Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Benarkah Microwave Merusak Gizi Makanan? Begini Penjelasan Ilmiahnya

Benarkah Microwave Merusak Gizi Makanan? Begini Penjelasan Ilmiahnya
ilustrasi microwave, masak homemade pizza (vecteezy.com/minicase)
  • Microwave dapat mengurangi sebagian nutrisi seperti metode memasak lain, tetapi tidak otomatis paling buruk; penelitian menemukan makanan beku yang dipanaskan microwave mempertahankan sedikit lebih banyak vitamin C.

  • Durasi pemanasan, jenis makanan, suhu, dan jumlah air lebih menentukan kehilangan gizi. Pada brokoli, perebusan lebih banyak mengurangi flavonoid dibanding pengukusan atau microwave.

  • Penggunaan wadah juga penting: plastik yang tidak aman untuk microwave berpotensi melepaskan zat kimia saat dipanaskan. Wadah kaca, keramik, atau berlabel aman microwave disarankan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Microwave sering jadi andalan ketika kamu ingin menghangatkan makanan dengan cepat tanpa perlu menyalakan kompor. Meski praktis, alat elektronik satu ini juga kerap dikaitkan dengan berbagai kekhawatiran, mulai dari radiasi hingga anggapan bahwa microwave bisa merusak seluruh kandungan gizi makanan.

Padahal, cara kerja microwave sebenarnya gak sesederhana itu dan dampaknya terhadap nutrisi juga dipengaruhi oleh banyak faktor. Jenis makanan, lama pemanasan, suhu, hingga jumlah air yang digunakan bisa menentukan seberapa banyak zat gizi yang tetap bertahan.

Jadi, benarkah microwave benar-benar membuat makanan kehilangan gizinya? Berikut penjelasan ilmiahnya.

  1. 1. Microwave memang bisa mengurangi nutrisi, tapi bukan berarti paling buruk

    ilustrasi microwave, menghangatkan makanan
    ilustrasi microwave, menghangatkan makanan (vecteezy.com/Towfiqu ahamed barbhuiya)

    Sama seperti metode memasak lainnya, microwave memang dapat menyebabkan sebagian kandungan nutrisi berkurang. Namun, hal ini bukan berarti microwave selalu lebih buruk dibandingkan merebus, mengukus, atau memanggang makanan, lho. Panas dan proses memasak pada dasarnya memang bisa memengaruhi zat gizi tertentu, terutama vitamin dan senyawa alami yang sensitif terhadap suhu.

    Menariknya, sebuah penelitian yang membandingkan makanan siap saji beku yang dimasak menggunakan microwave dan oven konvensional menemukan hasil yang cukup berbeda dari anggapan banyak orang. Dalam penelitian yang dimuat di Journal of Microwave Power and Electromagnetic Energy tersebut, perbedaan utama yang ditemukan adalah makanan yang dipanaskan dengan microwave justru mempertahankan sedikit lebih banyak vitamin C. Hal ini menunjukkan bahwa microwave gak otomatis menghancurkan semua nutrisi dalam makanan.

    Menurut penelitian dalam Journal of Microwave Power and Electromagnetic Energy, dampak metode memasak terhadap kandungan gizi gak bisa dilihat hanya dari jenis alat yang digunakan. Durasi pemanasan dan kondisi memasak juga memiliki peran penting terhadap jumlah nutrisi yang hilang. Jadi, memasak terlalu lama dengan metode apa pun berpotensi mengurangi kandungan zat gizi makanan.

  2. 2. Waktu memasak justru sangat menentukan kandungan gizi

    ilustrasi sayuran brokoli
    ilustrasi sayuran brokoli (unsplash.com/Tyrrell Fitness And Nutrition)

    Salah satu alasan microwave bisa membantu mempertahankan nutrisi adalah karena proses pemanasannya relatif cepat. Semakin lama makanan terkena panas, semakin besar kemungkinan beberapa zat gizi mengalami kerusakan. Karena microwave dapat memanaskan makanan dalam waktu singkat, paparan panas yang diterima makanan juga bisa lebih rendah dibandingkan metode tertentu.

    Menurut penelitian dalam Heliyon, waktu memasak menjadi salah satu faktor penting dalam mempertahankan kandungan nutrisi pada brokoli. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa metode memasak yang digunakan dapat menghasilkan perubahan berbeda pada kandungan flavonoid. Merebus menyebabkan kehilangan flavonoid yang lebih besar, sementara mengukus dan menggunakan microwave dapat menyebabkan kehilangan yang lebih kecil atau bahkan peningkatan pada senyawa tertentu.

    Peneliti utama Xianli Wu dari Beltsville Human Nutrition Research Center, Departemen Pertanian Amerika Serikat, menjelaskan bahwa setiap jenis sayuran dapat memberikan respons berbeda terhadap proses pemanasan. Ia menilai microwave secara umum bisa menjadi metode memasak yang baik untuk banyak makanan nabati, meski waktu pemanasan idealnya gak selalu sama. Artinya, kamu tetap perlu memperhatikan jenis makanan dan jangan asal memanaskannya terlalu lama, ya.

  3. 3. Terlalu banyak air bisa membuat nutrisi lebih mudah hilang

    ilustrasi masak di rumah
    ilustrasi masak di rumah (pexels.com/Karolina Grabowska www.kaboompics.com)

    Bukan hanya panas, jumlah air yang digunakan saat memasak juga dapat memengaruhi kandungan gizi makanan. Beberapa vitamin dan senyawa alami dalam sayuran bisa larut ke dalam air selama proses pemasakan. Itulah sebabnya merebus sayuran dengan banyak air berpotensi menyebabkan lebih banyak zat gizi berpindah ke air rebusan.

