Korsel Catat Penurunan Sentimen Konsumen pada Periode Oktober 2026

- Sentimen konsumen Korea Selatan turun 1,2 poin menjadi 105,4 pada Oktober 2026, berbalik melemah setelah naik pada September, meski tetap di atas ambang optimisme 100.
- Bank of Korea mencatat koreksi KOSPI sebesar 15,7 persen dan ketegangan militer berkepanjangan di Timur Tengah menekan keyakinan masyarakat serta pandangan terhadap ekonomi saat ini dan masa depan.
- Prospek pendapatan rumah tangga turun ke 101 di tengah koreksi ekuitas dan kenaikan suku bunga; ekspektasi inflasi 12 bulan tetap 2,7 persen setelah suku bunga acuan mencapai 3,00 persen.
Jakarta, IDN Times - Sentimen konsumen di Korsel melemah pada Oktober 2026 akibat koreksi pasar saham domestik dan risiko geopolitik yang berkepanjangan di kawasan Timur Tengah. Data bank sentral Korea Selatan, Bank of Korea (BOK), yang dirilis pada Selasa (27/10/2026), menunjukkan indikator keyakinan konsumen tersebut berbalik menurun setelah sempat naik pada bulan sebelumnya.
Penurunan keyakinan masyarakat terjadi setelah indeks komposit sentimen konsumen sempat menguat pada September 2026. Meskipun mengalami pelemahan bulanan, tingkat keyakinan konsumen Korsel secara keseluruhan masih berada di atas ambang batas 100 poin.
1. Pergerakan indeks sentimen konsumen pada Oktober 2026

ilustrasi warga berjalan di jalan komersial Seoul (unsplash.com/Luke Paris) Berdasarkan data BOK, composite consumer sentiment index (CCSI) berada pada level 105,4 pada Oktober 2026. Angka tersebut tercatat turun 1,2 poin dibandingkan bulan September 2026. Penurunan ini membalikkan tren dari bulan sebelumnya yang sempat mencatat peningkatan sebesar 2,1 poin.
Angka indeks yang masih berada di atas batas acuan 100 mengindikasikan bahwa jumlah orang yang optimistis masih lebih banyak dibandingkan mereka yang pesimistis. Namun, ketegangan geopolitik dan volatilitas pasar saham lokal mengikis kepercayaan konsumen.
Data indeks ini dihimpun berdasarkan survei bank sentral terhadap 2.500 rumah tangga di seluruh negeri, sebagaimana dilansir The Korea Times. Survei nasional tersebut dilaksanakan oleh BOK dalam rentang waktu antara 13 hingga 20 Oktober 2026.
2. Koreksi bursa saham KOSPI dan ketegangan geopolitik

ilustrasi pasar saham (pexels.com/Pixabay) BOK menyatakan bahwa sentimen konsumen sangat tertekan oleh dinamika pasar modal dan situasi internasional. "Pandangan pesimistis meningkat karena koreksi pasar saham dan ketegangan militer yang berkepanjangan di Timur Tengah sangat membebani sentimen konsumen," sebut BOK.
Indeks saham gabungan Korsel, Korea Composite Stock Price Index (KOSPI), tercatat merosot 15,7 persen pada tiga pekan pertama Oktober 2026. Pelemahan indeks saham acuan ini terjadi di tengah kekhawatiran baru investor terkait masa depan investasi infrastruktur kecerdasan buatan (AI) berskala besar.
Sementara itu, subindeks penilaian masyarakat terhadap kondisi ekonomi saat ini turun satu poin menjadi 82 pada Oktober 2026. Pada saat yang sama, indeks pandangan masyarakat terhadap kondisi ekonomi domestik masa depan juga turun dua poin ke level 88.
3. Prospek ekonomi domestik dan ekspektasi inflasi

ilustrasi minimarket (pexels.com/竟傲 汤) Penurunan dua poin pada prospek kondisi ekonomi domestik dipicu oleh volatilitas pasar saham dan ketidakpastian konflik Timur Tengah yang membayangi dampak positif dari ekspor yang kuat. Selain itu, subindeks untuk prospek pendapatan rumah tangga turun satu poin ke level 101 akibat tekanan koreksi pasar ekuitas serta kenaikan suku bunga pasar.
Di tengah dinamika suku bunga, BOK tercatat telah menaikkan suku bunga acuan secara berturut-turut pada Juli dan Agustus 2026 menjadi 3,00 persen. Sementara itu, ekspektasi inflasi untuk proyeksi 12 bulan ke depan bertahan tidak berubah di angka 2,7 persen pada Oktober 2026 dibandingkan bulan sebelumnya, seperti dikutip Xinhua.
Tekanan kenaikan dari lonjakan harga minyak global dinetralisasi oleh sejumlah faktor penurun. Faktor penurun tersebut mencakup kenaikan suku bunga acuan oleh BOK dan kebijakan pemerintah terkait penetapan batas harga tertinggi minyak bumi.























