Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

6 Sinyal Tubuh yang Menandakan Kamu Perlu Probiotik, Ini Kata Dokter!

5 min read
6 Sinyal Tubuh yang Menandakan Kamu Perlu Probiotik, Ini Kata Dokter!
ilustrasi miso (magnific.com/magnific)
  • Keluhan pencernaan seperti kembung, gas, diare, sembelit, pola BAB berubah, atau intoleransi laktosa dapat menjadi alasan untuk memperhatikan mikrobioma dan mempertimbangkan probiotik tertentu.
  • Setelah memakai antibiotik, probiotik berpotensi menurunkan risiko diare, tetapi manfaatnya berbeda menurut strain, dosis, dan kondisi tiap orang.
  • Pilek berulang, masalah kulit, bad mood, atau brain fog berkaitan dengan penelitian usus; namun probiotik bukan kebutuhan harian otomatis dan keluhan menetap perlu dikonsultasikan ke dokter.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Probiotik semakin sering dibicarakan karena dianggap punya peran dalam menjaga keseimbangan mikroorganisme di dalam saluran pencernaan. Penggunaannya sebagai suplemen juga terus meningkat, meski sebenarnya gak semua orang membutuhkan probiotik tambahan setiap hari.

Dokter biasanya mempertimbangkan kondisi dan keluhan tertentu sebelum menyarankan penggunaan probiotik. Beberapa tanda bahkan berkaitan dengan masalah pencernaan, kondisi kulit, sistem kekebalan tubuh, hingga hubungan antara usus dan otak.

Lantas, apa saja sinyal tubuh yang mungkin menunjukkan bahwa kamu perlu lebih memperhatikan kesehatan mikrobioma usus?

  1. 1. Kamu sering mengalami kembung dan masalah BAB

    ilustrasi BAB
    ilustrasi BAB (vecteezy.com/nuttawan jayawan)

    Kembung, banyak gas, diare, sembelit, atau pola buang air besar yang gak teratur bisa menjadi tanda bahwa kondisi pencernaanmu perlu diperhatikan. Dokter gastroenterologi Arkady Broder menjelaskan bahwa keluhan seperti kembung, kram perut, diare, sembelit, dan perubahan pola BAB termasuk gejala yang mungkin mendapatkan manfaat dari probiotik tertentu. Keluhan tersebut juga dapat muncul pada orang yang mengalami gejala mirip irritable bowel syndrome atau IBS.

    Dokter penyakit dalam Ruvini Wijetilaka menjelaskan bahwa kebiasaan BAB yang sering berubah antara sembelit dan diare menjadi salah satu kondisi yang patut diperhatikan. Kembung dan produksi gas berlebihan setelah makan juga dapat berkaitan dengan gangguan keseimbangan mikrobioma usus. Menurut penelitian dalam Frontiers in Microbiology, probiotik memiliki potensi dalam mendukung kesehatan saluran pencernaan, meski manfaatnya tetap bergantung pada jenis strain dan kondisi orang yang mengonsumsinya.

  2. 2. Kamu baru saja mengonsumsi antibiotik

    ilustrasi obat
    ilustrasi obat (magnific.com/jcomp)

    Antibiotik bekerja dengan membunuh atau menghambat bakteri penyebab infeksi, tapi penggunaannya juga dapat mengganggu bakteri yang hidup secara alami di dalam usus. Perubahan tersebut pada sebagian orang dapat diikuti masalah pencernaan, termasuk diare setelah penggunaan antibiotik. Karena itu, kondisi setelah menjalani terapi antibiotik menjadi salah satu situasi ketika probiotik dapat dipertimbangkan.

    Menurut penelitian dalam Prz Gastroenterol, meta-analisis terhadap 15 uji klinis dengan total 7.427 peserta menemukan bahwa probiotik berkaitan dengan penurunan kejadian diare akibat antibiotik pada orang dewasa. Analisis tersebut menunjukkan penurunan risiko sekitar 40 persen, meski para peneliti juga mencatat adanya perbedaan antara penelitian, termasuk jenis strain, dosis, dan karakteristik peserta. Artinya, hasil tersebut gak berarti setiap jenis probiotik akan memberikan manfaat yang sama bagi semua orang.

  3. 3. Kamu sering mengalami pilek atau infeksi saluran pernapasan

    ilustrasi sakit pilek
    ilustrasi sakit pilek (pexels.com/Andrea Piacquadio)

    Kesehatan usus memiliki hubungan dengan sistem kekebalan tubuh, sehingga kondisi mikrobioma menjadi salah satu aspek yang menarik perhatian dalam penelitian. Dokter Ruvini Wijetilaka menjelaskan bahwa sistem kekebalan tubuh memiliki hubungan erat dengan usus. Karena itu, orang yang merasa sering sakit dapat mempertimbangkan untuk mengevaluasi berbagai faktor yang memengaruhi kesehatan tubuh, termasuk pola makan dan kondisi pencernaan.

    Penelitian dalam Cochrane Database of Systematic Reviews meninjau penggunaan probiotik untuk membantu mencegah infeksi saluran pernapasan atas akut. Hasil kajian tersebut menunjukkan adanya potensi manfaat probiotik pada kondisi tersebut, tapi bukti yang tersedia tetap perlu dilihat berdasarkan jenis probiotik dan karakteristik penelitian. Jadi, sering terkena pilek gak otomatis berarti kamu membutuhkan suplemen probiotik, ya.