    Menurut penelitian dalam Heliyon, penggunaan microwave dan pengukusan dapat menghasilkan perubahan kandungan flavonoid yang berbeda dibandingkan proses perebusan. Penelitian tersebut juga menegaskan bahwa kondisi memasak, termasuk metode yang digunakan, sangat memengaruhi jumlah senyawa flavonoid yang tersisa pada brokoli. Karena itu, memilih metode memasak yang tepat dapat membantu mempertahankan lebih banyak senyawa antioksidan dalam makanan.

    Penelitian lain dalam jurnal Food Chemistry yang membandingkan proses merebus, mengukus, dan menggunakan microwave pada beberapa jenis sayuran juga menemukan hasil menarik. Microwave dan pengukusan memang dapat mengurangi kandungan senyawa fenolik pada sayuran tertentu, tapi beberapa sayuran seperti bayam, paprika, brokoli, dan kacang hijau mampu mempertahankan kandungan tersebut dengan baik. Dibandingkan perebusan, metode microwave bahkan menunjukkan hasil yang lebih baik dalam mempertahankan aktivitas antioksidan pada sejumlah sayuran.

  4. 4. Microwave bahkan bisa membantu mempertahankan nutrisi tertentu

    ilustrasi microwave
    ilustrasi microwave (freepik.com/fabrikasimf)

    Anggapan bahwa makanan dari microwave pasti kurang sehat ternyata gak sepenuhnya benar. Sebuah penelitian dalam jurnal Heliyon tahun 2023 yang membandingkan metode memasak pada berbagai jenis sayuran menunjukkan bahwa proses pemanasan dapat memberikan dampak berbeda terhadap kandungan nutrisi. Microwave termasuk salah satu metode yang dapat membantu mempertahankan komponen gizi tertentu dibandingkan beberapa metode memasak lainnya. Namun, hasilnya tetap bergantung pada jenis sayuran, lama pemanasan, dan jumlah air yang digunakan.

    Menurut penelitian tersebut, metode memasak yang berbeda memberikan pengaruh yang berbeda pula terhadap kualitas nutrisi sayuran. Penelitian tersebut membandingkan proses perebusan, pengukusan, dan penggunaan microwave pada sejumlah sayuran untuk melihat perubahan kandungan nutrisinya. Hasilnya menunjukkan bahwa microwave menjadi salah satu metode yang efektif untuk mempertahankan kandungan nutrisi pada sayuran yang diteliti.

    Ada juga kemungkinan bahwa pemanasan membuat beberapa senyawa dalam makanan menjadi lebih mudah diukur. Xianli Wu menjelaskan bahwa pada beberapa kasus, pemanasan dapat melunakkan jaringan tanaman sehingga senyawa seperti flavonoid menjadi lebih mudah diekstraksi saat dilakukan pengujian. Karena itu, perubahan kandungan senyawa setelah dimasak tidak selalu berarti jumlahnya benar-benar bertambah atau berkurang secara sederhana, ya.

  5. 5. Hal yang lebih perlu diperhatikan justru wadah plastiknya

    ilustrasi wadah makanan, food storage, meal prep
    ilustrasi wadah makanan, food storage, meal prep (pexels.com/IARA MELO)

    Kalau kamu ingin menggunakan microwave, bukan hanya makanan yang perlu diperhatikan, tapi juga wadahnya. Gak semua plastik dirancang untuk terkena suhu tinggi. Ketika jenis plastik yang gak sesuai dipanaskan, ada kemungkinan zat kimia tertentu berpindah dari wadah ke makanan.

    Juming Tang, profesor teknik pangan dari Washington State University, menjelaskan bahwa beberapa jenis plastik memiliki bahan polimer yang membuatnya lebih lembut dan fleksibel. Bahan tersebut dapat lebih gampang meleleh atau melepaskan senyawa tertentu ketika terkena panas tinggi. Karena itu, penggunaan wadah yang memang memiliki label aman untuk microwave menjadi hal yang sangat penting.

    Menurut penelitian dalam Environmental Health Perspectives, sejumlah wadah plastik yang digunakan untuk makanan dapat melepaskan bahan kimia dengan aktivitas yang berpotensi mengganggu sistem hormon. Salah satu kelompok zat yang sering menjadi perhatian adalah phthalates, yaitu bahan tambahan yang digunakan untuk membuat plastik lebih fleksibel. Untuk mengurangi risiko paparan zat yang tak diinginkan, kamu bisa memilih wadah berbahan kaca atau keramik saat memanaskan makanan.

    Pada akhirnya, microwave gak bisa langsung dianggap sebagai musuh bagi kandungan gizi makanan. Seperti metode memasak lainnya, microwave memang dapat menyebabkan sebagian nutrisi berkurang, tapi dalam kondisi tertentu justru mampu mempertahankan nutrisi lebih baik karena waktu pemanasannya lebih singkat. Kuncinya ada pada cara penggunaan, seperti gak memanaskan makanan terlalu lama dan gak menggunakan terlalu banyak air.

    Jadi, kalau selama ini kamu takut makanan menjadi gak bergizi hanya karena dipanaskan dengan microwave, kekhawatiran tersebut sebenarnya tidak sepenuhnya tepat. Hal yang jauh lebih penting adalah memperhatikan jenis makanan, durasi pemanasan, dan wadah yang digunakan. Dengan cara yang tepat, microwave tetap bisa menjadi alat praktis untuk menyiapkan makanan tanpa harus langsung membuat nilai gizinya hilang begitu saja.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More