Peta Gerai Starbucks Dunia 2026: Indonesia Kini Peringkat 10

Amerika Serikat memimpin dengan 16.933 gerai Starbucks pada kuartal III 2026, diikuti China 8.103 gerai; keduanya menguasai sekitar 61% dari 41.034 lokasi global.
Indonesia berada di peringkat ke-10 dunia dengan 592 gerai, melampaui Thailand, Filipina, dan India, meski jumlahnya turun 17 lokasi dibandingkan kuartal III 2024.
China mencatat penambahan gerai terbesar, 797 lokasi dalam dua tahun; sementara Starbucks membukukan pendapatan kuartal III 2026 sebesar US$9,3 miliar meski pendapatan tahunan turun 1,4%.
Starbucks menjadi salah satu jaringan kedai kopi terbesar di dunia dengan puluhan ribu gerai yang tersebar di berbagai negara. Kehadirannya mudah ditemukan di kota-kota besar, termasuk Jakarta, Bandung, Surabaya, hingga sejumlah kota lain di Indonesia. Namun, pernahkah kamu penasaran negara mana yang memiliki gerai Starbucks terbanyak di dunia?
Indonesia berhasil masuk dalam daftar 10 besar, meskipun jumlah gerainya mengalami penurunan selama dua tahun terakhir. Berdasarkan data kuartal III 2026, Indonesia menempati peringkat ke-10 dunia dengan total 592 gerai Starbucks.
Persebaran gerai Starbucks juga memperlihatkan perbedaan perkembangan bisnis di setiap negara. Ada negara yang terus menambah gerai dalam jumlah besar, tapi ada pula yang mengalami penurunan akibat berbagai tantangan pasar. Perubahan ini menarik untuk diperhatikan karena jumlah gerai dapat memberikan gambaran tentang strategi ekspansi perusahaan.
Lantas, bagaimana posisi Indonesia dibandingkan negara lain, dan negara mana saja yang mengalami pertumbuhan paling besar? Berikut lima hal menarik dari peta gerai Starbucks dunia 2026.
1. Amerika Serikat dan China mendominasi jumlah gerai Starbucks

ilustrasi Starbucks, kedai kopi, kafe, tempat nongkrong, tempat ngopi, kumpul bareng (pexels.com/Ejov Igor) Amerika Serikat masih menjadi negara dengan jumlah gerai Starbucks terbanyak di dunia pada kuartal III 2026. Totalnya mencapai 16.933 gerai, meningkat 203 lokasi dibandingkan periode yang sama pada 2024. Angka tersebut menunjukkan kuatnya posisi Starbucks di negara asalnya, tempat perusahaan ini mulai beroperasi pada 1971. Dengan jaringan yang tersebar luas, Starbucks telah menjadi bagian dari industri kopi dan kehidupan sehari-hari masyarakat Amerika Serikat.
China menempati posisi kedua dengan 8.103 gerai, bertambah 797 lokasi dalam dua tahun. Penambahan tersebut menjadi yang terbesar dibandingkan negara lain, bahkan hampir empat kali lipat pertumbuhan di Amerika Serikat. Jika digabungkan, Amerika Serikat dan China memiliki 25.036 gerai atau sekitar 61 persen dari total 41.034 lokasi Starbucks di seluruh dunia. Angka ini menunjukkan bahwa kedua negara tersebut memegang peranan besar dalam jaringan bisnis global Starbucks.
2. Indonesia masuk 10 besar dunia, tapi jumlah gerainya menurun

ilustrasi Starbucks, kedai kopi, kafe, tempat nongkrong, tempat ngopi (unsplash.com/Trương Tuyết Ly) Indonesia menempati peringkat ke-10 dalam daftar negara dengan gerai Starbucks terbanyak di dunia. Pada kuartal III 2026, jumlah gerainya tercatat sebanyak 592 lokasi, termasuk gerai yang dioperasikan langsung oleh perusahaan maupun melalui mitra berlisensi. Posisi ini menempatkan Indonesia di atas Thailand, Filipina, dan India dalam daftar tersebut. Dengan jumlah itu, Indonesia juga menjadi salah satu pasar penting Starbucks di kawasan Asia Tenggara.
Meski demikian, jumlah gerai Starbucks di Indonesia mengalami penurunan dibandingkan dua tahun sebelumnya. Pada kuartal III 2024, Indonesia masih memiliki 609 gerai, sehingga terjadi pengurangan sebanyak 17 lokasi hingga kuartal III 2026. Penurunan ini gak otomatis berarti minat masyarakat terhadap Starbucks melemah secara keseluruhan. Perubahan jumlah gerai dapat dipengaruhi berbagai faktor, seperti evaluasi lokasi, strategi operasional, dan kondisi bisnis, tapi data yang tersedia gak menjelaskan penyebab spesifik penurunan di Indonesia.
3. Korea Selatan dan Jepang memiliki lebih dari 2.000 gerai

