Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Blackout Sumatra Diduga karena Angin Kencang, Ini Penjelasan Pengamat

Blackout Sumatra Diduga karena Angin Kencang, Ini Penjelasan Pengamat
Aktivitas warga kembali normal pasca kondisi kelistrikan pulih (Dok. PT. PLN)
Intinya Sih
  • Pemadaman listrik massal di Sumatra diduga dipicu tekanan mekanis akibat angin kencang yang memengaruhi sambungan kabel transmisi di area konduktor.
  • Djoko Darwanto menjelaskan area sambungan kabel menjadi titik paling rawan karena menerima kombinasi getaran, perubahan suhu, dan tekanan akibat gerakan kabel.
  • Dalam sistem interkoneksi besar seperti Sumatra, gangguan pada satu jalur transmisi strategis bisa memicu efek blackout berantai melalui mekanisme proteksi otomatis.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Jakarta, IDN Times - Pemadaman listrik massal atau blackout di Sumatra diduga dipicu tekanan mekanis akibat angin kencang pada jaringan transmisi listrik. Pengamat sistem tenaga listrik Institut Teknologi Bandung (ITB), Djoko Darwanto menilai, faktor cuaca sangat mungkin menjadi pemicu gangguan di area sambungan kabel transmisi.

Menurut Djoko, pola kerusakan yang ditemukan pada sambungan kabel mengarah pada tekanan mekanis yang dipengaruhi kondisi cuaca ekstrem di area konduktor transmisi.

1. Angin kencang di area transmisi bisa picu tekanan berulang

D82A7B28-2856-4585-BA58-20A23B6DEFB1.jpeg
Konferensi pers hasil investigasi blackout Sumatra oleh Bareskrim Polri, Senin (25/5/2026).

Djoko menjelaskan, kondisi cuaca yang dirasakan masyarakat di permukaan tanah belum tentu sama dengan kondisi di ketinggian tempat kabel transmisi berada.

“Kalau melihat pola gangguan yang disampaikan dan titik kerusakannya berada di sambungan kabel, maka faktor cuaca sangat mungkin berkontribusi dalam peristiwa ini,” ujar Djoko dalam keterangan resminya, Jumat (29/5/2026).

Dia mengatakan, angin di area konduktor dapat bergerak jauh lebih kencang dan memicu osilasi kabel secara terus-menerus.

“Di bawah mungkin terasa tidak ekstrem, tetapi di area konduktor, angin bisa cukup kuat untuk menyebabkan kabel bergerak dan saling menarik. Kondisi itu dapat memunculkan tekanan berulang pada kabel,” kata Djoko.

Menurut Djoko, tekanan berulang akibat pergerakan kabel tersebut bisa semakin besar ketika sistem sedang menerima beban listrik tinggi.

2. Area sambungan kabel jadi titik paling rawan

Pejabat Polri dan PLN duduk di meja konferensi pers membahas hasil investigasi gangguan sistem kelistrikan di Sumatra.
Konferensi pers hasil investigasi blackout di Sumatra oleh Polri, Senin (25/5/2026). (IDN Times/Irfan Fathurohman)

Djoko pun menyoroti titik putus kabel berada pada area mid span jointing atau sambungan di tengah bentangan kabel transmisi. Area itu merupakan titik penyatuan dua konduktor dengan metode dan pelindung khusus.

Dia menilai area sambungan memang menjadi bagian yang paling diperhatikan dalam sistem transmisi listrik karena menerima kombinasi getaran, perubahan suhu, hingga tekanan akibat gerakan kabel.

“Pada area sambungan, distribusi tekanannya berbeda dibanding bagian kabel utuh. Oleh karena itu area ini menjadi salah satu titik yang paling diperhatikan dalam sistem transmisi,” kata Djoko.

Sebelumnya, hasil investigasi awal gabungan Bareskrim, Puslabfor, dan PLN mengungkap tiga kemungkinan penyebab putusnya kabel transmisi, yakni stress thermal akibat cuaca, faktor pada area sambungan, serta tekanan mekanis akibat beban dan pengaruh angin.

3. Gangguan satu jalur bisa memicu blackout berantai

Blackout Sumatra Diduga karena Angin Kencang, Ini Penjelasan Pengamat
ilustrasi gelap dan lilin (pexels.com/Rahul)

Djoko juga menjelaskan hasil inspeksi thermal menggunakan drone yang sebelumnya menunjukkan kondisi kabel normal tidak otomatis bertentangan dengan terjadinya blackout.

“Kalau sebelumnya hasil drone thermal menunjukkan normal, itu masih sangat mungkin terjadi. Ada kondisi tertentu yang baru muncul ketika sistem sedang menerima tekanan saat operasi berlangsung,” katanya.

Menurut Djoko, dalam sistem interkoneksi besar seperti Sumatra, gangguan pada satu jalur transmisi strategis dapat memicu efek berantai dengan sangat cepat.

“Begitu frekuensi terganggu, proteksi bekerja otomatis dan pembangkit bisa trip berantai,” ujarnya.

Dia menambahkan, mekanisme proteksi otomatis tersebut memang menjadi standar dalam sistem ketenagalistrikan untuk melindungi pembangkit maupun jaringan dari kerusakan yang lebih besar.

Share Article
Topics
Editorial Team
Jujuk Ernawati
EditorJujuk Ernawati

Related Articles

See More