Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Saham Raksasa Teknologi China Anjlok, AI Bubble mulai Pecah?

8 min read
Saham Raksasa Teknologi China Anjlok, AI Bubble mulai Pecah?
ilustrasi AI, DeepSeek, pengguna AI (unsplash.com/Solen Feyissa)
  • STAR 50 Index turun lebih dari 40% dalam sekitar empat bulan hingga akhir Oktober 2026, menghapus sekitar US$480 miliar nilai pasar; saham CATL juga merosot 37% sejak awal tahun.
  • Investor kini menyoroti kemampuan perusahaan mengubah belanja besar AI menjadi pendapatan dan laba, setelah reli panjang serta valuasi tinggi memicu aksi ambil untung dan evaluasi prospek bisnis.
  • Perlambatan properti dan konsumsi, tekanan margin, pembatasan teknologi AS, serta persaingan domestik membebani sektor; pemerintah menyiapkan likuiditas dan mendorong buyback, sementara peluang semikonduktor tetap ada.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Demam kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) sempat menjadi salah satu pendorong utama kenaikan saham perusahaan teknologi China. Kehadiran DeepSeek pada awal 2025 semakin memperkuat optimisme investor bahwa perusahaan dalam negeri mampu bersaing dengan raksasa teknologi Amerika Serikat.

Akan tetapi, euforia tersebut kini mulai meredup setelah sejumlah saham teknologi mengalami penurunan tajam. Baru-baru ini, terdapat beberapa saham raksasa teknologi China anjlok. Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan besar: apakah investasi AI di China benar-benar mampu menghasilkan keuntungan sesuai ekspektasi pasar?

Situasi tersebut juga menjadi perhatian investor global karena perkembangan industri AI China memiliki pengaruh terhadap persaingan teknologi dunia. Lantas, apakah penurunan saham ini menjadi tanda bahwa gelembung AI China mulai pecah?

  1. 1. Saham perusahaan teknologi China mengalami penurunan tajam

    ilustrasi investasi, pasar saham, risiko, rugi
    ilustrasi investasi, pasar saham, risiko, rugi (magnific.com/DC Studio)

    Pasar saham teknologi China sedang menghadapi tekanan setelah mengalami reli cukup kuat dalam beberapa waktu sebelumnya. Salah satu yang paling terdampak adalah STAR 50 Index, indeks yang mengukur kinerja 50 perusahaan teknologi dan inovasi terbesar di Shanghai Stock Exchange. Indeks ini mencakup berbagai perusahaan di bidang semikonduktor, kecerdasan buatan, hingga industri teknologi tinggi lainnya. Penurunannya menjadi perhatian karena sebelumnya STAR 50 Index termasuk salah satu indikator optimisme investor terhadap perkembangan teknologi China.

    Berdasarkan laporan pada akhir Oktober 2026, STAR 50 Index telah merosot lebih dari 40 persen dalam kurun waktu sekitar empat bulan. Penurunan tersebut menghapus sekitar US$480 miliar atau setara Rp8.040 triliun dari nilai pasarnya, dengan asumsi kurs Rp16.750 per dolar AS. Bahkan, laporan The Guardian pada 27 Oktober 2026 menyebutkan bahwa total kapitalisasi pasar saham China telah kehilangan sekitar US$2,4 triliun atau setara Rp40.200 triliun sejak Mei 2026. Angka ini memperlihatkan betapa besar tekanan yang sedang dihadapi pasar saham negara tersebut.

    Tekanan juga dirasakan oleh perusahaan teknologi besar seperti Contemporary Amperex Technology (CATL), produsen baterai kendaraan listrik terkemuka di dunia. Perusahaan tersebut mengalami penurunan harga saham sekitar 37 persen sejak awal 2026. Padahal, CATL selama ini dikenal sebagai salah satu keberhasilan industri teknologi China berkat posisinya dalam rantai pasok baterai kendaraan listrik dan penyimpanan energi. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa reputasi sebagai perusahaan teknologi unggulan ternyata tidak selalu membuat sahamnya kebal terhadap gejolak pasar.

