Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Dony Oskaria Ungkap Restrukturisasi WIKA Dikawal Ketat

Dony Oskaria Ungkap Restrukturisasi WIKA Dikawal Ketat
Kepala Badan Pengaturan (BP) BUMN sekaligus Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria. (IDN Times/Vadhia Lidyana)
  • BP BUMN mengawal ketat restrukturisasi WIKA dengan menuntut pemetaan kebutuhan, kewajiban, dan kemampuan keuangan berdasarkan kondisi riil, bukan perbaikan administratif semata.
  • Dony Oskaria kembali memanggil direksi WIKA untuk membahas restrukturisasi yang ditujukan memperkuat fundamental, mengurangi kewajiban, serta memberi ruang bagi pemulihan kinerja dan keberlanjutan bisnis.
  • WIKA mencatat rugi bersih Rp1,13 triliun pada kuartal I-2026, aset Rp48,68 triliun, dan liabilitas Rp48,17 triliun; aset yang dapat didivestasi disiapkan untuk mengurangi utang.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Kepala Badan Pengaturan Badan Usaha Milik Negara (BP BUMN), Dony Oskaria membeberkan kabar terbaru restrukturisasi PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA). Dony mengatakan, restrukturisasi WIKA dikawal ketat dan hasilnya harus menggunakan angka dan kondisi yang benar-benar mencerminkan posisi WIKA.

“Kita yang realistis saja, enggak mau yang akal-akalan. Yang enggak ada nanti caranya beda lagi,” kata Dony di Jakarta, dikutip Jumat, (21/8/2026).

  1. 1. Panggil Direksi WIKA

    9b68a823-caaf-4965-aa2e-66941914529d.jpeg
    Kepala Badan Pengaturan Badan Usaha Milik Negara (BP BUMN), Dony Oskaria memanggil jajaran Direksi PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA). (dok. BP BUMN)

    Dony juga telah memanggil Direksi WIKA untuk membahas kondisi terkini proses restrukturisasi BUMN karya tersebut. Dony mengatakan, proses restrukturisasi harus dimulai dari pemetaan kebutuhan yang nyata agar solusi yang disiapkan dapat dijalankan dan memberikan dampak langsung terhadap perbaikan perusahaan.

    Hal itu dilakukan untuk memastikan terlebih dahulu berapa kebutuhan riil yang harus diperbaiki, termasuk kewajiban yang benar-benar harus diselesaikan dan kemampuan perusahaan untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Dengan pendekatan tersebut, restrukturisasi tidak hanya menghasilkan perbaikan secara administratif, tetapi juga memperkuat kondisi keuangan perusahaan secara nyata.

    “Kita pingin tahu dulu realnya berapa yang harus diperbaiki. Kita mau tahu sebenarnya yang dibutuhkan, mampunya yang real (kondisi keuangan) yang immediately bisa kita collect,” ujar Dony.

  2. 2. Aset dijual buat kurangi beban utang

    Gedung  PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA). (Dok/Humas WIKA)
    Gedung PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA). (Dok/Humas WIKA)

    Selain melalui penataan laporan keuangan, restrukturisasi WIKA juga diarahkan pada optimalisasi aset yang dapat didivestasi. Aset-aset tersebut diharapkan dapat membantu mengurangi kewajiban utang dan memperbaiki struktur keuangan perusahaan.

    Dony mengatakan, proses restrukturisasi WIKA tidak berhenti pada perbaikan angka di atas kertas. Langkah pembenahan diarahkan untuk memperkuat fundamental perusahaan, mengurangi beban kewajiban, serta memastikan WIKA memiliki ruang yang lebih sehat untuk kembali meningkatkan kinerja dan keberlanjutan bisnisnya.

  3. 3. WIKA masih punya utang Rp48,17 triliun hingga kuartal I-2026

    PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) mencatatkan perolehan kontrak baru senilai Rp15,5 triliun hingga September 2024. (Dok/Istimewa).
    PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) mencatatkan perolehan kontrak baru senilai Rp15,5 triliun hingga September 2024. (Dok/Istimewa).

    Hingga saat ini, WIKA belum merilis laporan keuangan kuartal II-2026. Berdasarkan keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), pada 31 Juli 2026, WIKA menyatakan tujuan melakukan peninjauan terbatas atau limited review pada laporan keuangan kuartal II-2026.

    Hingga kuartal I-2026, WIKA masih mencatatkan rugi bersih Rp1,13 triliun, naik 45,73 persen dibandingkan kuartal I-2025 yang sebesar Rp780,17 miliar.

    Aset WIKA per 31 Maret 2026 tercatat Rp48,68 triliun, turun 2,92 persen dari posisi 31 Desember 2025 yang sebesar Rp50,15 triliun.

    Perusahaan masih memiliki liabilitas sebesar Rp48,17 triliun per 31 Maret 2026. Namun, angka itu turun 0,61 persen dari posisi 31 Desember 2025 yang sebesar Rp48,5 triliun.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More