Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

PGN Bakal Naikkan Tarif Regasifikasi LNG, Ini Penyebabnya

PGN Bakal Naikkan Tarif Regasifikasi LNG, Ini Penyebabnya
PGN berhasil melaksanakan proses ship-to-ship (STS) transfer LNG dari Terminal LNG Bontang ke FSRU Lampung pada 13–14 April 2025. (Dok. PGN).
Intinya Sih
  • PGN menegaskan kenaikan harga hanya berlaku untuk pasokan LNG, sementara gas pipa dan pelanggan HGBT tetap mengikuti ketentuan harga pemerintah tanpa perubahan.
  • Harga LNG naik karena formula penetapannya mengacu pada indikator energi global seperti ICP, JCC, dan JKM yang meningkat akibat dinamika pasar dan geopolitik dunia.
  • PGN membuka ruang fleksibilitas bagi pelanggan industri melalui pengaturan penggunaan aktual, pengelolaan deposit, serta komunikasi intensif agar adaptif terhadap fluktuasi harga energi global.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Jakarta, IDN Times - PT Perusahaan Gas Negara (PGN) akan menaikkan harga liquefied natural gas (LNG). Perusahaan pun merespons kekhawatiran pelaku industri terkait penyesuaian harga yang dipengaruhi kenaikan harga energi global dalam beberapa bulan terakhir.

Corporate Secretary PGN Fajriyah Usman menyatakan pihaknya telah menerima berbagai masukan dari asosiasi maupun pelanggan mengenai kondisi tersebut.

"Yang perlu digarisbawahi, penyesuaian ini terjadi untuk pasokan berbasis LNG. Sementara untuk gas pipa, termasuk pelanggan HGBT (Harga Gas Bumi Tertentu), sejauh ini tidak ada perubahan harga dan tetap mengikuti ketentuan pemerintah," kata dia kepada IDN Times, Jumat (29/5/2026).

1. Formula LNG mengikuti pergerakan harga energi global

Ilustrasi harga minyak naik
Ilustrasi harga migas (IDN Times/Arief Rahmat)

Fajriyah menjelaskan, penentuan harga LNG menggunakan formula yang mengacu pada sejumlah indikator energi internasional seperti Indonesian Crude Price (ICP), Japan Crude Cocktail (JCC), dan Japan Korea Marker (JKM).

Dalam beberapa bulan terakhir, indikator tersebut mengalami kenaikan seiring perubahan kondisi pasar energi global dan dinamika geopolitik. Kenaikan pada salah satu komponen dalam formula itu turut memengaruhi hasil akhir harga LNG yang diterapkan.

"Jadi ketika salah satu komponen dalam formula tersebut berubah, harga yang dihasilkan dari formula itu juga ikut berubah," ujarnya.

2. Kenaikan ICP disebut mencerminkan tekanan harga energi

Ilustrasi kenaikan harga minyak (IDN Times/Arief Rahmat)
Ilustrasi kenaikan harga minyak (IDN Times/Arief Rahmat)

Tekanan harga energi global tercermin dari pergerakan ICP dalam beberapa bulan terakhir. Berdasarkan data Kementerian ESDM, ICP tercatat sebesar 64,41 dolar AS per barel pada Januari 2026, naik menjadi 68,79 dolar AS per barel pada Februari.

Kemudian harga minyak mentah Indonesia itu meningkat ke level 102,26 dolar AS per barel pada Maret dan mencapai sekitar 117,31 dolar AS per barel pada April 2026.

PGN menyebut kondisi serupa juga dialami negara lain yang menggunakan LNG sebagai bagian dari pasokan energinya. Dia juga menjelaskan, perhitungan harga LNG menggunakan rata-rata ICP utama tiga bulan sebelumnya.

"Maka untuk penggunaan gas pada Juni 2026 perhitungannya mengacu pada rata-rata ICP utama yang diterbitkan Kementerian ESDM pada periode Maret, April, dan Mei 2026," kata Fajriyah.

3. PGN buka ruang fleksibilitas untuk pelanggan industri

IMG-20260519-WA0002.jpg
PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN) selaku Subholding Gas Pertamina mencatatkan berbagai langkah strategis setahun terakhir. (Dok. PGN).

Di tengah tekanan yang dihadapi sektor industri, PGN menyatakan tetap membuka ruang penyesuaian bagi pelanggan melalui sejumlah skema fleksibilitas, mencakup pengaturan penggunaan aktual, pengelolaan deposit, hingga penyesuaian rencana pemakaian gas sesuai ketentuan yang berlaku.

PGN juga menyatakan komunikasi dengan pelanggan dan asosiasi terus dilakukan untuk menjaga keseimbangan antara keberlanjutan pasokan energi dan kemampuan pelanggan dalam menyesuaikan diri terhadap kondisi energi global yang masih berfluktuasi.

"Kami terus berkomunikasi dengan pelanggan dan asosiasi supaya bisa mencari titik yang paling manageable untuk semua pihak," ujar dia.

4. Kenaikan tarif regasifikasi LNG bakal kerek harga rata-rata gas industri

IMG-20260519-WA0001.jpg
PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN) selaku Subholding Gas Pertamina mencatatkan berbagai langkah strategis setahun terakhir. (Dok. PGN).

Ketua Umum Asosiasi Aneka Keramik Indonesia (ASAKI), Edy Suyanto sebelumnya mengatakan, harga regasifikasi LNG oleh PGN yang akan naik pada Juni mendatang berpotensi membuat harga beli rata-rata gas bagi anggota ASAKI melonjak. Adapun harga regasifikasi disebut akan naik menjadi 21 hingga 25 dolar AS dari sebelumnya 14,9 dolar AS per MMBTU.

Sementara itu, harga beli rata-rata gas untuk industri keramik penerima Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) pada awal Januari 2026 senilai 9 dolar AS per MMBTU. Namun pada April 2026, harga tersebut naik menjadi 11 dolar AS per MMBTU. Dengan kenaikan harga regasifiksi LNG, Edy memperkirakan harga rata-rata gas industri bagi ASAKI bakal naik hingga 15 dolar AS per MMBTU.

Share Article
Topics
Editorial Team
Jujuk Ernawati
EditorJujuk Ernawati

Related Articles

See More