  2. 2. Investor mulai meragukan keuntungan dari investasi AI

    Ilustrasi merasa ragu
    Ilustrasi merasa ragu (pexels.com/August de Richelieu)

    Salah satu pemicu utama penurunan saham teknologi China adalah munculnya keraguan mengenai kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan dari investasi AI. Sebelumnya, investor begitu antusias terhadap perkembangan teknologi ini sehingga bersedia membeli saham perusahaan dengan valuasi tinggi. Namun seiring berjalannya waktu, perhatian mulai bergeser pada pertanyaan yang lebih mendasar, yaitu seberapa besar keuntungan yang benar-benar bisa diperoleh dari investasi tersebut. Pasalnya, pengembangan AI membutuhkan biaya besar untuk membangun infrastruktur, membeli perangkat keras, hingga mengembangkan model teknologi.

    Benjamin Cavender dari China Market Research Group menilai bahwa penurunan saham awalnya dipicu oleh aksi ambil untung setelah reli panjang. Namun, situasinya berkembang menjadi evaluasi yang lebih serius terhadap kemampuan pendapatan perusahaan dalam membenarkan tingginya valuasi saham. Artinya, investor mulai mempertanyakan apakah pertumbuhan industri AI benar-benar sebanding dengan harga saham yang sudah terlanjur mahal. Jika keuntungan perusahaan gak bisa mengikuti ekspektasi pasar, tekanan terhadap harga saham berpotensi berlanjut.

    Kekhawatiran serupa disampaikan Tai Hui, kepala strategi pasar Asia-Pasifik di JPMorgan Asset Management. Menurutnya, investor ingin melihat bagaimana perusahaan teknologi China mengubah pengeluaran besar untuk AI menjadi pendapatan dan keuntungan nyata. Beberapa perusahaan AI memang sempat mendapatkan sambutan positif ketika melantai di bursa melalui penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO). Namun, antusiasme tersebut gak selalu bertahan setelah investor mulai memperhatikan prospek keuntungan jangka panjangnya.

    Situasi ini juga memperlihatkan perbedaan antara perkembangan teknologi dan keberhasilan bisnis. Sebuah perusahaan bisa saja memiliki produk AI yang canggih dan menarik perhatian publik, tapi belum tentu mampu menjualnya secara menguntungkan. Ketika biaya operasional dan investasi terus meningkat, sementara pendapatan belum berkembang sesuai harapan, margin keuntungan perusahaan bisa semakin tertekan. Inilah salah satu persoalan yang membuat investor mulai lebih berhati-hati terhadap saham AI China.

  3. 3. Perlambatan ekonomi China ikut memperburuk keadaan

    ilustrasi Zhapulu Bridge, Waitan, Huangpu, Shanghai, China
    ilustrasi Zhapulu Bridge, Waitan, Huangpu, Shanghai, China (unsplash.com/Dongsh)

    Persoalan yang dihadapi perusahaan teknologi China ternyata gak berhenti pada investasi AI. Kondisi ekonomi dalam negeri juga ikut memberikan tekanan terhadap prospek bisnis mereka. Salah satu masalah terbesarnya adalah perlambatan sektor properti yang sudah berlangsung cukup lama dan melemahkan kepercayaan rumah tangga. Ketika masyarakat lebih memilih menyimpan uang daripada membelanjakannya, aktivitas konsumsi ikut melambat dan berdampak pada bisnis perusahaan teknologi.

    Situasi tersebut cukup berpengaruh terhadap perusahaan internet besar yang mengandalkan pendapatan dari iklan dan perdagangan elektronik atau e-commerce. Ketika konsumen mengurangi pengeluaran, perusahaan berpotensi menghadapi penurunan aktivitas transaksi dan belanja iklan. Padahal, pendapatan dari kedua sektor tersebut menjadi salah satu penopang bisnis sejumlah raksasa teknologi China. Artinya, meskipun perkembangan AI menawarkan peluang baru, perusahaan tetap harus menghadapi persoalan ekonomi yang memengaruhi bisnis utamanya.

