(kiri ke kanan) SVP Group Sustainability & Corporate Communication Ahmad Reza, Direktur Wholesale and International Service Telkom Budi Satria Dharma Purba, Direktur Utama Telkom Dian Siswarini, Direktur Enterprise and Business Service Telkom Veranita Yosephine, Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Telkom Arthur Angelo Syailendra serta Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Telkomsel Daru Mulyawan pada kegiatan Public Expose Live 2026, Senin (7/9). (dok. Telkom)
Sejalan dengan hal tersebut, Telkom terus mengoptimalkan kekuatan infrastruktur digital sebagai salah satu sumber value creation terbesar. Pada segmen B2B Infrastructure, InfraNexia diarahkan menjadi neutral carrier yang melayani kebutuhan ekosistem TelkomGroup sekaligus membuka ruang pertumbuhan dari pelanggan eksternal. Telkom saat ini mempersiapkan spin-off tahap dua yang diharapkan rampung pada kuartal III 2026 agar InfraNexia dapat sepenuhnya beroperasi sebagai entitas utama yang menggarap bisnis wholesale connectivity TelkomGroup dan menyerap potensi lebih besar.
Optimalisasi juga dilakukan pada bisnis data center. Pada Semester I 2026, pendapatan NeutraDC mencapai Rp867 miliar atau tumbuh 11 persen YoY, dengan total kapasitas efektif mencapai 49,9 MW. Permintaan terhadap fasilitas hyperscale data center (HDC) tetap kuat, ditandai dengan okupansi HDC Cikarang yang mencapai 96 persen, sementara HDC Batam ditargetkan mulai beroperasi pada Semester II- 2026 dengan kapasitas awal 6 MW. NeutraDC juga akan terus menambah kapasitas secara disiplin melalui pertumbuhan organik dan strategic partnership.
Area prioritas pada segmen B2B ICT tetap menunjukkan pertumbuhan positif pada periode ini. Hal tersebut tercermin dari pendapatan SME yang tumbuh 11,5 persen dan jumlah pelanggan IndiBiz yang meningkat 11,7 persen menjadi 756 ribu. Penguatan bisnis enterprise juga terus dilakukan untuk menangkap potensi pertumbuhan yang sangat besar seiring meningkatnya kebutuhan transformasi digital. Salah satunya melalui rencana pengambilalihan 100 persen Digiserve yang akan memperkuat kapabilitas B2B ICT Telkom dalam menghadirkan solusi end-to-end bagi pelanggan di berbagai sektor.
Di segmen B2C, Telkomsel melanjutkan momentum pertumbuhan di tengah dinamika makroekonomi dan iklim kompetisi yang terus berkembang. Pendapatan tumbuh 5,3 persen secara tahunan menjadi Rp28,0 triliun, sementara EBITDA meningkat 10,3 persen dan laba bersih tumbuh 24,9 persen. Perbaikan kinerja juga tercermin dari ARPU mobile yang meningkat 11,6 persen secara tahunan menjadi Rp46 ribu, di tengah basis pelanggan yang lebih terkonsolidasi. Kinerja tersebut mencerminkan fokus Telkomsel untuk membangun pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan melalui peningkatan kualitas pelanggan, pengalaman layanan, serta efisiensi operasional, sekaligus menjaga fundamental keuangan yang sehat.
Telkomsel juga terus memperkuat fondasi pertumbuhan jangka panjang melalui tambahan 100 MHz spektrum pada pita 700 MHz dan 2.600 MHz, sehingga total portofolio spektrum meningkat menjadi 265 MHz. Tambahan spektrum tersebut akan memperkuat cakupan dan kapasitas jaringan, mendukung pengembangan 5G, serta meningkatkan kualitas pengalaman digital pelanggan. Pemanfaatannya akan dilakukan secara bertahap dan berbasis kebutuhan dengan tetap mengedepankan disiplin alokasi modal, produktivitas spektrum, dan visibilitas terhadap imbal hasil, untuk menjaga keseimbangan antara pertumbuhan, kualitas jaringan, dan profitabilitas yang berkelanjutan.
Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Telkomsel Daru Mulyawan mengatakan, “Kami tetap berfokus membangun pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan dengan mengutamakan kualitas pelanggan, pengalaman layanan, serta disiplin investasi. Ke depan, tambahan 100 MHz spektrum akan semakin memperkuat kapasitas dan kualitas jaringan serta mendukung pengembangan 5G. Kami akan memanfaatkan tambahan spektrum ini secara bertahap sesuai dengan kebutuhan pasar, dengan tetap menjaga disiplin investasi dan visibilitas terhadap imbal hasil untuk menciptakan nilai jangka panjang bagi pelanggan dan seluruh pemangku kepentingan.”