Memburuknya sentimen risk-off mendorong penguatan dolar AS sekaligus meningkatkan risiko arus keluar modal dari portofolio investasi di negara-negara berkembang (emerging markets). Tekanan ini terjadi di tengah kenaikan imbal hasil (yield) obligasi.
Meski demikian, Erwin menegaskan bahwa pergerakan rupiah secara umum masih sejalan dengan mata uang negara-negara kawasan. Secara quarter-to-date (QTD), rupiah tercatat melemah terbatas sebesar 0,17 persen. Dari sisi eksternal, posisi cadangan devisa Indonesia juga masih terjaga. Erwin menyebut, cadangan devisa tercatat sebesar 146,3 miliar dolar AS pada akhir September 2026.
Sementara itu, data cadangan devisa sepanjang Januari–Agustus 2026 menunjukkan tren penurunan pada awal tahun, sebelum berfluktuasi pada bulan-bulan berikutnya. Pada Januari, cadangan devisa tercatat sebesar 154,6 miliar dolar AS, kemudian turun menjadi 151,9 miliar dolar AS pada Februari dan 148,2 miliar dolar AS pada Maret.
Penurunan berlanjut pada April menjadi 146,2 miliar dolar AS dan Mei sebesar 144,9 miliar dolar AS. Cadangan devisa kemudian meningkat menjadi 145,6 miliar dolar AS pada Juni, turun tipis menjadi 145,3 miliar dolar AS pada Juli, sebelum kembali naik menjadi 146,5 miliar dolar AS pada Agustus.