Bitcoin Terjun Bebas, Ini 5 Panduan Menentukan Tahan atau Lepas Aset

- Bitcoin memiliki volatilitas tinggi dan sangat sensitif terhadap sentimen investor serta perubahan likuiditas pasar.
- Evaluasi kembali tujuan awal pembelian Bitcoin, apakah untuk investasi jangka panjang atau mencari untung cepat dari trading harian.
- Tentukan strategi berdasarkan toleransi risiko pribadi, kondisi pasar global, dan kebutuhan keuangan jangka pendek.
Bayangkan kamu membuka aplikasi dompet kripto dan melihat warna merah di mana-mana. Harga Bitcoin terperosok di bawah 64 ribu, turun hampir 50 persen dari puncaknya pada Oktober lalu. Padahal, awal tahun ini hadir ETF spot Bitcoin yang sempat diharapkan mendongkrak harga, ditambah iklim politik yang dianggap lebih ramah kripto.
Realitanya, gejolak geopolitik dan meningkatnya kehati-hatian investor justru mendorong penurunan lebih dalam. Situasi ini membuat banyak pemilik aset kripto bingung menentukan langkah. Artikel ini akan membantumu memahami pilihan yang lebih rasional antara menahan atau melepas Bitcoin.
1. Pahami dulu karakter volatilitas bitcoin

Bitcoin memang terkenal punya pergerakan harga ekstrem dibandingkan aset tradisional seperti saham atau obligasi. Dilansir CNBC, analisis S&P Global Ratings tahun 2023 menjelaskan bahwa kripto sangat sensitif terhadap sentimen investor dan perubahan likuiditas pasar. Kondisi ini membuat harga bisa melonjak tinggi sekaligus jatuh dalam waktu singkat.
John Blank, kepala strategi ekuitas di Zacks Investment Research, menilai pergerakan harga Bitcoin sangat bergantung pada permintaan pasar. Saat minat beli melemah, harga bisa turun drastis hingga puluhan persen. Fluktuasi tajam bukan tanda kegagalan aset, melainkan ciri bawaan dari instrumen spekulatif. Kamu perlu siap mental sebelum memutuskan bertahan di pasar kripto.
2. Evaluasi tujuan awal kamu membeli bitcoin

Langkah penting berikutnya adalah mengingat kembali alasan kamu membeli Bitcoin sejak awal. Apakah tujuannya investasi jangka panjang atau sekadar mencari untung cepat dari trading harian. Douglas Boneparth, perencana keuangan bersertifikat, memandang Bitcoin lebih cocok bagi investor dengan toleransi risiko tinggi dan perspektif jangka panjang.
Apabila sejak awal kamu percaya Bitcoin sebagai penyimpan nilai jangka panjang, penurunan harga tidak otomatis mengubah tesis investasi tersebut. Penurunan ini justru bisa menjadi momen refleksi apakah keyakinanmu masih relevan atau enggak. Keputusan menjual sebaiknya didasarkan pada perubahan fundamental, bukan semata karena takut rugi. Sikap konsisten terhadap tujuan awal akan membantumu lebih tenang menghadapi gejolak pasar.
3. Ukur kembali toleransi risiko pribadi

Setiap orang punya batas kenyamanan berbeda saat melihat nilai aset turun. Vered Frank, perencana keuangan sekaligus pendiri StackWealth, menilai Bitcoin masih tergolong aset spekulatif dan bukan fondasi utama portofolio keuangan. Ia menyarankan agar kripto hanya menjadi bagian kecil dari total investasi.
Porsi ideal kripto menurut pandangan tersebut berada di kisaran 1 hingga 5 persen dari portofolio bagi investor dengan kondisi finansial stabil. Jika penurunan harga membuat tidur kamu gak nyenyak, itu tanda risiko sudah melewati batas toleransi pribadi. Menyesuaikan porsi aset bisa lebih bijak dibanding memaksakan diri bertahan. Investasi seharusnya membantu masa depan, bukan menambah stres setiap hari.
4. Perhatikan kondisi pasar global dan sentimen investor

Turunnya Bitcoin kali ini juga dipengaruhi ketegangan geopolitik dan meningkatnya kehati-hatian investor. Situasi ekonomi global memicu pasar keuangan bergerak lebih volatil dari biasanya. Kripto sering bereaksi lebih ekstrem saat pasar tradisional sedang gak stabil.
Hasil analisis S&P Global Ratings menjelaskan bahwa kripto bukan digerakkan oleh kinerja perusahaan seperti saham, melainkan oleh psikologi pasar. Saat investor menghindari risiko, aset seperti Bitcoin biasanya ikut tertekan. Kamu perlu memahami bahwa penurunan harga bukan selalu karena masalah internal Bitcoin. Faktor eksternal sering memberi dampak besar terhadap pergerakan jangka pendek.
5. Tentukan strategi sesuai kondisi keuangan kamu

Gak ada keputusan tunggal yang benar untuk semua orang saat harga Bitcoin jatuh. Banyak penasihat keuangan menyarankan agar keputusan disesuaikan dengan rencana keuangan pribadi dan kebutuhan jangka pendek. Jika dana di Bitcoin adalah uang darurat, menjual sebagian bisa menjadi langkah aman.
Sebaliknya, kalau dana tersebut memang dialokasikan untuk investasi jangka panjang, bertahan bisa menjadi pilihan rasional. Douglas Boneparth melihat volatilitas sebagai ciri utama Bitcoin, bukan sebagai kelemahan. Penurunan harga tidak otomatis menghapus potensi jangka panjang aset ini. Intinya, strategi harus sejalan dengan kondisi hidup kamu saat ini, bukan sekadar mengikuti arus opini publik.
Penurunan harga Bitcoin memang bisa memicu kepanikan, terutama bagi investor pemula. Keputusan menahan atau melepas aset sebaiknya didasarkan pada tujuan, toleransi risiko, dan kondisi keuangan pribadi. Volatilitas adalah bagian dari dunia kripto yang tak bisa dihindari.
Dengan memahami karakter aset dan bersikap rasional, kamu bisa mengambil langkah yang lebih tenang dan terukur. Pada akhirnya, investasi terbaik adalah keputusan yang membuat kamu tetap nyaman secara finansial dan mental.
















