Kampung Koboi Tugu Selatan, Wisata Unik yang Dongkrak Ekonomi Desa

- Desa Tugu Selatan sukses mengubah Kampung Teksas menjadi Kampung Koboi, destinasi wisata edukatif yang membuka peluang usaha dan lapangan kerja bagi warga lokal.
- BUMDes berperan penting dalam integrasi ekonomi desa melalui pengelolaan unit usaha seperti Café Landing Paralayang, layanan internet desa, dan akses keuangan digital BRILink Agen.
- Sektor pertanian dan peternakan tetap jadi andalan dengan produksi susu 2.000 liter per hari serta dukungan KUR dan pendampingan untuk meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan masyarakat.
Jakarta, IDN Times - Transformasi ekonomi desa berbasis potensi lokal terus menunjukkan perkembangan positif. Hal ini terlihat dari Desa Tugu Selatan, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, yang sukses mengintegrasikan kekuatan alam, tradisi, dan inovasi menjadi ekosistem ekonomi desa yang produktif.
Berbatasan langsung dengan Kabupaten Cianjur dan dikelilingi lanskap pegunungan yang asri, desa ini mampu mengoptimalkan sumber daya lokal sebagai penggerak ekonomi sekaligus memperkuat kohesi sosial masyarakat.
1. Kampung Koboi, dari “Kampung Teksas” jadi destinasi wisata unik

Salah satu inovasi paling menonjol adalah pengembangan Kampung Koboi, yang berangkat dari identitas lokal Kampung Teksas, karena wilayah ini sejak lama dikenal sebagai kampung para penunggang kuda. Kepala Desa Tugu Selatan, M. Eko Windiana, menjelaskan asal-usul kawasan tersebut.
"Kampung Koboi itu bermula dari di desa kami ada sebuah kampung yang dari dulu sejak saya lahir namanya sudah Kampung Teksas. Dan kebetulan hampir mayoritas masyarakat di Kampung Teksas ini semua bekerjanya sebagai penunggang kuda," jelas Eko.
Kini, kawasan tersebut dikembangkan menjadi destinasi wisata edukatif yang tidak hanya menawarkan pengalaman berkuda, tetapi juga membuka peluang usaha baru dan lapangan kerja bagi masyarakat setempat.
2. BUMDes dan digitalisasi dorong ekonomi desa makin terintegrasi

Penguatan ekonomi Desa Tugu Selatan tidak lepas dari peran Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang mengelola berbagai unit usaha secara terintegrasi.
Mulai dari layanan internet desa, Café Landing Paralayang sebagai ruang tumbuh UMKM lokal, hingga pengelolaan Kampung Koboi sebagai ikon wisata, semuanya menjadi bagian dari ekosistem ekonomi desa.
Selain itu, kehadiran BRILink Agen juga mempermudah akses layanan keuangan bagi masyarakat, membuat transaksi menjadi lebih cepat dan efisien.
3. Pertanian dan peternakan tetap jadi tulang punggung ekonomi

Di luar sektor pariwisata, Desa Tugu Selatan tetap memperkuat sektor tradisional seperti pertanian dan peternakan. Klaster peternakan sapi perah menunjukkan perkembangan signifikan, dengan produksi susu mencapai sekitar 2.000 liter per hari. Dukungan pembiayaan seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR) turut membantu peningkatan populasi ternak dan produktivitas.
Sementara itu, sektor pertanian yang tergabung dalam Gapoktan terus diperkuat melalui bantuan alat pertanian dan pendampingan untuk meningkatkan hasil produksi serta memperluas lahan usaha. Keberhasilan Desa Tugu Selatan tidak terlepas dari implementasi empat pilar utama Program Desa BRILiaN, yaitu penguatan kelembagaan desa, digitalisasi, inovasi berbasis kearifan lokal, serta keberlanjutan. Direktur Micro BRI, Akhmad Purwakajaya, menegaskan bahwa program ini dirancang untuk menjadikan desa sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru.
"Program Desa BRILiaN kami arahkan untuk membangun desa sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru yang berbasis pada kekuatan lokal, termasuk di Desa Tugu Selatan. BRI tidak hanya menghadirkan pembiayaan, tetapi juga mendorong penguatan kelembagaan, digitalisasi, dan pengembangan ekosistem usaha agar desa mampu naik kelas secara berkelanjutan. Pendampingan dan pemberdayaan terus kami lakukan untuk memastikan terciptanya nilai tambah ekonomi serta peningkatan kesejahteraan masyarakat desa," pungkas Akhmad. (WEB)


















