Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
3 Metode Mengatur Keuangan Bersama Pasangan, Simak Plus Minusnya!
ilustrasi finansial pasangan, keuangan pasangan (magnific.com/pressfoto)
  • Metode proporsional membagi biaya rumah tangga berdasarkan persentase pendapatan, sehingga beban lebih sesuai kemampuan, tetapi pasangan berpenghasilan tinggi dapat merasa menanggung porsi terlalu besar.
  • Metode kontribusi nominal sama meminta kedua pasangan menyetor jumlah setara untuk kebutuhan bersama, sambil mempertahankan uang pribadi; perbedaan sisa penghasilan berpotensi memicu ketidaknyamanan.
  • Penggabungan seluruh pendapatan memudahkan pencatatan dan memperkuat tujuan bersama, namun perbedaan kebiasaan belanja dapat memicu konflik; komunikasi terbuka dan evaluasi kesepakatan tetap diperlukan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Membicarakan keuangan bersama pasangan sering kali terasa lebih rumit daripada yang dibayangkan. Padahal, urusan uang termasuk salah satu hal yang bisa memengaruhi keharmonisan hubungan kalau gak dikelola dengan baik.

Kabar baiknya, gak ada satu cara yang paling benar dalam mengatur keuangan bersama pasangan. Setiap hubungan memiliki kondisi, kebutuhan, dan tujuan finansial yang berbeda-beda. Karena itu, kamu dan pasangan bisa memilih metode yang paling nyaman, asalkan sama-sama terbuka, adil, dan konsisten menjalaninya.

Supaya gak bingung menentukan mana yang paling cocok, yuk kenali tiga metode mengatur keuangan bersama pasangan beserta kelebihan dan kekurangannya. Dengan begitu, kamu bisa berdiskusi dan memilih sistem yang paling sesuai dengan kondisi finansial kalian.

1. Metode proporsional (The proportional method)

ilustrasi belanja kebutuhan sehari-hari (pexels.com/Mike Jones)

Metode proporsional berarti setiap pasangan membayar kebutuhan rumah tangga sesuai dengan besar penghasilannya. Jadi, yang disamakan bukan nominal uang yang dibayarkan, melainkan persentase kontribusinya berdasarkan pendapatan masing-masing. Cara ini biasanya dipilih ketika selisih penghasilan antara kamu dan pasangan cukup jauh.

Misalnya, kamu berpenghasilan Rp5 juta per bulan, sedangkan pasangan memperoleh Rp10 juta. Artinya, penghasilanmu sekitar sepertiga dari total pendapatan rumah tangga, sementara pasangan menyumbang dua pertiganya. Jika total pengeluaran rumah tangga mencapai Rp9 juta per bulan, kamu bisa menanggung sekitar Rp3 juta, sedangkan pasangan membayar sekitar Rp6 juta. Dengan sistem ini, beban finansial terasa lebih seimbang karena disesuaikan dengan kemampuan masing-masing.

Kelebihan:

  • Pembagian beban terasa lebih adil karena mengikuti kemampuan masing-masing.

  • Pasangan dengan penghasilan lebih kecil gak perlu memaksakan gaya hidup yang melebihi kemampuannya.

Kekurangan:

  • Pasangan yang berpenghasilan lebih besar bisa saja merasa terbebani jika terus-menerus menanggung porsi yang jauh lebih besar. Karena itu, komunikasi yang terbuka tetap menjadi kunci supaya gak muncul rasa tidak puas di kemudian hari.

2. Metode kontribusi nominal yang sama (The raw contribution method)

ilustrasi budgeting (freepik.com/schantalao)

Pada metode ini, kamu dan pasangan menyetor jumlah uang yang sama untuk memenuhi kebutuhan bersama, tanpa melihat besar kecilnya penghasilan masing-masing. Misalnya, setiap bulan kalian sepakat menyumbang Rp3 juta ke rekening bersama untuk membayar cicilan, tagihan listrik, belanja bulanan, dan kebutuhan rumah tangga lainnya. Setelah itu, sisa penghasilan masing-masing tetap menjadi uang pribadi.

Cara ini memberikan kebebasan bagi setiap pasangan untuk mengelola uang yang tersisa sesuai kebutuhannya. Selain itu, batas antara keuangan pribadi dan keuangan bersama juga menjadi lebih jelas. Metode ini biasanya cocok bagi pasangan yang sama-sama ingin tetap mandiri dalam mengatur pengeluaran pribadi.

Kelebihan:

  • Pasangan dengan penghasilan lebih tinggi gak merasa dihukum karena menghasilkan lebih banyak.

  • Pasangan dengan penghasilan lebih rendah juga gak merasa bergantung secara finansial pada pasangannya.

Kekurangan:

  • Perbedaan gaya hidup bisa menjadi tantangan. Jika salah satu pasangan memiliki sisa uang jauh lebih banyak, sementara yang lain harus lebih berhemat, kondisi tersebut berpotensi memunculkan rasa kurang nyaman. Gak sedikit pasangan yang juga merasa metode ini membuat hubungan keuangan terasa seperti rekan serumah dibandingkan sebagai satu tim.

3. Metode menggabungkan seluruh keuangan (Complete combine)

ilustrasi belanja bareng anak (pexels.com/Gustavo Fring)

Metode terakhir adalah menggabungkan seluruh pendapatan ke dalam satu rekening bersama. Semua pemasukan masuk ke rekening yang sama, kemudian seluruh kebutuhan rumah tangga maupun kebutuhan pribadi dibayar dari dana tersebut. Dalam sistem ini, pasangan juga biasanya menggunakan kartu debit atau kartu kredit bersama untuk berbagai transaksi.

Pendekatan ini membuatmu dan pasangan benar-benar mengelola keuangan sebagai satu kesatuan. Saat salah satu penghasilan meningkat atau justru menurun, kondisi tersebut bisa saling menutupi karena seluruh uang dianggap sebagai milik bersama. Selain itu, pencatatan keuangan juga menjadi lebih sederhana karena semua transaksi berada dalam satu tempat.

Kelebihan:

  • Mendorong rasa kebersamaan karena fokus pada tujuan finansial bersama, bukan lagi membedakan uang milik masing-masing.

  • Pengelolaan anggaran dan pencatatan keuangan menjadi lebih praktis karena seluruh transaksi dilakukan melalui rekening yang sama.

Kekurangan:

  • Jika salah satu pasangan merasa pengeluarannya lebih hemat dibandingkan pasangannya, rasa kesal bisa saja muncul. Perbedaan kebiasaan mengeluarkan uang, misalnya antara pasangan yang gemar berbelanja dan pasangan yang lebih hemat, juga berpotensi memicu konflik apabila gak dibicarakan sejak awal.

Mengatur keuangan bersama pasangan sebenarnya bukan soal memilih metode yang paling sempurna, melainkan menemukan sistem yang paling sesuai dengan kondisi kalian. Baik menggunakan metode proporsional, kontribusi nominal yang sama, maupun menggabungkan seluruh keuangan, semuanya memiliki kelebihan dan tantangan masing-masing.

Hal yang paling penting adalah menjaga komunikasi tetap terbuka dan membuat kesepakatan yang disetujui bersama. Jangan ragu mengevaluasi sistem yang sudah dijalankan apabila kondisi keuangan berubah, misalnya saat salah satu pasangan kehilangan pekerjaan atau pendapatannya meningkat. Dengan saling mendukung dan bersikap transparan, kamu dan pasangan bisa membangun kondisi finansial yang sehat sekaligus memperkuat hubungan dalam jangka panjang.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article