Trump Turunkan Tarif Impor Alat Pertanian dan Industri Jadi 15 Persen

- Presiden AS Donald Trump menurunkan tarif impor alat pertanian dan industri menjadi 15 persen mulai Juni 2026 hingga Desember 2027 untuk meringankan beban biaya produksi domestik.
- Pemerintah menawarkan tarif 10 persen bagi perusahaan asing yang memakai minimal 85 persen bahan baja atau aluminium asal AS, guna memperkuat industri logam dalam negeri.
- Kebijakan ini muncul di tengah kekhawatiran petani terhadap kenaikan biaya operasional menjelang Pemilu Sela, dipicu fluktuasi harga energi dan pupuk akibat konflik di Timur Tengah.
Jakarta, IDN Times - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump resmi menurunkan tarif impor untuk sejumlah peralatan pertanian dan industri menjadi 15 persen. Langkah ini diambil pemerintah AS di tengah meningkatnya beban biaya produksi yang dihadapi oleh para petani dan produsen domestik.
Kebijakan yang bersifat sementara ini merupakan penyesuaian terbaru terhadap aturan dagang AS terkait impor berbasis baja, aluminium, dan tembaga. Penyesuaian tarif tersebut dijadwalkan berlaku mulai 8 Juni 2026 hingga 31 Desember 2027.
1. Ketentuan penurunan tarif alat pertanian

Melalui aturan terbaru, tarif impor untuk peralatan pertanian tertentu diturunkan dari sebelumnya 25 persen menjadi 15 persen. Jenis barang yang masuk dalam kebijakan ini mencakup mesin pemanen seperti combine dan harvester.
Tarif 15 persen tersebut juga berlaku untuk beberapa produk turunan baja dan aluminium yang berkaitan dengan sektor produksi. Penyesuaian ini di antaranya mencakup komponen pemanas, ventilasi, dan pendingin udara (HVAC) untuk bangunan hunian.
“Menurut penilaian saya, modifikasi sementara ini secara tepat memperhitungkan peran produk-produk tersebut dalam kegiatan ekonomi produktif di Amerika Serikat,” kata Presiden Donald Trump dalam perintah tertulisnya, dilansir Straits Times.
2. Insentif tarif 10 persen bagi industri asing

Pemerintah AS juga menawarkan tarif yang lebih rendah, yakni sebesar 10 persen, bagi perusahaan asing yang memenuhi syarat khusus. Perusahaan luar negeri wajib menggunakan minimal 85 persen bahan baja atau aluminium asal AS pada barang modal mereka.
Syarat tersebut mewajibkan baja harus dilebur dan dituangkan di AS, atau aluminium dilebur dan dicetak di dalam negeri. Kebijakan ini bertujuan untuk mendorong perusahaan asing agar meningkatkan penggunaan logam produksi AS, sekaligus memperkuat basis industri domestik.
Selain itu, kategori peralatan industri yang dikenai tarif 15 persen juga diperluas. Penyesuaian ini mencakup peralatan industri bergerak seperti buldoser dan forklift yang diimpor dari negara mitra yang memiliki perjanjian dagang dengan AS.
3. Antisipasi kenaikan biaya produksi menjelang pemilu sela

Kebijakan relaksasi ini diterbitkan seiring dengan meningkatnya kekhawatiran para petani AS terkait lonjakan biaya operasional menjelang pemilu sela. Tekanan ekonomi tersebut bertambah akibat konflik di Timur Tengah yang memicu fluktuasi harga solar dan pupuk global.
Gangguan di jalur Selat Hormuz menjadi salah satu faktor utama hambatan distribusi. Jalur laut tersebut sangat krusial karena dilalui oleh sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia, serta menjadi rute penting bagi perdagangan pupuk internasional.
Meskipun memberikan kelonggaran pada alat produksi, pemerintah AS tetap mempertahankan tarif tinggi untuk logam utama di bawah kebijakan Pasal 232 (Section 232) demi alasan keamanan nasional. Langkah ini dinilai sebagai manuver politik untuk memberikan relaksasi ekonomi bagi sektor agraris sebelum pemungutan suara dimulai.
“Angka kebangkrutan di sektor pertanian meningkat dan sentimen petani menurun, sehingga sejumlah senator memberikan peringatan politik,” ujar Barry Appleton, profesor hukum dan Wakil Direktur Center for International Law di New York Law School.

















