menyebut telah meningkatkan keterampilan lebih dari 11 ribu karyawan yang perannya mengalami perubahan signifikan akibat AI.

    Perusahaan juga bekerja sama dengan Institute of Banking and Finance Singapore (IBF) untuk mengembangkan kompetensi tenaga kerja sektor jasa keuangan melalui program peningkatan keterampilan AI. Program tersebut mencakup pemahaman tata kelola AI, penggunaan AI secara bertanggung jawab, prompt engineering, serta penerapan teknologi dalam pekerjaan sehari-hari. Bagi perusahaan, penyesuaian peran ini penting agar pemanfaatan AI tidak berhenti pada efisiensi proses, tetapi juga membantu karyawan mengerjakan tugas yang memberikan nilai lebih besar bagi bisnis.

  3. 3. Menyiapkan talenta muda dan jalur karier baru

    ilustrasi karyawan perusahaan (Pexels.com/Vitaly Gariev)
    ilustrasi karyawan perusahaan (Pexels.com/Vitaly Gariev)

    Selain mengembangkan karyawan yang sudah bekerja, perusahaan juga perlu menyiapkan talenta baru yang sesuai dengan kebutuhan industri keuangan di masa depan. Perubahan teknologi membuat perusahaan membutuhkan kombinasi keterampilan finansial, kemampuan digital, analisis data, dan pemahaman terhadap risiko teknologi. Karena itu, jalur pengembangan karier bagi talenta muda perlu disesuaikan dengan perubahan tersebut.

    Salah satu pendekatan yang dapat dilakukan adalah melalui program magang, pelatihan, management associate, hingga program khusus pengembangan kemampuan AI. DBS, misalnya, menjadi mitra perintis dalam Young Talent Programme for AI in Finance yang dikembangkan bersama IBF. Di Singapura, perusahaan tersebut juga menyatakan komitmen menerima lebih dari 500 talenta muda lokal sepanjang 2026 melalui program Management Associate, magang, dan traineeship.

    Adopsi AI di sektor keuangan bukan hanya persoalan investasi teknologi. Perusahaan juga harus menyiapkan tenaga kerja yang mampu memanfaatkan teknologi tersebut secara produktif dan bertanggung jawab. Perubahan kebutuhan keterampilan, penyesuaian peran kerja, serta pengembangan talenta baru menjadi tiga hal yang perlu diperhatikan. Tanpa strategi pengembangan sumber daya manusia yang memadai, investasi teknologi berisiko tidak menghasilkan manfaat bisnis secara optimal.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Related Articles

See More