Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kenapa Orang Berpenghasilan Tinggi Banyak yang Tetap Bokek?

Kenapa Orang Berpenghasilan Tinggi Banyak yang Tetap Bokek?
Ilustrasi tidak punya uang (pexels.com/@olly)
  • Survei di AS menunjukkan penghasilan enam digit belum tentu menciptakan rasa aman finansial; guru bahkan masuk lima profesi dengan jutawan terbanyak, meski konteksnya berbeda dari Indonesia.
  • Penghasilan tinggi bisa tetap habis ketika pengeluaran ikut naik, utang tak terkendali, dan gaya hidup terus meningkat; kekayaan bergantung pada kemampuan menyimpan sebagian pendapatan.
  • Pola pikir dan kebiasaan konsisten—memberi tujuan pada uang, membatasi belanja, mengotomatiskan tabungan, serta meninjau pengeluaran—lebih menentukan keamanan finansial jangka panjang daripada besarnya gaji.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Pernahkah kamu bertanya-tanya mengapa orang dengan gaji besar belum tentu terlihat paling tenang dalam urusan keuangan? Selama ini, penghasilan tinggi sering dianggap sebagai tiket menuju kehidupan yang aman secara finansial. Padahal, besarnya gaji hanyalah salah satu bagian dari cerita. Cara seseorang mengelola, menyimpan, dan menggunakan penghasilannya justru dapat menentukan apakah uang tersebut benar-benar berubah menjadi kekayaan.

Sebuah survei Harris di Amerika Serikat menunjukkan bahwa penghasilan enam digit—setidaknya US$100.000 per tahun—belum tentu membuat seseorang merasa sukses atau aman secara finansial. Di sisi lain, studi Ramsey Solutions terhadap 10.000 jutawan di AS menemukan bahwa guru termasuk dalam lima profesi dengan jumlah jutawan terbanyak.

Namun, temuan ini perlu dilihat dalam konteks Amerika Serikat, bukan Indonesia. Kondisi guru di Indonesia sangat berbeda, dengan tingkat penghasilan yang beragam berdasarkan status kepegawaian, wilayah, sertifikasi, dan tempat mengajar. BPS juga mencatat bahwa kesejahteraan tenaga pendidik masih menghadapi berbagai tantangan, termasuk persoalan upah dan kesenjangan antara institusi pemerintah dan swasta.

sumber: https://www.gobankingrates.com/money/wealth/why-many-high-earners-stay-broke-and-teachers-retire-rich/

  1. Penghasilan besar tidak bisa memperbaiki kebiasaan finansial yang buruk

    Menghitung uang
    Ilustrasi menghitung uang (freepik.com)

    Salah satu kesalahpahaman terbesar mengenai uang adalah anggapan bahwa mendapatkan penghasilan lebih tinggi otomatis membuat seseorang aman secara finansial.

    Menurut Anna Baluch, pakar keuangan dan asuransi di BestMoney, banyak orang berpenghasilan tinggi justru masih merasa kesulitan karena pola pengeluaran mereka terus meningkat mengikuti penghasilan.

    Membangun kekayaan, menurut Baluch, lebih banyak ditentukan oleh keputusan yang dilakukan berulang kali. Menyisihkan sebagian penghasilan secara rutin, menjaga utang tetap terkendali, dan menghindari lifestyle creep atau kebiasaan meningkatkan gaya hidup setiap kali pendapatan naik merupakan beberapa contohnya.

    Pada akhirnya, penghasilan baru benar-benar berubah menjadi kekayaan ketika seseorang mampu mempertahankan dan menyimpan sebagian besar uang tersebut.

  2. Perbedaannya ada pada pola pikir

    Uang
    Ilustrasi uang (freepik.com)

    Menurut Baluch, perbedaan antara orang yang berhasil mengumpulkan kekayaan dan mereka yang cenderung menghabiskan uang bukan semata-mata soal jumlah penghasilan, tetapi juga cara memandang uang.

    Orang yang terbiasa membangun kekayaan biasanya memberikan tujuan pada setiap uang yang mereka miliki. Mereka menetapkan batas pengeluaran, membuat aturan sebelum melakukan pembelian besar, serta secara rutin mengevaluasi biaya tetap agar pengeluaran tidak meningkat tanpa disadari.

    Sebaliknya, orang yang lebih konsumtif cenderung melihat penghasilan dari sisi apa yang bisa dibeli hari ini, bukan bagaimana uang tersebut dapat menciptakan keamanan finansial di masa depan.

    Perbedaan kecil dalam pola pikir ini mungkin tidak terlihat dalam satu atau dua bulan. Namun, jika dilakukan selama bertahun-tahun, dampaknya terhadap kekayaan bisa sangat besar.

  3. Kebiasaan kecil bisa menghasilkan perubahan besar

    Belanja online
    Ilustrasi belanja online (freepik.com)

    Membangun kekayaan tidak selalu membutuhkan strategi yang rumit. Justru, beberapa kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten dapat memberikan dampak besar dalam jangka panjang.

    Baluch menyarankan untuk memperlambat kebiasaan berbelanja, terutama untuk pembelian besar. Memberikan jeda sebelum membeli sesuatu, mengotomatiskan tabungan, serta mengevaluasi pengeluaran rutin setiap beberapa bulan dapat membantu menjaga keuangan tetap berada di jalur yang benar.

    Kebiasaan tersebut mungkin terlihat sederhana, tetapi efeknya dapat terakumulasi seiring waktu. Seseorang tidak harus memiliki gaji enam digit untuk mulai membangun kekayaan. Yang lebih penting adalah membuat keputusan finansial yang secara konsisten mendukung tujuan jangka panjang.

  4. Kekayaan bukan sekadar soal gaji

    Perencanaan finansial
    Ilustrasi perencanaan finansial (freepik.com)

    Gaji besar memang memberikan lebih banyak ruang untuk menabung dan berinvestasi. Namun, tanpa pengelolaan yang baik, penghasilan tinggi juga bisa habis secepat penghasilan biasa.

    Keamanan finansial pada akhirnya lebih banyak ditentukan oleh apa yang dilakukan terhadap uang, bukan sekadar berapa banyak uang yang masuk setiap bulan.

    Orang yang berhasil membangun kekayaan biasanya memiliki kebiasaan yang dapat diulang: mengeluarkan uang dengan tujuan yang jelas, menabung secara konsisten, menjaga utang tetap terkendali, dan tidak membiarkan gaya hidup meningkat tanpa batas setiap kali penghasilan bertambah.

    Karena itu, seseorang dengan gaji sederhana tetapi mampu menyimpan dan menginvestasikan sebagian penghasilannya secara rutin bisa saja berada di posisi yang lebih kuat dalam jangka panjang dibandingkan orang dengan gaji besar yang menghabiskan hampir seluruh pendapatannya.

    Pada akhirnya, membangun kekayaan bukan tentang siapa yang memiliki penghasilan paling tinggi. Kekayaan lebih ditentukan oleh seberapa banyak yang berhasil dipertahankan, bagaimana uang tersebut digunakan, dan seberapa konsisten seseorang memberikan tujuan pada setiap rupiah yang dimilikinya. Penghasilan dapat memberi kamu lebih banyak pilihan, tetapi kebiasaan finansial yang baiklah yang menentukan apakah pilihan tersebut benar-benar bisa bertahan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More