BCA Kantongi Laba Bersih Rp45,2 Triliun hingga September 2026

- BCA membukukan laba bersih Rp45,2 triliun hingga September 2026, naik 4,2 persen secara tahunan, seiring kinerja intermediasi yang tetap positif.
- Kredit BCA dan entitas anak mencapai Rp1.063 triliun, tumbuh 12,6 persen; DPK naik 8 persen menjadi Rp1.301 triliun, didukung CASA Rp1.103 triliun.
- BCA memproyeksikan pertumbuhan kredit 2026 sebesar 10-12 persen, melampaui target awal RBB 8-10 persen, berdasarkan realisasi kinerja hingga kuartal III.
Jakarta, IDN Times - PT Bank Central Asia Tbk (BCA) membukukan laba bersih sebesar Rp45,2 triliun hingga September 2026. Perolehan tersebut tumbuh 4,2 persen secara tahunan atau year on year (yoy). Presiden Direktur BCA Hendra Lembong mengatakan, pertumbuhan laba tersebut sejalan dengan kinerja intermediasi perseroan yang tetap tumbuh positif.
Dari sisi penyaluran kredit, BCA dan entitas anak mencatatkan kredit sebesar Rp1.063 triliun per September 2026. Nilai tersebut meningkat 12,6 persen secara tahunan. Hendra mengatakan, BCA tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam menyalurkan kredit dengan mempertimbangkan kondisi likuiditas perseroan.
"Penyaluran kredit tersebut mencakup segmen korporasi, komersial, dan usaha kecil dan menengah (UKM)," ungkapnya.
1. Dana pihak ketiga naik 8 persen

Gedung BCA Banjarmasin (commons.wikimedia.org/Ezagren) Dari sisi pendanaan, pertumbuhan kredit ditopang oleh dana murah atau current account and savings account (CASA) yang naik 10,4 persen secara tahunan menjadi Rp1.103 triliun. Sementara itu, total dana pihak ketiga (DPK) meningkat 8 persen secara tahunan menjadi Rp1.301 triliun.
Berdasarkan penggunaannya, kredit produktif BCA mencapai Rp831 triliun atau tumbuh 17,2 persen secara tahunan. Kredit produktif ini terdiri dari kredit korporasi sebesar Rp528,1 triliun, meningkat 20,9 persen secara tahunan.
2. Kredit komersial tumbuh 7,8 persen

Gedung Wisma BCA Foresta/Dok BCA Selanjutnya, kredit komersial tercatat sebesar Rp154,1 triliun atau tumbuh 7,8 persen secara tahunan. Adapun kredit UKM mencapai Rp149,2 triliun, meningkat 15,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
"Pertumbuhan kredit UKM perseroan konsisten berada di atas rata-rata industri perbankan nasional hingga kuartal III-2026;" jelasnya.
Dari sisi kualitas aset, BCA mencatat rasio loan at risk (LAR) sebesar 4,6 persen dan rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) sebesar 1,8 persen per September 2026.
Selain kredit produktif, BCA juga meningkatkan pembiayaan berkelanjutan. Hingga September 2026, kredit berkelanjutan perseroan mencapai Rp 280,3 triliun atau tumbuh 16,3 persen secara tahunan. Nilai tersebut setara dengan 26,4 persen dari total portofolio pembiayaan BCA.
3. Pertumbuhan kredit BCA diproyeksi tetap 10-12 persen

Ilustrasi BCA. Shutterstock/Sulastri Sementara itu, BCA memproyeksikan pertumbuhan kredit sepanjang 2026 mencapai 10 persen-12 persen. Proyeksi ini lebih tinggi dibandingkan dengan target awal dalam Rencana Bisnis Bank (RBB) yang sebesar 8 persen-10 persen.
Direktur BCA Vera Eve Lim mengatakan, perseroan belum merevisi target pertumbuhan kredit dalam RBB. Meski demikian, BCA optimistis pertumbuhan kredit hingga akhir tahun ini bisa melampaui target awal seiring dengan perkembangan kinerja perseroan.
“Kami melihat pertumbuhan kredit BCA pada 2026 berpotensi melampaui 10 persen atau mencapai dua digit,” kata Vera.
Vera menjelaskan, proyeksi pertumbuhan kredit sebesar 10 persen- 12 persen tersebut mempertimbangkan realisasi kinerja BCA hingga kuartal III-2026. Adapun target pertumbuhan kredit dalam RBB tahun ini masih dipatok sebesar 8 persen-10 persen.
Hingga September 2026, BCA mencatatkan penyaluran kredit sebesar Rp 1.063 triliun, tumbuh 12,6% secara tahunan atau year on year (yoy).























