Kick Off Anyer-Panarukan 3R (Road, Route, Roots). (Dok. Pemkab Situbondo)
Bupati Situbondo Yusuf Rio Wahyu Prayogo mengatakan program Anyer-Panarukan 3R dibuat karena Jalan Raya Pos tidak hanya memiliki nilai sejarah. Jalur tersebut juga menjadi tempat masyarakat mencari penghasilan.
“Tidak hanya sebagai Anyer-Panarukan sebagai eksistensi sejarah, tapi bagaimana masa depan itu juga dijaga. Jalan Anyer-Panarukan itu tumbuh dengan UMKM. Banyak pedagang, kehidupan ekonomi bisnis tumbuh di sana,” ujar Rio.
Keberadaan tol membuat pola perjalanan berubah. Namun, jalur lama masih digunakan masyarakat untuk berdagang, mengirim produk, dan menjalankan kegiatan ekonomi sehari-hari.
Karena itu, Rio ingin berbagai potensi di sepanjang jalur Anyer-Panarukan bisa dikembangkan menjadi tujuan yang membuat orang berhenti dan berkunjung. Potensi tersebut meliputi wisata, kuliner, UMKM, sejarah, dan budaya.
“Meskipun sudah ada tol sekarang, tapi saya yakin banyak pengguna jalan yang, apalagi Situbondo itu orang mau ke Bali pasti lewat jalan Anyer-Panarukan. Jadi, kita siapkan, tumbuh kembangnya ekonomi bisnis di sepanjang jalan itu,” tuturnya.
Bagi Situbondo, Panarukan menjadi salah satu bagian penting dari sejarah Jalan Raya Pos. Program Anyer-Panarukan 3R menjadi cara pemerintah daerah memperkenalkan sejarah dan potensi daerah tersebut kepada wilayah lain.
Program itu membawa tiga konsep, yakni Road, Route, dan Roots. Road merujuk pada Jalan Raya Pos sebagai jalur yang menghubungkan berbagai daerah. Route berkaitan dengan perjalanan, perdagangan, dan wisata. Sementara Roots berkaitan dengan sejarah, budaya, identitas, dan kearifan lokal.
“Kita tidak sedang menghidupkan kembali sebuah jalan. Kita sedang menghidupkan kembali cerita tentang perjalanan bangsa. Anyer Panarukan 3R, Road, Route, dan Roots. Dari Anyer ke Panarukan, 1.000 KM untuk Indonesia,” katanya