ilustrasi Starbucks, kedai kopi, kafe, tempat nongkrong, tempat ngopi, es kopi (pexels.com/Erik Mclean) Setelah Amerika Serikat dan China, Korea Selatan serta Jepang menjadi dua negara Asia dengan jaringan Starbucks terbesar. Korea Selatan berada di posisi ketiga dengan 2.174 gerai, sedangkan Jepang menempati peringkat keempat dengan 2.138 gerai. Keduanya juga mencatatkan pertumbuhan selama dua tahun terakhir, masing-masing bertambah 237 dan 190 lokasi. Perkembangan tersebut memperlihatkan kuatnya kehadiran Starbucks di pasar Asia Timur.
Di luar kedua negara tersebut, Kanada berada di peringkat kelima dengan 1.438 gerai, disusul Inggris dengan 1.377 gerai dan Meksiko dengan 968 gerai. Turkiye menempati posisi kedelapan dengan 780 gerai, sementara Taiwan berada di peringkat kesembilan dengan 614 gerai. Indonesia menyusul di urutan kesepuluh dengan 592 gerai. Menariknya, jumlah gerai Starbucks di Korea Selatan dan Jepang masing-masing jauh lebih banyak dibandingkan jumlah gerai di satu negara Eropa mana pun dalam daftar tersebut.
4. China tumbuh paling pesat, sedangkan Malaysia kehilangan banyak gerai

ilustrasi Starbucks, kedai kopi, kafe, tempat nongkrong, tempat ngopi, China (pexels.com/Vincent Tan) Perubahan jumlah gerai Starbucks selama periode kuartal III 2024 hingga kuartal III 2026 menunjukkan perkembangan yang berbeda di setiap negara. China mencatatkan penambahan terbesar, yaitu 797 gerai, disusul Korea Selatan dengan 237 gerai dan Amerika Serikat dengan 203 gerai. Jepang juga mengalami pertumbuhan sebanyak 190 gerai, sementara Meksiko bertambah 118 lokasi. Thailand, Filipina, India, Turkiye, dan Inggris turut mencatatkan penambahan gerai dalam periode tersebut.
Sebaliknya, Malaysia mengalami penurunan paling besar dengan pengurangan 136 gerai dalam dua tahun. Arab Saudi menyusul dengan penurunan 59 gerai, sedangkan Kanada kehilangan 30 gerai dan Indonesia berkurang 17 gerai. Di Malaysia dan sejumlah negara Timur Tengah, termasuk Yordania dan Kuwait, boikot yang berkaitan dengan konflik Gaza turut memberikan tekanan terhadap bisnis Starbucks. Meski begitu, penutupan gerai gak bisa dikaitkan sepenuhnya dengan boikot karena keputusan bisnis dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor.
Kanada juga menghadapi tantangan dari persaingan kedai kopi independen dan alternatif yang menawarkan harga lebih terjangkau. Kondisi ini menantang posisi Starbucks sebagai tempat berkumpul di luar rumah dan kantor. Persaingan tersebut memperlihatkan bahwa popularitas merek tidak selalu menjamin pertumbuhan jumlah gerai. Perusahaan tetap perlu menyesuaikan strategi dengan kebutuhan konsumen dan kondisi pasar di setiap negara.
5. Starbucks masih mencatatkan pendapatan besar di tengah perubahan bisnis

ilustrasi Starbucks, kedai kopi, kafe, tempat nongkrong, tempat ngopi, es kopi (pexels.com/Dainé Zeferino) Meskipun jumlah gerainya menurun di sejumlah negara, Starbucks masih mencatatkan pendapatan yang besar. Hasil keuangan kuartal III 2026 menunjukkan pendapatan perusahaan mencapai US$9,3 miliar atau sekitar Rp155,31 triliun, dengan asumsi kurs Rp16.700 per dolar AS. Pada periode yang sama, penjualan di gerai yang telah beroperasi setidaknya selama periode pembanding yang ditentukan perusahaan meningkat 7,9 persen secara global. Hal ini menunjukkan bahwa kinerja bisnis gak hanya ditentukan oleh jumlah gerai, tapi juga oleh perkembangan penjualan di lokasi yang sudah beroperasi.
Namun, pendapatan Starbucks secara tahunan tercatat turun 1,4 persen. Salah satu faktor yang turut memengaruhi angka tersebut adalah perubahan model operasional bisnis Starbucks di China menuju skema usaha patungan berlisensi. Dalam model ini, perusahaan bekerja sama dengan mitra untuk mengoperasikan gerai, sehingga keterlibatan langsung Starbucks dalam kegiatan operasional sehari-hari dapat berkurang. Sekitar 67 persen gerai Starbucks dalam data yang dibahas telah berstatus berlisensi, memperlihatkan pentingnya peran mitra dalam jaringan bisnis global perusahaan.
Ke depannya, perkembangan Starbucks akan bergantung pada kemampuannya menyeimbangkan ekspansi internasional, persaingan lokal, dan perubahan preferensi konsumen. Penambahan gerai memang bisa memperluas jangkauan merek, tapi perusahaan juga perlu memastikan setiap lokasi memiliki peluang bisnis yang memadai. Bagi Indonesia, perubahan jumlah gerai menjadi hal menarik untuk diperhatikan dalam beberapa tahun mendatang. Terlebih, Indonesia masih berada dalam 10 besar negara dengan jaringan Starbucks terbesar di dunia.
Peta gerai Starbucks dunia pada kuartal III 2026 memperlihatkan bahwa Amerika Serikat dan China masih mendominasi jaringan global perusahaan, sementara Korea Selatan dan Jepang menjadi pasar penting di Asia. Indonesia berada di peringkat ke-10 dengan 592 gerai, meskipun jumlahnya berkurang 17 lokasi dibandingkan dua tahun sebelumnya.
Di tengah ekspansi di sejumlah negara dan penutupan gerai di pasar lainnya, Starbucks tetap mencatatkan pendapatan kuartalan yang besar. Perkembangan ini menunjukkan bahwa keberhasilan bisnis kopi global bukan hanya ditentukan oleh jumlah gerai, tapi juga oleh strategi operasional dan kemampuan beradaptasi dengan kondisi pasar.























