Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Benarkah Orang Jepang Hanya Makan Sushi saat Berhemat?

Benarkah Orang Jepang Hanya Makan Sushi saat Berhemat?
ilustrasi sushi (unsplash.com/Theo)
Intinya Sih
  • Sushi di Jepang hadir dalam berbagai kelas harga, dari bahan sederhana seperti telur dan sayuran hingga seafood premium, sehingga tidak selalu dianggap makanan mahal.
  • Banyak warga Jepang membeli sushi di supermarket atau restoran kaiten-zushi dengan harga terjangkau, bahkan sering mendapat diskon menjelang malam.
  • Sushi gulung seperti makizushi dan futomaki populer karena mengenyangkan, murah, serta mudah ditemukan sebagai pilihan makan sehari-hari.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Sushi sering dianggap sebagai makanan mahal karena kerap dikaitkan dengan restoran premium dan menu mahal. Namun, pandangan tersebut tidak selalu berlaku di Jepang, tempat sushi hadir dalam berbagai bentuk dan rentang harga yang jauh lebih beragam.

Tidak heran jika belakangan muncul anggapan bahwa orang Jepang bisa membeli sushi saat sedang berhemat, sementara di banyak negara lain sushi justru lebih sering dinikmati ketika memiliki uang lebih. Perbedaan inilah yang membuat banyak orang penasaran apakah sushi di Jepang memang semurah itu? Berikut penjelasannya.

1. Tidak semua sushi menggunakan bahan mahal

ilustrasi tamago sushi
ilustrasi tamago sushi (vecteezy.com/Siraphol Siricharattakul)

Ketika mendengar kata sushi, banyak orang langsung membayangkan nigiri dengan potongan salmon tebal atau tuna berwarna merah cerah. Padahal, banyak jenis sushi di Jepang yang tidak menggunakan ikan mahal sama sekali. Salah satu contohnya adalah tamago sushi yang menggunakan telur dadar Jepang bertekstur lembut dan sedikit manis.

Ada juga kappa maki yang hanya berisi timun segar, serta inari sushi yang menggunakan kantong tahu goreng berbumbu sebagai pembungkus nasi. Bahan-bahan seperti ini jauh lebih murah dibandingkan dengan seafood premium. Karena biaya bahan bakunya rendah, harga jualnya pun bisa lebih terjangkau.

Selain itu, beberapa jenis sushi memang sejak awal dibuat untuk memanfaatkan bahan yang mudah ditemukan sepanjang tahun. Futomaki, misalnya, sering diisi dengan kombinasi telur, jamur shiitake, timun, dan sayuran lainnya. Rasanya tetap menarik karena mengandalkan perpaduan tekstur dan bumbu, bukan semata-mata ikan mahal.

Di Jepang, sushi seperti ini bukan makanan kelas bawah, melainkan bagian dari variasi kuliner yang sudah lama dikenal. Banyak keluarga juga membuatnya sendiri di rumah karena bahan-bahannya mudah didapat. Inilah salah satu alasan mengapa sushi tidak selalu identik dengan makanan mahal di negara asalnya.

2. Sushi murah mudah ditemukan di supermarket

ilustrasi sushi
ilustrasi sushi (commons.wikimedia.org/MichaelMaggs)

Jika wisatawan sering mencari sushi di restoran, warga Jepang justru sering membelinya di supermarket. Hampir setiap supermarket besar memiliki bagian khusus yang menjual sushi siap makan setiap hari. Pilihannya beragam, mulai dari nigiri sederhana hingga sushi gulung dalam kemasan praktis.

Kotak-kotak sushi tersebut biasanya disusun bersama makanan siap santap lain seperti bento dan sashimi. Karena diproduksi dalam jumlah besar, harganya cenderung lebih murah dibandingkan dengan sushi yang dibuat langsung oleh chef di restoran. Bagi banyak pekerja kantoran, membeli sushi supermarket merupakan hal yang sangat biasa.

Menjelang malam, harga sushi di supermarket sering menjadi lebih menarik. Banyak toko menempelkan stiker diskon pada makanan segar yang harus segera terjual pada hari itu. Potongan harganya bisa cukup besar sehingga satu kotak sushi menjadi jauh lebih murah dibandingkan dengan harga awalnya. Karena alasan tersebut, sebagian orang sengaja datang pada jam-jam tertentu untuk berburu makanan diskon.

Sushi yang tadinya terasa agak mahal bisa berubah menjadi pilihan makan malam yang cukup hemat. Fenomena inilah yang sering melahirkan anggapan bahwa sushi dapat menjadi makanan saat sedang berusaha menghemat pengeluaran.

3. Sushi gulung menjadi salah satu pilihan favorit

ilustrasi makizushi
ilustrasi makizushi (commons.wikimedia.org/Tim Reckmann)

Di antara banyak jenis sushi, makizushi atau sushi gulung termasuk yang sering dijual dengan harga terjangkau. Bentuknya dibuat dengan menggulung nasi dan isian menggunakan lembaran nori atau rumput laut kering. Isinya tidak harus berupa ikan mentah karena banyak varian yang menggunakan telur, timun, acar lobak, hingga crab stick.

