Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Apa yang Membuat Yakiimo Ubi Bakar Jepang Istimewa?

4 min read
Apa yang Membuat Yakiimo Ubi Bakar Jepang Istimewa?
Potret yakiimo, ubi bakar Jepang (photo-ac.com/チリーズ)
  • Yakiimo memakai varietas ubi pilihan yang dipanen pada musim gugur, lalu disimpan dalam suhu dan kelembapan terkontrol agar kadar gula meningkat sebelum diolah.

  • Pemanggangan tidak langsung di atas batu atau kerikil panas pada suhu rendah mengaktifkan enzim amilase, mengubah pati menjadi maltosa dan menghasilkan rasa manis alami.

  • Selain bertekstur hokuhoku atau nettori seperti dessert, yakiimo menjadi penanda musim lewat pedagang keliling dan kini tersedia lebih luas di convenience store serta produk premium.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Hidangan yang menghangatkan tubuh memang selalu lezat dinikmati saat suhu udara dingin, termasuk ketika musim gugur atau musim dingin di Jepang. Selain hidangan utama berkuah, street food khas Jepang selalu menarik dinikmati. Salah satu camilan yang populer dan digandrungi banyak orang saat masih hangat adalah yakiimo, ubi bakar khas Jepang.

Yakiimo memiliki aroma khas, warna kuning cerah begitu dibelah, dan rasa manis alami yang mudah dikenali. Meskipun tampak sederhana, ubi bakar tersebut istimewa dan dianggap sebagai penanda pergantian musim oleh banyak orang Jepang.

Lantas, apa yang membuat yakiimo, si ubi bakar Jepang ini terasa begitu istimewa? Berikut beberapa alasannya yang perlu kamu tahu.

  1. 1. Menggunakan ubi pilihan yang dipanen saat musim gugur

    Yakiimo tidak menggunakan ubi jalar sembarangan, melainkan varietas tertentu seperti Beni Azuma, Naruto Kintoki, Beni Haruka, Anno Imo, dan Silk Sweet. Pasalnya, varietas tersebut memiliki karakter rasa dan tekstur yang khas, ada yang creamy, ada pula yang lembut dan ringan. Setiap varietas tersebut punya penggemarnya sendiri di kalangan pencinta ubi bakar di Jepang.

    Ubi tersebut umumnya dipanen antara akhir Agustus hingga pertengahan November, tepat saat musim gugur. Setelah dipanen, ubi akan disimpan pada suhu dan kelembapan yang terkontrol selama beberapa pekan, agar kadar gulanya meningkat melalui proses pematangan lanjutan.

    Proses ini membuat yakiimo yang dijual pada musim gugur hingga awal musim dingin terasa lebih manis dibandingkan ubi yang langsung diolah setelah dipanen.

  2. 2. Dipanggang secara tradisional untuk mengeluarkan rasa manis alami

    Potret cara memanggang yakiimo
    Potret cara memanggang yakiimo (commons.wikimedia.org/Haruo.takagi)

    Selain varietas ubi, cara memanggangnya pun berperan dalam mengeluarkan rasa manis alami pada yakiimo. Secara tradisional, dipanggang menggunakan metode shiyaki atau tsuboyaki yang membuatnya berbeda dari ubi bakar yang dipanggang langsung di atas api atau arang.

    Caranya, ubi akan dipanggang secara tidak langsung di atas batu atau kerikil panas, supaya panas menyebar perlahan dan merata ke seluruh bagian ubi. Proses pemanggangan yang dilakukan perlahan pada suhu sekitar 65–80 derajat Celsius, mengaktifkan enzim amilase yang secara alami terkandung dalam ubi.

    Enzim tersebut memecah pati menjadi gula maltosa, sehingga rasa manisnya meningkat drastis dibandingkan ubi yang dipanggang dengan panas tinggi dan cepat. Semakin lambat proses pemanggangannya, semakin banyak pula pati yang berubah menjadi gula.

  3. 3. Teksturnya lembut menyerupai dessert

    Setelah dipanggang, daging ubi akan berubah warna menjadi kuning keemasan dengan tekstur yang lembut dan sedikit lengket. Rasanya manis dan teksturnya menyerupai dessert, tanpa tambahan gula, mentega, maupun bahan lain. Maka dari itu, yakiimo kerap disebut sebagai camilan tanpa bahan tambahan yang terasa seperti makanan penutup.

    Yakiimo dibagi menjadi dua berdasarkan teksturnya, yakni tipe hokuhoku dan nettori. Tipe hokuhoku lebih kering dan berserat, biasanya menggunakan ubi jalar varietas Beni Azuma dan Naruto Kintoki. Sedangkan, tipe nettori cenderung lembap dan lengket, tetapi dianggap mewah oleh penikmat yakiimo, dapat ditemukan pada varietas Beni Haruka, Anno Imo, dan Silk Sweet.

  4. 4. Identik dengan budaya penjual keliling sebagai penanda pergantian musim

    Potret truck yakiimo keliling
    Potret truck yakiimo keliling (commons.wikimedia.org/Pocsywe)

    Salah satu hal yang membuat yakiimo melekat dalam budaya Jepang adalah kehadiran truk atau gerobak keliling para penjualnya. Mereka biasanya berkeliling di area permukiman sambil memutar suara yang berbunyi "Ishi-yaaa-kiimo-oo," seperti pedagang tahu bulat di Indonesia. Suara tersebut sudah dikenal turun-temurun yang turut mengisi memori masa kecil banyak orang Jepang.

    Kemunculan pedagang keliling yakiimo biasanya bertepatan dengan masuknya musim gugur menuju musim dingin, saat udara mulai terasa dingin dan banyak orang mencari camilan hangat. Ada pula ungkapan populer shokuyoku no aki, yang berarti musim gugur adalah musim nafsu makan, dan yakiimo menjadi salah satu camilannya. Bagi sebagian orang Jepang, suara truk pedagang yakiimo sama kuatnya sebagai penanda pergantian musim seperti daun momiji yang mulai berguguran.

  5. 5. Berkembang menjadi camilan yang dapat dinikmati sepanjang tahun

    Kini, kamu gak harus menunggu pedagang yakiimo keliling atau musim tertentu untuk menikmatinya. Sejumlah convenience store besar mulai menjual yakiimo secara musiman, bahkan sebagian lainnya menyediakannya sepanjang tahun. Hal ini membuat ubi bakar Jepang tersebut makin mudah dinikmati wisatawan kapan saja.

    Sebaiknya kamu menyantapnya selagi masih hangat, uapnya masih mengepul akan mengeluarkan aroma yang menggugah selera. Semakin nikmat jika dipadukan dengan teh hijau atau hojicha yang membuat manisnya lebih menonjol. Kamu juga bisa menikmatinya sambil piknik atau momijigari.

    Kalau punya bujet lebih, kamu bisa membeli yakiimo kemasan premium yang tersedia di area oleh-oleh bandara dan pusat perbelanjaan. Sejumlah produsen bahkan mengembangkan ubi bermerek dan yakiimo hasil pematangan khusus dengan harga yang lebih tinggi. Ubi bakar Jepang terus beradaptasi, menyesuaikan dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan akar tradisinya sebagai camilan musim gugur dan musim dingin.

    Nah, sekarang kamu sudah tahu alasannya yang membuat yakiimo, ubi bakar Jepang yang istimewa. Bukan sekadar ubi jalar yang manis alami, tetapi sudah menjadi bagian dari budaya kuliner Jepang, terutama saat musim gugur dan musim dingin. Apakah kamu pernah mencicipinya?

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More