Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Volume Penjualan Ritel Inggris Turun 0,4 Persen di September 2026
ilustrasi label harga barang (pexels.com/Erik Mclean)
  • Volume penjualan ritel Britania Raya turun 0,4 persen pada September 2026, lebih dalam dari perkiraan ekonom, dipicu lemahnya belanja busana online saat cuaca tetap hangat.
  • Belanja online turun 2,2 persen, pakaian dan alas kaki merosot 0,9 persen, sementara penjualan bahan bakar naik 2,2 persen dan menopang pertumbuhan ritel kuartal ketiga 0,7 persen.
  • Pelemahan ritel terjadi saat kepercayaan konsumen anjlok menjelang pengumuman anggaran; pelaku ritel menyoroti tekanan rumah tangga dan meminta keringanan beban pajak.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times – Volume penjualan ritel di Britania Raya mengalami penurunan sebesar 0,4 persen secara bulanan pada September 2026. Data resmi dari badan statistik nasional, Office for National Statistics (ONS), yang diumumkan pada Jumat (23/10/2026), menunjukkan penurunan ini lebih tajam dibandingkan perkiraan konsensus para ekonom yang memprediksi penurunan sebesar 0,1 persen.

Penurunan tersebut sebagian dipicu oleh lemahnya penjualan online untuk busana musim gugur dan musim dingin akibat kondisi cuaca September yang hangat secara tidak lazim. Situasi ini terjadi beriringan dengan anjloknya tingkat kepercayaan konsumen di Inggris dengan laju tercepat sejak pandemik COVID-19, tepat sebelum Menteri Keuangan Inggris John Healey mengumumkan rancangan anggarannya pekan depan.

1. Sektor belanja online dan pakaian alami penurunan tajam

ilustrasi belanja online (pexels.com/Kerde Severin)

Dilansir The Guardian, sektor penjualan di luar toko ritel fisik atau belanja online mencatat kontraksi terbesar dengan penurunan hingga 2,2 persen secara bulanan. Toko tekstil, pakaian, dan alas kaki juga mencatat penurunan penjualan sebesar 0,9 persen, sementara peritel perlengkapan rumah tangga mengalami kemerosotan penjualan sebesar 0,5 persen.

Volume penjualan di pasar swalayan turut menyusut sebesar 0,4 persen pada September 2026, yang sebagian disebabkan oleh rendahnya penjualan lini pakaian akibat faktor cuaca. Satu-satunya sektor yang berhasil mencatatkan peningkatan volume penjualan di luar bahan bakar minyak adalah toko serbaada atau department store, dengan pertumbuhan tipis sebesar 0,2 persen. Jika penjualan bahan bakar tidak dihitung, penjualan ritel secara keseluruhan di Britania Raya merosot hingga 0,7 persen pada September 2026.

2. Kenaikan konsumsi bahan bakar topang pertumbuhan kuartal ketiga

ilustrasi mengisi bensin (pexels.com/Engin Akyurt)

Di tengah tren penurunan umum di berbagai sektor ritel, volume penjualan bahan bakar kendaraan justru melonjak sebesar 2,2 persen secara bulanan meskipun harga di stasiun pengisian bahan bakar mencapai rekor tertinggi. Secara nilai, kenaikan penjualan bahan bakar sebesar 6,1 persen menjadi lonjakan bulanan terbesar sejak kenaikan 10,9 persen pada Maret 2026, sesaat setelah pecahnya konflik Amerika Serikat dan Iran.

Secara kuartalan, volume penjualan ritel Britania Raya pada kuartal ketiga tahun 2026 masih mencatat pertumbuhan sebesar 0,7 persen dibandingkan kuartal sebelumnya, didukung revisi data kenaikan Agustus 2026 dari 0,5 persen menjadi 0,7 persen. Pertumbuhan kuartalan ini juga terbantu oleh penjualan makanan dan minuman berkat cuaca hangat serta perhelatan Piala Dunia, kendati penurunan di toko perhiasan, perkakas, dan alas kaki menahan laju tersebut.

Statistisi senior di ONS, Hannah Finselbach, menjelaskan mengenai dinamika kinerja kuartalan tersebut. "Penjualan ritel tumbuh pada kuartal terbaru dengan pertumbuhan yang dipimpin oleh bahan bakar kendaraan, yang meskipun ada kenaikan harga baru-baru ini di pompa bensin, kini telah kembali ke tingkat penjualan bulanan yang terakhir terlihat sebelum dimulainya konflik di Timur Tengah," kata dia. Hannah menambahkan bahwa penjualan makanan dan minuman turut berkontribusi terhadap pertumbuhan, kendati sedikit menurun pada September 2026.

3. Kondisi rumah tangga kian tertekan jelang pengumuman anggaran

ilustrasi supermarket (pexels.com/Anna Shvets)

Pelemahan penjualan ritel pada September terjadi di tengah bayang-bayang tekanan ekonomi bagi konsumen dan peritel besar. Ekonom utama di asosiasi peritel British Retail Consortium, Harvir Dhillon, menyoroti bahwa aktivitas penjualan untuk bisnis skala besar berjalan lebih lesu pada September 2026 dibandingkan dengan peritel kecil. Dhillon pun mendesak pemerintah agar memberikan kelonggaran dalam kebijakan fiskal.

"Dengan kepercayaan konsumen yang goyah, pemerintah harus menggunakan Anggaran mendatang untuk memberi konsumen dan peritel ruang bernapas yang mereka butuhkan dengan meringankan beban pajak," tutur Dhillon.

Kepala ekonom Inggris di lembaga riset Capital Economics, Paul Dales, menilai penurunan ini mempertegas situasi rumah tangga yang semakin terjepit. "Penurunan tajam kepercayaan konsumen pada Oktober dan penurunan volume penjualan ritel pada September menunjukkan bahwa masa-masa semakin sulit bagi rumah tangga, tepat ketika periode perayaan yang sangat penting bagi para peritel sudah di depan mata," ucap Dales. Dia memperkirakan pengeluaran riil konsumen serta produk domestik bruto riil akan berhenti bertumbuh pada kuartal terakhir tahun ini dan kuartal pertama tahun depan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article