    Tekanan serupa juga terlihat pada CATL yang sebenarnya masih mencatat pertumbuhan pendapatan cukup tinggi. Pada kuartal III 2026, produsen baterai tersebut membukukan kenaikan pendapatan sekitar 59 persen, tapi laba bersihnya hanya meningkat sekitar 15 persen. Kesenjangan ini memperlihatkan bahwa pertumbuhan penjualan belum tentu menghasilkan peningkatan keuntungan dalam proporsi yang sama. Persaingan industri, perubahan komposisi produk, serta penyesuaian pajak dan insentif turut menekan profitabilitas perusahaan.

    Benjamin Cavender menilai persoalan CATL terletak pada kesenjangan antara pertumbuhan bisnis dan kemampuan menghasilkan keuntungan. Sementara itu, Vey-Sern Ling, penasihat senior ekuitas di Union Bancaire Privée, memperingatkan bahwa penurunan profitabilitas per unit produk dapat membebani kinerja keuangan perusahaan dalam waktu dekat. Kondisi ini menjadi gambaran tantangan yang lebih luas bagi produsen teknologi China. Ekspansi bisnis yang cepat ternyata gak selalu diikuti peningkatan margin keuntungan yang sehat.

  4. 4. Pembatasan teknologi dari AS menambah tekanan bagi perusahaan China

    ilustrasi Washington DC, gedung putih, Amerika Serikat
    ilustrasi Washington DC, gedung putih, Amerika Serikat (unsplash.com/Andy Feliciotti)

    Selain persoalan keuntungan dan kondisi ekonomi domestik, perusahaan teknologi China juga harus menghadapi ketidakpastian geopolitik. Salah satu kekhawatiran investor adalah kemungkinan Amerika Serikat memperluas pembatasan terhadap penggunaan perangkat buatan China di pusat data atau data center. Kebijakan semacam ini berpotensi membatasi akses perusahaan China ke pasar internasional. Padahal, sebagian produsen teknologi berharap bisa mendapatkan pendapatan besar dari meningkatnya kebutuhan infrastruktur AI di berbagai negara.

    Menurut laporan Reuters pada 26 Oktober 2026, saham sejumlah perusahaan pemasok komponen optik untuk pusat data mengalami penurunan sekitar 60 persen dari level tertingginya pada Juni dan Juli. Kekhawatiran terhadap kemungkinan pembatasan pasar AS menjadi salah satu faktor yang membebani perusahaan tersebut. Investor mulai mempertanyakan apakah produsen China masih bisa mengandalkan permintaan global untuk mempertahankan pertumbuhan bisnisnya. Jika akses ke pasar luar negeri semakin terbatas, perusahaan mungkin harus lebih bergantung pada permintaan domestik.

    Tantangan lain datang dari persaingan teknologi yang semakin ketat di dalam negeri. Banyak perusahaan China berlomba mengembangkan semikonduktor, perangkat AI, dan berbagai komponen pendukung lainnya. Persaingan tersebut berpotensi memicu perang harga karena setiap perusahaan berusaha mendapatkan pelanggan dan memperluas pangsa pasar. Ketika harga produk semakin kompetitif, keuntungan yang diperoleh perusahaan bisa ikut menyusut meskipun permintaan terhadap teknologi AI terus meningkat.

    Di sisi lain, China juga masih menghadapi keterbatasan akses terhadap chip AI paling canggih akibat pembatasan ekspor Amerika Serikat. Pemerintah China memang terus mendorong pengembangan prosesor dalam negeri untuk mengurangi ketergantungan pada teknologi asing. Namun, kemampuan produsen lokal dalam menghasilkan chip canggih dengan jumlah memadai masih menjadi tantangan. Menurut Christopher Beddor, wakil direktur riset China di Gavekal Dragonomics, akses terhadap chip merupakan salah satu hambatan utama bagi ambisi AI China dalam jangka panjang.

