Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Jangan Tertukar! Ini Perbedaan Stop Loss, Cut Loss, dan Take Profit
ilustrasi trading (pexels.com/kaboompics)
  • Stop loss adalah batas harga yang ditetapkan sebelumnya untuk membatasi kerugian, baik melalui rencana pribadi maupun perintah jual otomatis di platform investasi.
  • Cut loss merupakan tindakan menjual aset yang sudah merugi, karena batas kerugian tercapai atau alasan awal investasi, kondisi perusahaan, maupun prospek aset berubah.
  • Take profit dilakukan saat aset untung untuk mengamankan hasil, bisa menjual sebagian atau seluruhnya sesuai target tanpa harus menebak harga tertinggi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Ketika harga saham atau aset kripto bergerak cepat, beberapa investor terkadang bimbang menentukan kapan harus menjual. Dalam situasi seperti ini, terdapat istilah stop loss, cut loss, dan take profit. Ketiganya sama-sama berkaitan dengan keputusan menjual aset, tetapi memiliki tujuan yang berbeda.

Memahami perbedaannya dapat membantu kita mengambil keputusan dengan lebih terencana, bukan hanya karena panik saat harga turun atau takut ketinggalan keuntungan saat harga naik. Ketiga istilah ini juga membantu kita menentukan batas kerugian dan kapan keuntungan perlu diamankan. Berikut perbedaan stop loss, cut loss, dan take profit yang perlu dipahami.

1. Stop loss adalah batas kerugian yang sudah ditentukan

ilustrasi grafik pergerakan harga (pexels.com/AlphaTradeZone)

Stop loss adalah batas harga yang ditentukan sebelumnya untuk membatasi kerugian apabila harga aset bergerak berlawanan dengan harapan. Misalnya, kita membeli aset seharga Rp1 juta dan menetapkan batas kerugian 10 persen, sehingga kita sudah memiliki rencana untuk keluar jika nilainya turun ke sekitar Rp900 ribu. Dengan cara ini, keputusan menjual tidak sepenuhnya dibuat ketika kepanikan sudah muncul di tengah penurunan harga.

Stop loss dapat dilakukan sebagai strategi pribadi maupun menggunakan fitur perintah jual otomatis pada platform investasi tertentu. Tujuan utamanya bukan memastikan kita tidak pernah rugi, melainkan mencegah satu keputusan investasi menimbulkan kerugian yang jauh lebih besar dari batas yang sanggup kita terima. Karena itu, penentuan stop loss biasanya perlu mempertimbangkan tingkat risiko, kondisi aset, dan jumlah dana yang digunakan.

2. Cut loss berarti menjual aset yang sudah mengalami kerugian

ilustrasi market yang turun (freepik.com/standret)

Cut loss berarti menjual aset ketika nilainya sudah turun dan kita mengalami kerugian. Istilah ini sering digunakan untuk menggambarkan keputusan berhenti mempertahankan aset yang dianggap tidak lagi sesuai dengan rencana investasi. Berbeda dengan stop loss yang merupakan batas atau mekanisme yang telah ditentukan, cut loss lebih menggambarkan tindakan menjual aset yang sedang berada dalam posisi rugi.

Keputusan cut loss dapat dilakukan setelah batas kerugian yang direncanakan sebelumnya tercapai, tetapi juga bisa diambil karena alasan lain. Misalnya, kondisi perusahaan berubah, prospek aset memburuk, atau alasan awal membeli aset ternyata tidak lagi berlaku. Dengan kata lain, cut loss tidak selalu berarti menjual karena panik, melainkan dapat menjadi keputusan untuk mengakui bahwa suatu aset tidak berjalan sesuai rencana.

3. Take profit digunakan untuk mengambil keuntungan

ilustrasi profit (pexels.com/Nataliya Vaitkevich)

Berbeda dari dua istilah sebelumnya, take profit dilakukan ketika investasi sudah menghasilkan keuntungan. Tujuannya adalah menjual sebagian atau seluruh aset untuk mengamankan keuntungan sebelum harga berbalik turun. Sebagai contoh, aset yang dibeli seharga Rp1 juta dan naik menjadi Rp1,3 juta dapat dijual seluruhnya atau sebagian sesuai target yang telah dibuat.

Take profit tidak berarti kita harus selalu menjual tepat pada harga tertinggi. Menebak titik tertinggi pasar sangat sulit karena harga baru terlihat sebagai puncak setelah pergerakan berikutnya terjadi. Karena itu, sebagian investor memilih take profit secara bertahap agar tetap mengamankan sebagian keuntungan sambil mempertahankan sebagian aset jika harga masih melanjutkan kenaikan.

4. Perbedaan terletak pada keputusan untuk menjual

ilustrasi membuat strategi saat trading (pexels.com/AlphaTradeZone)

Cara paling mudah membedakan ketiga istilah tersebut adalah melihat kondisi yang kita hadapi. Stop loss merupakan batas yang direncanakan untuk membatasi kerugian, sedangkan cut loss adalah tindakan menjual ketika posisi sudah mengalami kerugian. Sementara itu, take profit dilakukan ketika harga naik dan kita ingin mengamankan keuntungan yang sudah diperoleh.

Ketiganya tidak selalu harus digunakan dengan cara yang sama oleh setiap orang karena tujuan dan toleransi risiko dapat berbeda. Investor jangka panjang, misalnya, mungkin memiliki batas penurunan dan target keuntungan yang berbeda dengan orang yang aktif memperdagangkan aset dalam waktu singkat. Yang lebih penting adalah memahami alasan di balik setiap keputusan agar kita tidak terus menahan aset hanya karena berharap harga kembali naik atau menyesal setelah menjual terlalu cepat.

Stop loss, cut loss, dan take profit membantu kita menentukan kapan saat yang tepat untuk keluar dari suatu posisi dengan fungsi yang berbeda. Stop loss berfokus pada batas risiko, cut loss pada tindakan menghentikan kerugian, sedangkan take profit bertujuan mengamankan keuntungan. Memahami ketiganya dapat membantu kita menghadapi pasar dengan rencana yang lebih jelas dan keputusan yang bijak.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article