Banyak orang menganggap rasa kopi single origin otomatis lebih istimewa hanya karena bijinya berasal dari satu daerah atau wilayah tertentu. Tren third-wave coffee pun membuat nama seperti Ethiopia Yirgacheffe atau Gayo Wine terdengar semakin eksklusif bagi penikmat kopi.
Namun, label single origin yang terdengar lebih eksklusif bukan jaminan bahwa secangkir kopinya akan terasa lebih nikmat daripada kopi blend, sebab kualitas rasa tak hanya ditentukan oleh asal biji. Sebagian orang masih menganggap blend sebagai cara untuk menutupi kualitas biji kopi yang kurang baik. Padahal, proses meracik blend sendiri membutuhkan pemahaman terhadap karakter masing-masing biji agar perpaduannya menghasilkan profil rasa yang sesuai.
Lantas, apa saja alasan single origin belum tentu lebih enak daripada kopi blend? Simak lima alasannya sampai akhir dan mungkin kamu akan melihat secangkir blend dengan cara yang berbeda setelah ini.
