Jakarta, IDN Times - Kenaikan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 3,75 persen-4 persen berpotensi meningkatkan tekanan terhadap pasar keuangan negara berkembang, termasuk Indonesia.
Kenaikan tersebut menjadi yang pertama dilakukan The Fed sejak Juli 2023. Dalam keputusan terbarunya, The Fed juga masih membuka ruang kenaikan suku bunga lebih lanjut. Proyeksi terbaru menunjukkan median suku bunga acuan The Fed pada akhir 2026 berada di sekitar 4,1 persen, yang mengindikasikan potensi satu kali kenaikan tambahan tahun ini.
Lead Economist Danamon Irman Faiz mengatakan, kondisi tersebut berpotensi mendorong kenaikan imbal hasil surat utang Amerika Serikat (AS) dan penguatan dolar AS. Dampaknya, tekanan terhadap nilai tukar rupiah berpotensi bertahan.
"Untuk kenaikan Fed 25 bps ke 3,75 persen-4 persen memang meningkatkan tekanan terhadap pasar keuangan emerging markets, termasuk Indonesia. Apalagi dot plot terbaru menunjukkan median Fed Funds Rate akhir 2026 di 4,1 persen, yang mengindikasikan masih ada ruang satu kali kenaikan lagi," ujar Irman kepada IDN Times, Kamis (17/9/2026).
