Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Binance Pulihkan Penarikan Kripto Usai Kena Bobol Rp114 Triliun
ilustrasi logo Binance (pexels.com/Bastian Riccardi)
  • Binance mengaktifkan kembali penarikan kripto bertahap setelah pencurian 6,3 miliar dolar AS dari hot wallet pada 29 Oktober 2026, yang disebut terbesar dalam sejarah industri kripto.
  • Perusahaan mengalokasikan 6,34 miliar dolar AS dari SAFU, dana asuransi berjangka, dan kas untuk memulihkan sekitar 90 persen aset; token utama telah dipulihkan penuh.
  • FBI mengaitkan serangan dengan kelompok TraderTraitor yang terhubung Korea Utara; pelaku mengonversi aset menjadi Ethereum, sementara insiden turut menekan harga sejumlah kripto utama.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times – Binance kembali mengaktifkan layanan penarikan setelah mengalami pencurian aset kripto senilai sekitar 6,3 miliar dolar Amerika Serikat (AS) atau setara Rp114,03 triliun dari dompet panas (hot wallet) pada Kamis (29/10/2026). Insiden tersebut disebut sebagai perampokan terbesar yang pernah terjadi dalam sejarah industri kripto.

Binance sempat menghentikan seluruh layanan penarikan untuk menyelidiki kasus tersebut setelah pencurian terdeteksi. Pemulihan layanan mulai dilakukan secara bertahap pada Minggu (1/11/2026) setelah pukul 14.00 waktu Singapura, diawali dengan jaringan Bitcoin, kemudian Ethereum dan BNB Smart Chain bagi pemegang Ethereum, USDT, dan USDC.

Binance menyampaikan komitmennya untuk bertanggung jawab penuh atas kerugian akibat insiden tersebut.

“Komitmen kami tetap sama: Binance akan sepenuhnya menanggung dampak finansial dari dana yang dicuri dalam insiden ini. Kami akan terus menunjukkan komitmen ini melalui kemajuan yang terukur, pelaporan yang transparan, dan tindakan nyata,” menurut pernyataan perusahaan, dikutip CNBC.

1. Binance menyiapkan dana pengganti kerugian nasabah

ilustrasi mata uang digital (pexels.com/Roger Brown)

Binance telah mengalokasikan sekitar 6,34 miliar dolar AS (setara Rp114,754 triliun) dari dana perusahaan untuk mengganti aset yang dicuri hingga Sabtu (31/10/2026). Jumlah tersebut diklaim mampu memulihkan sekitar 90 persen dari total aset yang hilang.

Sumber pendanaannya berasal dari Dana Aset Aman untuk Pengguna atau Secure Asset Fund for Users (SAFU) senilai 1 miliar dolar AS (setara Rp18,1 triliun), yang merupakan cadangan bitcoin untuk melindungi nasabah ketika terjadi peretasan. Binance juga menggunakan sebagian Dana Asuransi Berjangka serta kas perusahaan untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Adapun sisa 10 persen aset yang belum dipulihkan berupa token di luar 10 besar dengan tingkat likuiditas rendah. Binance perlu membelinya melalui pasar dan jalur di luar bursa agar proses pengadaan tak mengganggu harga, sementara seluruh token utama seperti BTC, ETH, USDT, BNB, SOL, USDC, XRP, USD1, RLUSD, dan ZEC telah dipulihkan sepenuhnya hingga 100 persen.

2. FBI menetapkan kelompok Korea Utara sebagai pelaku

ilustrasi Amerika Serikat (pexels.com/Breet Sayles)

Biro Investigasi Federal (FBI), lembaga penegak hukum federal AS, mengidentifikasi Korea Utara sebagai pihak yang bertanggung jawab atas pencurian aset kripto Binance.

“Biro Investigasi Federal merilis informasi yang menyarankan bahwa Republik Rakyat Demokratik Korea (Korea Utara) bertanggung jawab atas pencurian lebih dari 6 miliar dolar AS dalam aset virtual dari bursa mata uang kripto Binance, pada atau sekitar 29 Oktober,” kata FBI, dikutip The Guardian.

FBI mengaitkan serangan tersebut dengan kelompok peretas bernama TraderTraitor yang memiliki hubungan dengan Korea Utara (Korut) dan diyakini merupakan bagian dari Lazarus Group. Kelompok Lazarus sebelumnya dikenal setelah dituduh meretas Sony Pictures pada 2014 sebagai aksi balasan terhadap film The Interview yang mengejek pemimpin Korut, Kim Jong-un.

Hasil pemantauan FBI menunjukkan bahwa pelaku mengonversi aset hasil pencurian menjadi Ethereum. FBI juga meminta perusahaan swasta memblokir transaksi dari alamat dompet yang digunakan untuk mencuci aset melalui layanan keuangan terdesentralisasi.

3. TRM Labs mengungkap pola serangan dan dampaknya

ilustrasi peretasan (pexels.com/Mati Mango)

Perusahaan intelijen rantai blok TRM Labs turut menelusuri pola serangan terhadap Binance melalui pergerakan aset kripto. Hasil analisisnya menunjukkan sejumlah karakteristik yang serupa dengan serangan siber yang dikaitkan dengan Korut sebelumnya, termasuk peretasan Bybit dan KelpDAO pada April 2026 serta penggunaan penarikan kecil dari Tornado Cash, layanan pencampur transaksi untuk menyamarkan asal-usul aset, guna mendanai dompet para operator.

Co-kepala eksekutif Binance, Richard Teng, menjelaskan bahwa peretasan tersebut melibatkan rangkaian serangan kompleks dengan memanfaatkan komputer jinjing yang telah disusupi serta perangkat lunak berbahaya untuk menghapus bukti. Insiden ini turut memengaruhi pasar kripto dengan membuat harga Bitcoin merosot hampir 5 persen, Ethereum sekitar 6 persen, dan BNB hampir 10 persen.

Selain kerugian finansial, serangan tersebut memunculkan kekhawatiran mengenai perkembangan kemampuan kecerdasan buatan (AI) yang berpotensi mengancam protokol kriptografi. Kasus ini juga menyoroti upaya Korut memperoleh pendapatan ilegal di tengah sanksi internasional terkait program pengembangan senjata nuklir dan misilnya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article