Usai Ramadan–Lebaran, Penjualan Ritel April Drop 11,6 Persen

- Penjualan ritel nasional April 2026 turun 11,6 persen secara bulanan akibat normalisasi konsumsi pasca-Ramadan dan Idul Fitri, dengan kontraksi terdalam pada kelompok barang lainnya dan makanan-minuman.
- Bank Indonesia memproyeksikan penjualan ritel Mei 2026 mulai membaik, kontraksi menyusut menjadi 0,9 persen bulanan berkat peningkatan penjualan suku cadang kendaraan dan perlengkapan rumah tangga.
- Pelaku usaha optimistis penjualan ritel meningkat dalam tiga hingga enam bulan ke depan, didorong momen tahun ajaran baru dan persiapan Hari Besar Keagamaan Nasional seperti Natal.
Jakarta, IDN Times - Kinerja penjualan ritel nasional mengalami tekanan pada April 2026. Kondisi ini tercermin dari data penjualan eceran terkontraksi 11,6 persen secara bulanan (month to month/mtm), berbalik arah dari pertumbuhan 10,3 persen pada Maret 2026.
Berdasarkan Survei Penjualan Eceran (SPE) BI, Indeks Penjualan Riil (IPR) April 2026 tercatat sebesar 226,9, turun dari 256,7 pada bulan sebelumnya.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso mengatakan, pelemahan tersebut merupakan dampak normalisasi konsumsi masyarakat setelah lonjakan permintaan selama periode Ramadan dan Idul Fitri 2026.
“Perkembangan ini sejalan dengan normalisasi permintaan masyarakat pasca-HBKN Ramadan dan Idul Fitri. Penurunan terjadi pada mayoritas cakupan kelompok dengan kontraksi terdalam pada Kelompok barang lainnya -16,6 persen mtm, kelompok barang budaya dan rekreasi -12,5 persen mtm, dan Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau -12,3 persen mtm," ujar Ramdan dalam keterangannya, Kamis (11/6/2026).
1. Suku cadang melonjak, peralatan komunikasi anjlok

Secara tahunan, sejumlah kelompok barang masih mencatat pertumbuhan. Penjualan suku cadang dan aksesori kendaraan tumbuh 14,7 persen, perlengkapan rumah tangga meningkat 0,6 persen, serta barang budaya dan rekreasi naik tipis 0,07 persen.
Sebaliknya, kelompok makanan, minuman, dan tembakau terkontraksi 3,8 persen secara tahunan. Penurunan juga terjadi pada kelompok peralatan informasi dan komunikasi yang merosot 26,4 persen, serta subkelompok sandang yang turun 7 persen.
2. Penjualan ritel Mei diproyeksi mulai pulih, kontraksi menyusut

Bank Indonesia (BI) memperkirakan kinerja penjualan ritel pada Mei 2026 mulai menunjukkan perbaikan dibandingkan bulan sebelumnya. Meski masih mengalami kontraksi secara tahunan, laju penurunannya diperkirakan tidak sedalam April 2026.
Berdasarkan Survei Penjualan Eceran (SPE), Indeks Penjualan Riil (IPR) Mei 2026 diproyeksikan berada di level 225 atau terkontraksi 3,2 persen secara tahunan. Angka ini lebih baik dibandingkan April 2026 yang tercatat turun 3,7 persen secara tahunan.
"Perbaikan kinerja tersebut ditopang oleh meningkatnya penjualan pada kelompok suku cadang dan aksesori kendaraan yang diperkirakan tumbuh 16,6 persen secara tahunan. Selain itu, penjualan perlengkapan rumah tangga lainnya diproyeksikan naik 1,8 persen dan kelompok barang lainnya tumbuh 0,7 persen," ungkap Denny.
Di sisi lain, sejumlah kelompok barang masih berada dalam fase kontraksi. Penjualan makanan, minuman, dan tembakau diperkirakan turun 4 persen secara tahunan. Penjualan bahan bakar kendaraan bermotor juga diproyeksikan turun 2,2 persen, sementara peralatan informasi dan komunikasi masih tertekan dengan kontraksi 17,5 persen.
Secara bulanan, BI juga melihat adanya perbaikan aktivitas penjualan ritel. Kontraksi diperkirakan menyusut dari 11,6 persen pada April menjadi 0,9 persen pada Mei 2026.
Perbaikan tersebut terutama didorong oleh pemulihan penjualan peralatan informasi dan komunikasi serta perlengkapan rumah tangga lainnya. Kedua kelompok ini diperkirakan tumbuh masing-masing 2,2 persen dan 2 persen secara bulanan, setelah pada April masih mencatat penurunan.
"BI menilai peningkatan tersebut didukung oleh naiknya permintaan masyarakat selama periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN), seperti Kenaikan Yesus Kristus, Waisak, dan Iduladha," ucap Denny.
3. Penjualan ritel diprediksi naik periode 3 hingga 6 bulan mendatang

Menurut Denny, pelaku usaha memperkirakan penjualan ritel akan meningkat dalam tiga hingga enam bulan ke depan. Optimisme ini terlihat dari Indeks Ekspektasi Penjualan (IEP) Juli dan Oktober 2026 yang lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya.
IEP Juli 2026 tercatat sebesar 138,3, naik dari 136,8 pada Juni 2026. Sementara IEP Oktober 2026 juga meningkat menjadi 149,4 dari 137,8 pada September 2026.
"Kenaikan pada Juli 2026 terutama didorong oleh momen tahun ajaran baru yang biasanya meningkatkan belanja masyarakat. Adapun peningkatan pada Oktober 2026 dipengaruhi persiapan menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal," ujarnya.
Dari sisi harga, tekanan inflasi dalam jangka pendek diperkirakan masih stabil. Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) Juli 2026 tercatat 175,8, relatif tidak berubah dibandingkan Juni 2026 yang sebesar 175,6. Namun, untuk periode enam bulan ke depan, tekanan harga diperkirakan meningkat. IEH Oktober 2026 naik menjadi 167,6 dari 163,2 pada September 2026, seiring potensi kenaikan harga bahan baku.


