  4. 4. Kulitmu sering mengalami masalah

    ilustrasi jerawat
    ilustrasi jerawat (freepik.com/freepik)

    Kondisi kulit ternyata juga memiliki kaitan dengan kesehatan mikrobioma usus melalui hubungan yang dikenal sebagai gut-skin axis. Dokter Ruvini Wijetilaka menjelaskan bahwa masalah seperti jerawat, eksim, dan rosacea memiliki hubungan dengan kondisi usus. Ketika masalah kulit terus muncul, kesehatan pencernaan dapat menjadi salah satu aspek yang ikut diperhatikan, terutama jika perawatan dari luar belum memberikan hasil yang diharapkan.

    Menurut penelitian dalam Nutrients, keseimbangan mikrobiota usus dapat berhubungan dengan sistem imun dan kondisi kulit melalui gut-skin axis. Tinjauan tersebut membahas potensi probiotik dalam membantu memengaruhi keseimbangan mikrobiota, respons peradangan, serta fungsi penghalang tubuh yang berkaitan dengan sejumlah kondisi kulit. Meski begitu, penelitian juga menunjukkan bahwa efek probiotik berbeda-beda berdasarkan strain dan kondisi kulit yang diteliti.

  5. 5. Kamu sering mengalami bad mood atau brain fog

    ilustrasi kesepian
    ilustrasi kesepian (magnific.com/rawpixel.com)

    Hubungan antara usus dan otak juga menjadi salah satu bidang yang terus diteliti dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi ini dikenal sebagai gut-brain axis, yaitu komunikasi dua arah yang melibatkan sistem pencernaan, sistem saraf, sistem kekebalan, dan berbagai jalur biologis lainnya. Karena itu, keluhan seperti perubahan mood atau kesulitan berkonsentrasi menarik perhatian peneliti ketika muncul bersamaan dengan masalah pencernaan.

    Menurut penelitian dalam Frontiers in Nutrition, tinjauan sistematis terhadap penelitian dengan metode pencitraan otak menunjukkan bahwa probiotik berpotensi memengaruhi aktivitas dan konektivitas beberapa area otak yang berkaitan dengan regulasi emosi dan proses kognitif. Namun, peneliti juga menekankan adanya variasi metodologi dan ukuran sampel yang masih terbatas sehingga penelitian lebih lanjut tetap dibutuhkan.

    Penelitian lain dalam npj Mental Health Research juga menemukan bahwa konsumsi probiotik dikaitkan dengan perubahan mood negatif dari waktu ke waktu pada orang dewasa sehat. Studi tersebut menggunakan laporan suasana hati harian untuk melihat perubahan yang mungkin gak selalu terlihat melalui pengukuran sesekali. Temuan ini menarik, tapi belum cukup untuk menyimpulkan bahwa probiotik dapat digunakan sebagai pengobatan untuk gangguan mood.

  6. 6. Kamu punya intoleransi terhadap makanan tertentu

    ilustrasi susu
    ilustrasi susu (magnific.com/magnific)

    Keluhan setelah mengonsumsi makanan tertentu juga dapat membuat kesehatan pencernaan perlu mendapatkan perhatian lebih. Salah satu contohnya adalah intoleransi laktosa, yaitu kondisi ketika tubuh kesulitan mencerna laktosa yang terdapat dalam susu dan produk olahannya. Pada sebagian orang, kondisi ini dapat menyebabkan kembung, gas, atau rasa tidak nyaman setelah mengonsumsi produk susu.

    Dokter Arkady Broder menjelaskan bahwa beberapa probiotik serta makanan fermentasi seperti yogurt dan kefir mengandung mikroorganisme yang dapat membantu proses pemecahan laktosa. Kefir bahkan dapat lebih mudah ditoleransi oleh sebagian orang dibandingkan susu biasa. Meski begitu, respons setiap orang berbeda sehingga munculnya keluhan setelah makan tetap perlu dilihat berdasarkan jenis makanan, jumlah yang dikonsumsi, dan kondisi kesehatan masing-masing.

    Probiotik memang memiliki potensi untuk mendukung kesehatan tubuh, terutama dalam kondisi tertentu yang berkaitan dengan saluran pencernaan. Namun, keberadaan salah satu tanda di atas gak otomatis berarti kamu harus langsung membeli suplemen probiotik. Jenis strain, dosis, kondisi kesehatan, serta tujuan penggunaannya perlu diperhatikan karena setiap probiotik gak memiliki efek yang sama.

    Dokter juga menjelaskan bahwa orang sehat dengan pola makan beragam dan kaya serat umumnya gak membutuhkan probiotik harian untuk tetap sehat. Makanan fermentasi seperti yogurt dengan kultur hidup, kefir, kimchi, miso, dan beberapa jenis makanan fermentasi lainnya bisa menjadi bagian dari pola makan sehari-hari. Kalau kamu memiliki kondisi medis tertentu atau sedang mempertimbangkan probiotik untuk keluhan yang menetap, sebaiknya diskusikan terlebih dahulu dengan dokter agar pilihan yang diambil sesuai dengan kebutuhan tubuhmu.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Dari Kebun Nilam ke Pasar Dunia

Related Articles

See More