Ya sebenarnya dengan apa yang terjadi di tahun 2025, harapan kita di 2026 ini kita bisa tumbuh. Karena bagaimana pun daya tahan dari industri itu kan memang sangat dibutuhkan.
Untuk bisa bertahan dengan situasi seperti ini, apalagi dengan situasi geopolitik ini, kita enggak tahu kapan akan selesai. Nah, yang kami lakukan pada saat ada pertemuan dengan pemerintah, dengan Kementerian Pariwisata pada saat itu, yang kami harapkan Kementerian Pariwisata bisa membantu kita untuk melakukan evaluasi terkait masalah perizinan berusaha yang nilainya sudah sangat fantastis sekarang ya untuk mendapatkan perizinan tersebut. Bisa dikatakan menjadi semakin hari, semakin tahun, semakin naik cost ekonomi yang enggak pernah terbendung.
Nah itu bisa dievaluasi dengan situasi ini, paling tidak bisa membantu industri pariwisata untuk bertahan. Karena di tengah tekanan dari pasarnya juga yang menurun drastis ya, itu perlu dilakukan oleh pemerintah. Tapi kan sekarang apakah pemerintah mau melakukannya? Itu jadi pertanyaan besar.
Karena biasanya pemerintah itu ada dua, satu pemerintah daerah. Pemerintah daerah begitu ada tekanan dari fiskal mereka, pasti mereka menaikkan PBB. Itu selalu terjadi, belum lagi menaikkan retribusi daerahnya.
Sekarang kayak masalah dari lingkungan hidup saja. Yang dulu kita melaporkannya per 6 bulan, sekarang lap-nya harus per bulan. Per bulan itu paling tidak rata-rata sekali lap itu Rp500 ribu, berarti satu tahun itu kita spending paling Rp jutaaan. Sekali tes, yang tadinya nilainya itu paling cuma Rp1 juta satu tahun. Belum lagi bentuk sertifikasi yang cukup banyak diwajibkan, tapi ya akhirnya nilai biaya saja yang keluar di dalam situ kan. Nah itu yang kita harapkan di saat satu itu.
Tapi yang paling penting yang kita harapkan dari saat pembicaraan itu, bahwa creating demand atau mengejar, mencari pasar itu menjadi satu yang paling utama sih. Kenapa gitu? Karena pasar itu adalah salah satu penopang untuk industri ini tetap hidup.
Nah tapi yang menjadi PR tadi sekali lagi, kalau Wisman gampang, kita tinggal mencari negara-negara yang terdekat kan, untuk melakukan substitut atau pengganti dari pasar yang ada. Tapi kalau yang misnos ini yang paling berat, bagaimana PRnya untuk bantu? Gak mungkin kita bicara subtituSi di dalam situ, tapi yang kita bicara sekarang menjaga daya belinya, itu melibatkan banyak kementerian/lembaga di dalam situ.
Nah yang ketiga, pada saat nanti kita ditanya misalnya insentif dalam bentuk penyalahan modal kerja atau perbankan, itu gak mungkin didapat. Karena pada faktanya, kita pada saat COVID-19 itu mendapatkan reaktif dari COVID-19.
Dengan situasi seperti itu, ternyata kita yang mendapat reaktif dari COVID-19 itu, kita justru tidak dapat lagi, tidak bisa mendapatkan modal kerja baru atau mendapatkan kredit baru. Karena semua yang mendapatkan restrukturisasi COVID-19 itu, dapat notifikasi restrukturisasi, history credit lah istilahnya. Jadi mereka harus lunasin dulu, baru selesai. Jadi enggak ada bank yang mau membiayai industri pariwisata dalam kondisi itu. Jadi sangat sulit.
Ya paling cuman bisa, kita enggak bisa bicara modal kerja tambahan atau bunga bank, kita enggak bisa lagi. Karena yang dulu saja belum sehat. Apalagi meminta baru kan gak mungkin.
Satu-satunya yang paling penting itu pasang dan high cost economy dari sisi perizinan itu yang harus pemerintah evaluasi. Apalagi di tengah sekarang dengan penetapan klasifikasi baku lapangan usaha manusia dari peraturan BPS 2025, di mana disitu disebutkan kita harus merubah KBLI kita untuk kota berbintang. Ini kan menjadi salah satu permasalahan baru juga nanti. Kalau sampai enggak bisa dicari jalan keluarnya, akhirnya menjadi biaya. Kita harus mengubah lagi perizinannya. Itu yang menjadi situasi yang enggak bagus juga di tengah situasi seperti ini.