  5. 5. Apakah saham teknologi China masih berpeluang pulih?

    ilustrasi chip, industri teknologi, manufaktur, semikonduktor
    ilustrasi chip, industri teknologi, manufaktur, semikonduktor (unsplash.com/Brian Kostiuk)

    Meski mengalami penurunan tajam, kondisi tersebut gak otomatis berarti seluruh industri AI China akan mengalami kemunduran, lho. Beberapa perusahaan di sektor semikonduktor justru masih memiliki peluang pertumbuhan karena kebutuhan chip terus meningkat. Brendan Ahern, kepala investasi di KraneShares, melihat bahwa perusahaan yang tergabung dalam STAR Board masih mendapatkan manfaat dari belanja semikonduktor oleh perusahaan teknologi China maupun Amerika Serikat. Hal ini memperlihatkan bahwa tekanan pasar gak dirasakan secara merata oleh semua perusahaan teknologi.

    Peluang pemulihan juga masih terbuka apabila kondisi pasar saham Amerika Serikat membaik. Jason Hsu, ketua Rayliant Global Advisors, menilai bahwa pelemahan saham teknologi China turut dipengaruhi oleh penurunan pasar saham AS dan meningkatnya keraguan investor terhadap hasil investasi AI. Dengan demikian, pemulihan saham teknologi Amerika berpotensi memberikan sentimen positif bagi pasar China. Namun, faktor domestik seperti lemahnya konsumsi dan kondisi sektor properti tetap perlu diperhatikan.

    Pemerintah China juga mulai mengambil langkah untuk menahan tekanan pasar. Menurut laporan Yahoo Finance pada 3 November 2026, otoritas China mengumumkan fasilitas pertukaran likuiditas dari bank sentral yang diajukan oleh 31 perusahaan sekuritas dan pengelola dana dengan nilai lebih dari 100 miliar yuan. Jumlah tersebut setara sekitar US$15 miliar atau Rp251,25 triliun dengan asumsi kurs Rp16.750 per dolar AS. Pemerintah juga berupaya menurunkan biaya pembelian kembali saham dan mendorong perusahaan teknologi besar melakukan buyback. Meski demikian, langkah tersebut belum cukup untuk mempertahankan kenaikan harga saham secara konsisten.

    Tai Hui dari JPMorgan Asset Management menilai bahwa penurunan sektor properti masih menjadi hambatan mendasar bagi pasar China. Masyarakat yang semakin berhati-hati dalam membelanjakan uang cenderung memilih menyimpan tabungan dalam bentuk tunai daripada menginvestasikannya ke saham. Di sisi lain, valuasi saham yang sudah lebih rendah dapat membatasi potensi penurunan lebih lanjut, meskipun belum tentu langsung memicu kenaikan. Benjamin Cavender juga menilai bahwa pemulihan berkelanjutan membutuhkan pendapatan perusahaan yang lebih stabil, hasil investasi AI yang lebih jelas, serta peningkatan permintaan domestik.

    Kondisi saham raksasa teknologi China anjlok memperlihatkan bahwa antusiasme terhadap AI gak selalu sejalan dengan kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan. Fenomena ini bisa menjadi tanda bahwa gelembung investasi AI di China mulai mengempis, terutama pada perusahaan dengan valuasi tinggi tapi prospek pendapatan yang belum jelas.

    Meski begitu, bukan berarti industri AI China kehilangan masa depannya karena peluang pertumbuhan masih terbuka di sektor semikonduktor dan teknologi lainnya. Bagi investor, hal terpenting sekarang adalah melihat apakah perusahaan mampu mengubah inovasi AI menjadi keuntungan bisnis yang berkelanjutan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Related Articles

See More