[PUISI] Rumah yang Tidak Menjadi Rumah

Di bawah atap itu,
Angin berbisik seperti cerita lama
Yang tak pernah selesai
Selalu kembali
Meski tak ada yang ingin mendengarnya.
Dindingnya menghafal gema pertengkaran,
Menyimpannya seperti rahasia berdebu
Yang tak mau mati.
Setiap pintu terasa berat,
Seolah tahu ada hati
Yang sering dibiarkan terluka
Tanpa suara.
Di meja makan,
Kita duduk seperti boneka
Yang lupa cara saling menatap.
Tawa dilepas seadanya,
Seperti tamu asing
Yang dipaksa ikut bersulang.
Dan kata-kata?
Sering berubah jadi bara,
Menyala kecil
Tapi cukup untuk membakar malam.
Aku tumbuh dengan belajar menepis
Bayangan yang menempel di kulit,
Belajar merapikan diri
Di tengah kegaduhan sunyi yang berpura-pura damai.
Kadang aku ingin bertanya,
Apakah cinta memang begini bentuknya
Tajam, samar,
Dan selalu membuatku menunduk?
Hingga suatu hari,
Aku menemukan pintu
Yang selama ini tidak pernah kuberani sentuh.
Kukayuh langkah,
Meski gemetar,
Meski takut kehilangan
Yang sebenarnya tak pernah kumiliki.
Dan di luar sana,
Udara terasa lebih jujur.
Langit tak lagi menekan bahu.
Untuk pertama kalinya
Aku mengerti,
Rumah bukan soal tempat kembali
Tapi tempat di mana hati
Tak perlu bersembunyi.


