Kombinasi bahan tersebut membuat biaya produksinya lebih rendah dibandingkan dengan nigiri dengan topping seafood premium. Meski sederhana, rasa yang dihasilkan tetap beragam karena setiap bahan memberikan karakter yang berbeda. Tidak heran jika sushi gulung menjadi pilihan yang cukup populer untuk makan sehari-hari.

Salah satu jenis yang sering ditemukan adalah futomaki, yaitu sushi gulung berukuran besar dengan banyak isian dalam satu potong. Ada pula ehomaki yang biasanya disantap saat perayaan Setsubun dan berisi berbagai bahan sekaligus. Karena menggunakan banyak nasi dan sayuran, sushi jenis ini terasa cukup mengenyangkan.

Dalam satu kemasan, seseorang bisa mendapatkan beberapa potong dengan harga yang relatif ramah di kantong. Sushi gulung juga menawarkan variasi rasa yang beragam tanpa harus bergantung pada bahan mahal. Itulah sebabnya makizushi sering menjadi pilihan praktis bagi banyak orang di Jepang.

4. Sushi premium tetap memiliki harga tinggi

ilustrasi otoro sushi
ilustrasi otoro sushi (commons.wikimedia.org/Zheng Zhou)

Meski ada banyak sushi murah, Jepang juga memiliki dunia sushi premium yang harganya tidak main-main. Salah satu bahan yang paling terkenal adalah otoro, yaitu bagian perut tuna sirip biru dengan kandungan lemak yang sangat tinggi. Dagingnya lembut dan hampir meleleh ketika dimakan.

Karena jumlahnya terbatas pada satu ekor tuna, bagian ini memiliki nilai yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan bagian tuna lainnya. Tidak sedikit restoran sushi kelas atas yang menjadikan otoro sebagai menu unggulan. Harga satu potong nigiri otoro bahkan bisa menyamai harga beberapa porsi sushi biasa.

Selain otoro, ada pula uni yang berasal dari bulu babi atau landak laut. Bahan ini dikenal karena teksturnya yang lembut dengan rasa gurih yang khas dan sedikit manis. Uni berkualitas tinggi biasanya berwarna cerah dan tidak berbau menyengat. Karena proses penanganannya cukup rumit dan kualitasnya mudah menurun, harganya cenderung mahal.

Bahan premium lain, seperti kepiting berbulu, abalon, atau belut laut tertentu, juga sering muncul dalam restoran sushi kelas atas. Kehadiran bahan-bahan tersebut menunjukkan bahwa tidak semua sushi bisa dianggap sebagai makanan hemat.

5. Sushi di Jepang lebih dekat dengan makanan sehari-hari

ilustrasi sushi
ilustrasi sushi (commons.wikimedia.org/Banej)

Salah satu alasan utama munculnya anggapan bahwa orang Jepang makan sushi saat bokek adalah karena makanan ini sangat mudah ditemukan. Sushi dijual di supermarket, minimarket tertentu, pusat perbelanjaan, hingga restoran kaiten-zushi yang terkenal dengan sistem ban berjalan.

Di restoran seperti ini, pelanggan bisa mengambil piring sushi sesuai selera dengan harga yang relatif terjangkau. Banyak menu yang menggunakan bahan sederhana sehingga cocok untuk makan santai tanpa mengeluarkan biaya besar. Kehadiran berbagai pilihan tersebut membuat sushi tidak selalu ditempatkan sebagai makanan spesial. Bagi sebagian warga Jepang, membeli sushi bisa sama biasa dengan membeli makan siang lainnya.

Meski begitu, posisi sushi dalam kehidupan sehari-hari tetap berbeda dengan citranya di luar Jepang. Banyak orang asing mengenal sushi melalui restoran premium atau konten kuliner yang menampilkan bahan-bahan mahal. Akibatnya, muncul kesan bahwa semua sushi pasti mewah dan mahal. Padahal, masyarakat Jepang terbiasa melihat sushi dalam berbagai bentuk, mulai dari yang sederhana hingga yang sangat eksklusif. Hal inilah yang membuat sushi dapat dinikmati oleh berbagai kalangan dengan anggaran yang berbeda-beda. Jadi, sushi di Jepang lebih tepat disebut makanan yang memiliki banyak kelas harga daripada makanan mewah semata.

Jadi, anggapan bahwa orang Jepang makan sushi saat sedang bokek tidak sepenuhnya salah. Namun, sushi yang dimaksud biasanya bukan sushi premium dengan otoro atau uni yang harganya mahal. Banyak warga Jepang memilih sushi dari supermarket, restoran terjangkau, atau varian dengan bahan sederhana yang lebih ramah di kantong. Kehadiran berbagai pilihan harga membuat sushi dapat dinikmati oleh banyak kalangan. Inilah yang membuat makanan tersebut tidak selalu dipandang sebagai hidangan mewah di negara asalnya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Naufal Al Rahman
EditorNaufal Al Rahman

Related Articles

See More