- Won Korea melemah 1,05 persen
- Dolar Singapura melemah 0,18 persen
- Dolar Hongkong melemah 0,02 persen
Rupiah Tak Berdaya di Akhir Pekan, Tembus Rp17.880 per Dolar AS

- Rupiah ditutup melemah ke level Rp17.880,5 per dolar AS pada akhir pekan, turun 35 poin atau 0,20 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.
- Pelemahan rupiah mencerminkan tekanan eksternal dan domestik yang kompleks akibat eskalasi geopolitik di Timur Tengah serta rapuhnya arus modal di pasar keuangan dalam negeri.
- Sentimen negatif diperkuat ekspektasi kebijakan suku bunga tinggi The Fed yang berkepanjangan dan faktor musiman kuartal II seperti repatriasi dividen serta peningkatan kebutuhan impor.
Jakarta, IDN Times - Pergerakan nilai tukar atau kurs rupiah ditutup tidak mampu bangkit melawan dolar AS. Pada penutupan perdagangan, Jumat (29/5/2026), rupiah ditutup melemah hingga level Rp17.880,5 per dolar AS.
Bila mengacu data Bloomberg, rupiah melemah hingga 35 poin atau 0,20 persen dibandingkan penutupan kemarin.
1. Deretan mata uang yang melemah
Pelemahan mata uang di kawasan Asia hanya terjadi pada 3 mata uang lainnya, Dolar Hongkong , Dolar Singapura dan Won Korea, dengan rincian
2. Rupiah melemah akibat tekanan eksternal dan domestik semakin kompleks
Presiden Komisaris HFX Internasional Berjangka Sutopo Widodo mengatakan pergerakan rupiah yang kini tertekan mencerminkan tekanan eksternal dan domestik yang semakin kompleks. Pelemahan ini dipicu kombinasi sentimen global yang memburuk serta rapuhnya fondasi arus modal di pasar keuangan domestik. Dari sisi global, eskalasi geopolitik di Timur Tengah kembali menjadi pemicu utama meningkatnya aversi risiko investor.
"Serangan militer Amerika Serikat terhadap pangkalan Iran memicu gelombang flight to safety yang mendorong penguatan Dolar AS secara luas. Indeks Dolar AS (DXY) bahkan bergerak mendekati level tertinggi dalam tujuh pekan terakhir di area 99, menandakan dominasi permintaan aset safe haven semakin kuat," tegasnya.
3. Ada ekspektasi kebijakan suku bunga The Fed akan higer for longer
Tekanan terhadap mata uang emerging market, termasuk rupiah, juga diperparah oleh meningkatnya ekspektasi kebijakan suku bunga tinggi The Federal Reserve dalam jangka waktu lebih panjang atau higher for longer. Pasar kini menantikan rilis data inflasi inti Personal Consumption Expenditures (Core PCE) Amerika Serikat yang diperkirakan naik ke level 3,3 persen.
"Jika realisasi data lebih tinggi dari proyeksi, peluang penurunan suku bunga The Fed diperkirakan semakin tertunda, sehingga memperbesar tekanan terhadap mata uang Asia," tuturnya.
Sementara itu, dari dalam negeri, pelemahan rupiah diperburuk oleh faktor musiman Kuartal II. Permintaan valuta asing meningkat signifikan seiring kebutuhan repatriasi dividen korporasi, pembayaran utang luar negeri, serta meningkatnya kebutuhan impor sektor industri. Kondisi ini menyebabkan tekanan permintaan Dolar AS di pasar domestik menjadi semakin agresif.
















