Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Rupiah Tersungkur Hampir Rp18 Ribu, BI Siaga di Pasar untuk Intervensi

Rupiah Tersungkur Hampir Rp18 Ribu, BI Siaga di Pasar untuk Intervensi
Ilustrasi dolar AS (freepik.com/jcomp)
Intinya Sih
Gini Kak
Sisi Positif
  • Rupiah melemah hingga Rp17.880,5 per dolar AS akibat ketidakpastian global dan meningkatnya kebutuhan valas domestik, mendorong BI siaga menjaga stabilitas nilai tukar.
  • BI melakukan intervensi di pasar keuangan melalui transaksi NDF, DNDF, spot, serta pembelian SBN untuk menahan tekanan terhadap rupiah secara konsisten dan terukur.
  • Bank Indonesia memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan membatasi pembelian dolar AS tanpa underlying guna menjaga stabilitas pasar keuangan serta ketahanan eksternal ekonomi nasional.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Jakarta, IDN Times - Bank Indonesia (BI) memastikan terus berada di pasar keuangan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah yang kembali tertekan hingga menyentuh level terendah di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Apalagi jika mengacu data Bloomberg pada penutupan perdagangan sore ini, rupiah sudah berada di level Rp17.880,5 per dolar AS atau merupakan level terlemahnya sepanjang sejarah.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso menyampaikan tekanan terhadap rupiah masih dipengaruhi berlanjutnya konflik di Timur Tengah yang mendorong penguatan dolar Amerika Serikat (AS) secara global. Selain faktor eksternal, kebutuhan valuta asing (valas) domestik juga meningkat.

“Kebutuhan valas meningkat antara lain untuk pembayaran utang luar negeri (ULN) dan repatriasi dividen, di tengah arus masuk dolar AS yang masih terbatas,” tulis BI dalam keterangannya, Jumat (29/5/2026).

1. Komitmen jaga stabilitas melalui intervensi di pasar keuangan

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia Ramdan Denny Prakoso. (IDN Times/Anata)
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia Ramdan Denny Prakoso. (IDN Times/Anata)

Bank sentral menegaskan tetap berkomitmen menjaga stabilitas rupiah melalui berbagai instrumen intervensi pasar keuangan. Langkah tersebut dilakukan baik di pasar offshore maupun domestik.

BI mengoptimalkan intervensi melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder secara konsisten dan terukur.

"Bank Indonesia terus berkomitmen hadir di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah, around the world, around the clock," tegasnya.

2. BI batasi permintaan dolar AS dengan ubah treshold

ilustrasi 100 dolar AS (pexels.com/Engin Akyurt)
ilustrasi 100 dolar AS (pexels.com/Engin Akyurt)

Selain intervensi pasar, BI juga memperkuat efektivitas bauran kebijakan moneter melalui penguatan struktur suku bunga instrumen moneter yang pro-market.

Kebijakan tersebut ditujukan untuk menjaga daya tarik aset keuangan domestik sekaligus mendukung aliran masuk modal asing.

"Dari sisi pengendalian permintaan dolar AS, BI menetapkan threshold tunai beli valas terhadap rupiah tanpa underlying menjadi 25.000 dolar AS perminper pelaku per bulan yang mulai berlaku pada Juni 2026," ucap Denny.

3. BI perkuat koordinasi dengan pemerintah untuk menjaga stabilitas rupiah

Logo Bank Indonesia
Logo Bank Indonesia

Bank sentral juga terus memperkuat koordinasi dengan otoritas terkait guna menjaga stabilitas pasar keuangan dan nilai tukar rupiah, termasuk melalui pengawasan terhadap aktivitas pembelian dolar AS oleh perbankan dan korporasi.

“Bank Indonesia akan terus mencermati perkembangan pasar keuangan global dan domestik serta senantiasa hadir di pasar dengan mengambil langkah-langkah yang diperlukan secara konsisten dan terukur guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan mendukung ketahanan eksternal perekonomian Indonesia,” ucap Denny.

Share Article
Topics
Editorial Team
Dwifantya Aquina
EditorDwifantya Aquina

Related Articles

See More