ilustrasi pabrik minyak (pexels.com/Zakelj)
Dalam pernyataan resminya, The Fed menyebut perekonomian AS masih tumbuh kuat di tengah ketidakpastian geopolitik. Bank sentral juga menilai belanja domestik tetap tangguh, produktivitas meningkat pesat, investasi modal tetap kokoh, pertambahan lapangan kerja sejalan dengan angkatan kerja, serta tingkat pengangguran relatif stabil.
“Aktivitas ekonomi berkembang dengan kecepatan yang kuat. Meskipun ketidakpastian tetap tinggi yang disebabkan, sebagian, oleh perkembangan geopolitik, belanja domestik tetap tangguh. Pertumbuhan produktivitas kuat, dan investasi modal kokoh. Pertambahan lapangan kerja telah sejalan dengan angkatan kerja, dan tingkat pengangguran sedikit berubah,” kata The Fed, dikutip Al Jazeera.
Meski demikian, inflasi yang masih tinggi menjadi perhatian utama dalam penentuan kebijakan berikutnya. Kenaikan tajam harga gas, solar, dan minyak mentah menjadi pemicu inflasi yang membebani konsumen sekaligus berdampak pada perekonomian secara luas.
Indeks harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE), yang menjadi salah satu acuan utama The Fed dalam mengukur inflasi, dijadwalkan dirilis pada Kamis dan diperkirakan mencapai 3,7 persen. Ekonom Morgan Stanley menilai pernyataan resmi bank sentral mengisyaratkan bahwa pengetatan moneter belum sepenuhnya berakhir, sementara keputusan selanjutnya akan bergantung pada data ekonomi terbaru untuk mengarahkan inflasi menuju target 2 persen.