Jakarta, IDN Times – Binance kembali mengaktifkan layanan penarikan setelah mengalami pencurian aset kripto senilai sekitar 6,3 miliar dolar Amerika Serikat (AS) atau setara Rp114,03 triliun dari dompet panas (hot wallet) pada Kamis (29/10/2026). Insiden tersebut disebut sebagai perampokan terbesar yang pernah terjadi dalam sejarah industri kripto.
Binance sempat menghentikan seluruh layanan penarikan untuk menyelidiki kasus tersebut setelah pencurian terdeteksi. Pemulihan layanan mulai dilakukan secara bertahap pada Minggu (1/11/2026) setelah pukul 14.00 waktu Singapura, diawali dengan jaringan Bitcoin, kemudian Ethereum dan BNB Smart Chain bagi pemegang Ethereum, USDT, dan USDC.
Binance menyampaikan komitmennya untuk bertanggung jawab penuh atas kerugian akibat insiden tersebut.
“Komitmen kami tetap sama: Binance akan sepenuhnya menanggung dampak finansial dari dana yang dicuri dalam insiden ini. Kami akan terus menunjukkan komitmen ini melalui kemajuan yang terukur, pelaporan yang transparan, dan tindakan nyata,” menurut pernyataan perusahaan, dikutip CNBC.
